Home Ngada Tujuh Bulan Terpasung, Pemuda Riung Dibebaskan pada Tahun Baru 2020

Tujuh Bulan Terpasung, Pemuda Riung Dibebaskan pada Tahun Baru 2020

286
0
SHARE
Tujuh Bulan Terpasung, Pemuda Riung Dibebaskan pada Tahun Baru 2020

Keterangan Gambar : Pendiri dan Ketua Kelompok Kasih Insanis Provinsi NTT, Pater Avent Saur SVD, memasas kaki Johni Dua, usai dilepaskan dari pasungan, di rumahnya, Kampung Welas, Desa Denatana, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Rabu (1/1/2020).

 

Bajawa, Flores Pos — Seorang pemuda di wilayah Riung tepatnya di Kampung Welas, Desa Denatana, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, dibebaskan dari pasungan pada Rabu (1/1/2020) siang. Pemuda bernama Johni Dua (31) tersebut dipasung oleh keluarganya pada Mei 2019 karena menderita gangguan jiwa dengan perilaku yang agresif.

Johni mengalami pemulihan setelah mengonsumsi obat sejak Mei 2019. Obat tersebut diberikan oleh sukarelawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang dengan Gangguan Jiwa Provinsi NTT yang berpusat di Ende.

Baca juga: Bupati Roby Idong Berkomitmen Sikka Bebas Pasung Tahun 2020

Hadir dalam pembongkaran pasung tersebut, para sukarelawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende (Maria Gabriel, Irma Sinuor, dan Roy), Pastor Rekan Paroki Wangka Romo Gerardus Janga, keluarga, dan masyarakat Kampung Welas.

Jangan ke Dukun dan Pendoa

Yohanes Mbara Galing, keluarga dari korban pasung, mengatakan bahwa dalam mengatasi gangguan jiwa yang dialami oleh Johni, keluarga telah mencari pelbagai soluasi, antara lain mendatangi dan mendatangkan dukun dan pendoa dari dan di pelbagai daerah di wilayah Pulau Flores, tetapi Johni tak kunjung pulih. Keluarga malah telah mengeluarkan sekian banyak uang demi pemulihannya.

“Yang kami tahu gangguan jiwa itu karena kemasukan roh jahat atau penyebab lain yang kurang masuk di akal sehat. Kami pun cari dukun dan pendoa,” katanya.

Baca juga: Pelayanan Kesehatan Jiwa di NTT Belum Memadai

Setelah mendapat pelayanan medis dari sukarelawan KKI, lanjut Mbara Galing, Saudara Johni mengalami perubahan yang signifikan. Keadaannya makin membaik hingga kini pulih seperti sedia kala.

“Kami baru tahu gangguan jiwa itu masalah medis yang bisa diobati oleh petugas kesehatan. Untuk keluarga lain yang ada penderita gangguan jiwa, jangan ke dukun dan pendoa,” tuturnya.

Menurut Mbara Galing, ada sekian banyak penderita gangguan jiwa di Kabupaten Ngada, dan tidak mendapat layanan kesehatan jiwa. Pemerintah tampak kurang peduli terhadap rakyatnya yang menderita sakit jiwa.

Karena itu, Galing berharap Pemerintah Kabupaten Ngada khususnya Dinas Kesehatan Ngada sesegera mungkin menyediakan layanan kesehatan jiwa buat warganya.

“Di wilayah lain di Pulau Flores sudah sediakan layanan medis, kenapa Kabupaten Ngada tidak lakukan hal yang sama? Jangan biarkan saudara-saudari kami yang menderita gangguan jiwa tidak terlayani dengan medis. Mestinya pemerintah segera lakukan layanan itu,” katanya.

Ratusan Penderita

Sukarelawan KKI Provinsi NTT, Irma Sinuor, mengatakan bahwa di Kabupaten Ngada ada ratusan penderita gangguan jiwa. Semuanya belum mendapat layanan medis dari pemerintah.

Secara sukarela, kata Irma, KKI menjangkau pelosok-pelosok di Ngada untuk mengunjungi dan memberikan layanan medis. Dengan layanan tersebut, diharapkan para pasien lekas mengalami perubahan atas kondisinya.

“Kami sudah lepaskan beberapa penderita dari pasungan. Beberapa pasien sudah pulih,” tuturnya.

Baca juga: 600-an Orang, Jumlah Penderita Gangguan Jiwa di Kabupaten Sikka

Irma juga mengatakan bahwa gangguan jiwa adalah masalah pada fungsi otak. Fungsi otak yang bermasalah akan berpengaruh pada perilaku dan pikiran serta perasaan penderita. Masalah itu akan teratasi dengan cara rutin minum obat, bukan dengan praktik perdukunan dan pendoaan.

“Kita orang beriman harus berdoa, tetapi doa bukanlah solusi instan untuk atasi masalah kesehatan. Tuhan menolong orang sakit melalui upaya medis. Jangan ikuti saja arus sosial yang selalu mendatangi dan mendatangkan dukun dan pendoa saat anggota keluarga kita menderita gangguan jiwa,” katanya.

Irma berharap Pemerintah Kabupaten Ngada segera menyediakan layanan kesehatan jiwa di fasilitas-fasilitas kesehatan dasar seperti puskesmas-puskesmas agar penderita gangguan jiwa lekas mendapat layanan medis.

“Saya dengar, November 2019 kemarin, para dokter dan perawat di Ngada sudah ikuti pelatihan kesehatan jiwa. Kita berharap pada tahun 2020, layanan kesehatan jiwa sudah dimulai,” katanya.

Penulis: Avent Saur
Editor: Martinus Jemarut