Home Ende Tuai Kritik, Dinas PUPR dan Rekanan Copot Patung Baru Marilonga

Tuai Kritik, Dinas PUPR dan Rekanan Copot Patung Baru Marilonga

720
0
SHARE
Tuai Kritik, Dinas PUPR dan Rekanan Copot Patung Baru Marilonga

Keterangan Gambar : Patung Marilonga (kiri) buatan tahun 1980-an yang pada tahun 2019 dicopot untuk selanjutnya digantikan dengan patung baru (tengah) yang sontak mendapat penolakan publik Ende. Sedangkan gambar lainnya (kanan) adalah warga Ende yang mengkritik Pemda Ende dengan aksi pose berdiri di penyangga patung baru yang dicopot, Senin (6/1/2020) malam.

Ende, Flores Pos —Pembangunan patung pahlawan lokal Babo Marilonga oleh Pemerintah Kabupaten Ende untuk penataan taman dalam kota pada akhir tahun 2019 lalu mendapat sorotan dari publik Ende.

Kehadiran patung baru yang menggantikan patung lama yang dibangun pada tahun 1980-an menuai kontroversi publik karena ukurannya kecil dan tidak mencerminkan Babo Marilonga.

Baca juga: Kata Bupati Djafar, Mutasi Bukan karena Politik

Setelah menuai kontroversi pada beberapa hari terakhir, Dinas PUPR dan pihak rekanan CV Elisa Jaya akhirnya mencopot patung Babo Marilonga pada Senin (6/1) malam, yang beberapa sebelumnya sudah terpasang gagah di taman patung Wolowona.

Anggaran Rp250.000 Juta

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Ende melalui Kepala Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan, Sinta Sare, kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (7/1/2020), mengatakan bahwa pada tahun anggaran 2019 kemarin Dinas PUPR mengalokasikan anggaran sebesar Rp250 juta untuk pembuatan patung Babo Marilonga dan Baranuri. Pemenang tender pembangunan pembuatan patung ini yakni CV Elisa Jaya.

Setelah dibuat dan dipasang kembali pada tempat semula, patung baru Babo Marilonga tersebut mendapatkan penolakan publik karena berukuran kecil. Publik menolak pemasangan patung tersebut juga karena tidak menggambarkan pribadi Marilonga yang publik Ende kenal.

Baca juga: Keluarga Berharap Hasil Autopsi Tidak Dibelokkan

Menurut Sinta, Dinas PUPR dan rekanan bersepakat untuk menurunkan patung tersebut. Dinas PUPR juga belum menerima patung itu karena berukuran kecil dan meminta rekanan untuk mencopotnya.

"Patung itu diturunkan atau dibongkar lagi dari penyangganya karena menuai kontroversi publik Ende. Ukuran patung sangat kecil,” katanya.

Menurutnya, tampilan patung Babo Marilonga itu sudah berdasarkan kesepakatan dengan keturunan Babo Marilonga generasi ke-4 dan ke-5.

Soal ukuran, lanjut Sare, itu karena ada miskomunikasi antara rekanan dan Dinas PUPR. “Kita minta untuk bongkar. Anggaran untuk pembuatan patung itu juga belum dicairkan," katanya.

Persetujuan Keluarga

Sinta Sare juga mengatakan bahwa berdasarkan cerita dari keturunan langsung Babo Marilonga, penampilan Babo Marilonga yang menggunakan parang, anak panah, dan busur itu mencerminkan keseharian Babo Marilonga. Berdasarkan pertemuan bersama keluarga dan Dinas PUPR serta rekanan pada September 2019 lalu, pihak keluarga menyepakati tampilan seperti itu.

"Tampilan seperti ini atas keinginan dan persetujuan keluarga karena menggambarkan keseharian Babo Marilonga. Pembongkaran patung lama juga atas persetujuan keluarga,” tuturnya.

Sebelum bangun patung baru itu, lanjutnya, juga sudah disetujui oleh keluarga Marilonga. Namun ukurannya kecil dan tidak sesuai dengan skala ruang di taman itu. “Itulah sebabnya publik tolak. Kita sudah minta rekanan untuk turunkan patung tersebut," katanya.

Tidak Mencerminkan Marilonga

Anggota DPRD Ende, Agus Pake, mengatakan, pembangunan atau pembuatan patung baru Babo Marilonga itu tidak mencerminkan pahlawan lokal Babo Marilonga yang sesungguhnya.

Patung baru itu, lanjutnya, berukuran kecil dan tidak memiliki nilai filosofis dan nilai estetis. Pemerintah mesti menggantikannya dan membuat patung berukuran besar atau berukuran seperti patung lama.

“Pemerintah mesti menghadirkan patung baru yang sesuai dengan karakter dari pahlawan lokal Babo Marilonga,” katanya.

Baca juga: Tiga Kali Mangkir, Tersangka Kasus Mark Up di Kantor Pos Ende Akan Dipanggil Paksa

Menurut Pake, seruan penolakan publik atas patung baru tersebut wajar karena patung baru itu terkesan dibuat asal-asalan dan tidak mencerminkan Babo Marilonga.

“Patung baru yang dibuat dengan pewarnaan tidak jelas itu tidak memiliki nilai estetis. Pemerintah mesti bongkar dan membuat patung baru yang berukuran lebih besar,” katanya.

Pantauan Flores Pos dalam beberapa hari terakhir di media sosial setelah pemasangan patung baru Babo Marilonga di Wolowona, warga Ende ramai-ramai memberikan komentar pedas terhadap adanya patung baru Babo Marilonga yang dianggap tidak mencerminkan kepribadiannya.

Patung berukuran kecil itu menjadi topik hangat warga media sosial. Warga Ende menilai bahwa pembuatan patung baru tersebut hanya sebagai bentuk penghinaan karena ukurannya kecil dan bahkan ada yang memberikan komentar bahwa itu bukan patung melainkan boneka.

Penulis: Willy Aran
Editor: Avent Saur