Home Feature Tesiana Mengetuk Nurani Kita

Tesiana Mengetuk Nurani Kita

Oleh Avent Saur / Pemimpin Redaksi Flores Pos

362
0
SHARE
Tesiana Mengetuk Nurani Kita

Keterangan Gambar : Agustinus Ndelos, ayah dari bayi Tesiana menggendong Tesiana.


MENDERITA PENYAKIT ganas pada usia kecil sungguh mengiris hati dan menguras akal orang tua.

Betapa tidak, hal itu menjadi arus berlawanan dengan impian setiap orangtua pada umumnya yang menghendaki buah hati yang dikandung, dilahirkan, dan dirawatnya untuk bertumbuh menjadi anak yang punya harapan cerah pada masa depan.

Begitulah yang dialami Tesiana Anur, bayi 10 bulan, di Manggarai Timur, Pulau Flores, yang menderita tumor mata.

Tumor itu menggerogoti mata dan pelipis hingga sekarang makin merambat ke pipi, telinga, dan leher, serta kepala kirinya. Keadaan itu menyebabkan Tesiana selalu meriang.

Baca juga: Tesiana Anur, Bayi Penderita Tumor Mata Butuhkan Biaya Operasi

Ditambah lagi, dari luka kecil pada tumor itu, selalu keluar darah yang tentu sangat membuat orangtuanya selalu tinggal dalam perasaan sedih dan cemas.

***

Menurut tuturan orangtua bayi Tesiana, pada usia seminggu, ada bintik kecil pada mata Tesiana.

Namun orangtua, Bapak Agustinus Ndelos dan Susantiana Abul, tak menduga bahwa itu adalah bibit tumor yang kini sudah sangat membesar.

Pada usia tiga bulan, ketika bibit tumor itu bertumbuh makin besar, orangtua Tesiana berkeluh kesah ke dukun.

Dan dukun yang diyakni sebagai orang pintar mendiagnosis derita Tesiana sebagai akibat kerja mahkluk halus.

Sebagaimana biasa, tindak lanjut dari diagnosis metode perdukunan adalah melakukan ritus adat.

Sesungguh-sungguhnya warga Kampung Mera, Desa Golo Tolang, Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur itu, melakukan ritus, hasilnya adalah nihil, bahkan sia-sia: membuang pikiran, membuat perasaan, dan membuat energi, serta dana.

Bukannya orangtua Tesiana tidak membawanya ke fasilitas kesehatan. Kurang lebih, pada tiga puskesmas termasuk pada RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, bayi Tesiana diperiksa dan didiagnosis secara medis.

Bahkan keluar-masuk fasilitas kesehatan adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh orangtua Tesiana selama kurang lebih 10 bulan terakhir. Namun kondisinya tak sedikit pun berubah ke arah yang baik.

***

Beberapa kali dokter dan perawat di puskesmas menyarankan orangtua dari Tesiana agar berobat di rumah sakit. Namun dana adalah penghalang segala-galanya.

Pekerjaan Agustinus Ndelos yang hanya mengojek tentu sangat tak mampu merawat anak kesayangan mereka di fasilitas rumah sakit.

“Saya kerja sebagai tukang ojek. Setiap bulan hanya bisa hasilkan 600 ribu rupiah. Pada masa pandemi covid-19, saya tidak ada penghasilan sama sekali,” tutur Bapak Agustinus.

Bagai merindukan air hujan tanpa mendung di pegunungan, demikianlah kerinduan orangtua Tesiana akan mukjizat untuk kesembuhan.

Namun bagi orang beriman yang terus merindu dan berupaya, Tesiana mendapat perhatian dari banyak pihak.

Adalah media massa bersama relawan mendengarkan rintihan orangtua Tesiana, kemudian memperdengarkannya kepada khalayak masyarakat serta pemerintah.

Betapa diharapkan, kita semua menaruh kepedulian dan melakukan kepedulian itu buat perawatan bayi Tesiana di fasilitas kesehatan.

***

Selain media massa bersama para relawan, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai Timur turut menolong bayi Tesiana. Tesiana pun diantar dan dirawat di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, mulai 16 Juli 2020 hingga kini.

Sekalipun kecil, bantuan kini berdatangan. Yang terbaru adalah donasi dari Yayasan Ani Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Perawatan di rumah sakit barulah awal dari sebuah perjuangan panjang buat pulihnya kondisi kesehatan Tesiana.

Karena itu, bantuan doa dan bantuan nyata berupa dana dari pelbagai pihak masih sangat dibutuhkan hingga kini. Tesiana dalam diam deritanya mengetuk nurani kita semua.*


Donasi bisa juga lewat Kitabisa.com (klik)