Home Nagekeo Uang Kompensasi Belum Dilunasi, Pemilik Lahan Tanam Pohon Pisang di Halaman SMAN 2 Boawae

Uang Kompensasi Belum Dilunasi, Pemilik Lahan Tanam Pohon Pisang di Halaman SMAN 2 Boawae

Penulis: Risa Roga / Editor: Avent Saur

434
0
SHARE
Uang Kompensasi Belum Dilunasi, Pemilik Lahan Tanam Pohon Pisang di Halaman SMAN 2 Boawae

Mbay, Flores Pos — Dua dari tiga pemilik lahan SMAN 2 Boawae di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Yohanes Silvester Busa dan Kanisius Nuga Laga menanam pohon pisang di area SMAN 2 Boawae.

Penanaman pohon pisang tersebut sebagai bentuk protes terhadap pihak sekolah sebab uang kompensasi lahan milik mereka yang menjadi lokasi pembangunan SMAN 2 Boawae belum lunas dibayar.

Yohanes Silvester Busa pada Sabtu (11/7/2020), mengatakan, dirinya menanam pohon pisang di lahan sekolah sebagai bentuk pernyataan bahwa dirinya tidak mengizinkan kelanjutan pembangunan pada lahan tersebut.

“Sebelum sisa uang dibayar, saya tidak akan izinkan kelanjutan pembangunan tersebut,” katanya.

Yohanes menjelaskan bahwa dirinya telah merelakan tanahnya dinilai dengan harga jauh lebih murah daripada harga pasaran.

"Saya relakan tanah saya dinilai Rp50.000 per meter persegi demi pembangunan sekolah. Sesuai kesepakatan, kompensasi lahan akan dibayar dengan dana komite," jelasnya.

Menurut Yohanes, saat ini pihaknya merasa tidak berdaya sebab uang komite tersebut dikelola oleh pihak sekolah. Dana kompensasi atas lahannya baru dibayar Rp30 juta pada tahun 2019, dari total Rp400 juta lebih.

Karena itu, pihaknya meminta kepada pihak komite sekolah agar segera melunaskan dana lahan tersebut.

“Komite tidak memiliki uang. Uang dikelola oleh pihak sekolah," tuturnya.

Yohanes juga mengatakan, dirinya terkejut saat mengetahui bahwa Kepala Sekolah SMAN 2 Boawae secara sepihak telah menggantikan pengurus komite sekolah.

"Sekarang kami harus mengadu kepada siapa jika pihak komite yang membuat perjanjian dengan kami tentang pembayaran uang kompensasi telah diganti,” katanya kecewa.

Pemilik Lahan Tuntut Hak

Hal yang sama disampaikan oleh Kanisius Nuga Laga. Kanisius mengatakan, dari total Rp150 juta dana kompensasi lahan miliknya, dirinya baru menerima Rp40 juta pada tahun 2019.

"Saat saya minta kepada komite sekolah, komite katakan tidak punya uang sebab uang komite dibayar langsung oleh siswa kepada pihak sekolah. Uang ada di pihak sekolah," ungkapnya.

Menurut Kanisius, para pengurus komite sekolah telah diganti oleh kepala sekolah. Karena itu, dirinya kebingungan hendak meminta haknya kepada siapa.

"Sejujurnya saya relakan tanah saya dinilai dengan harga murah sebab saya hormati para tokoh masyarakat yang perjuangkan pembangunan SMAN 2 Boawae. Pada rapat pleno awal yang dihadiri panitia persiapan dan masyarakat, telah disepakati bahwa uang kompensasi lahan akan dibayar dengan dana komite sekolah. Masyarakat sanggup membayar uang komite Rp1.625.000, dengan perincian Rp1.000.000 untuk keperluan sekolah dan Rp625.000 untuk cicil kompensasi lahan," ungkapnya.

Kanisius menilai bahwa pihak sekolah tidak memiliki iktikad baik terkait pembayaran kompensasi lahan.

“Saat saya minta hak saya kepada ketua komite dan panitia persiapan, ternyata uang ada di pihak sekolah. Malah pengurus komite termasuk bendahara komite telah diganti semuanya oleh kepala sekolah. Kalau begini, kami mau tuntut hak kami kepada siapa?” katanya.

Kanisius bersikeras tidak akan mengizinkan pembangunan jika kompensasi belum dilunasi.

“Saya hanya akan izinkan pembangunan jika hak saya telah saya terima,” tegasnya.

Komite Tertekan

Sementara itu, Mantan Ketua Komite SMAN 2 Boawae, Hendrikus Tage, mengatakan bahwa pihaknya merasa tertekan sebab para pemilik lahan belum menerima haknya secara utuh.

“Sejujurnya kami tertekan sebab para pemilik lahan meminta haknya kepada kami. Sesuai kesepakatan awal, kompensasi untuk lahan memang akan dibayar dengan uang komite sekolah," ungkapnya.

Namun, lanjut Hendrikus, uang komite yang dibayar oleh siswa kepada pihak sekolah, selanjutnya pengelolaan uang tersebut tidak diketahui oleh komite.

"Kami telah temui kepala sekolah pada 6 Juni 2020 untuk minta uang komite. Sesuai kesepakatan awal jumlahnya Rp625.000 per siswa per tahun untuk bayar kompensasi lahan. Kepala sekolah hanya katakan uang itu ada di bank, tanpa berikan penjelasan lebih lanjut," katanya.

Lebih lanjut, tambah Hendrikus, kepala sekolah mengatakan bahwa dirinya dan anggota komite bukan lagi pengurus komite sebab pengurus komite telah diganti.

Hendrikus menilai hal ini sangat janggal sebab sesuai amanat Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, anggota komite sekolah harus dipilih secara akuntabel dan demokratis melalui rapat orangtua/wali siswa.

“Kenyataannya, tidak pernah ada rapat untuk hal tersebut. Saya berharap agar kompensasi lahan dapat segera dilunasi,” tuturnya.

Saat ini, katanya, pemilik lahan telah menanam pohon pisang di sebagian lahan sekolah. Sedianya pada tempat tersebut, pihak sekolah akan bangun laboratorium kimia dengan anggaran DAK Rp370.000.000.

“Jika kita gagal mengeksekusi anggaran tersebut, sekolah akan di-blacklist. Sekolah tidak bisa lagi terima bantuan. Kerugiannya paling besar ada pada pihak peserta didik," sesalnya.

"Ada 301 siswa yang bayar uang komite. Jika memang uang ada di bank, silakan dicairkan untuk bayar hak pemilik lahan dan agar pembangunan di sekolah berjalan baik tanpa sendat," harapnya.

Sekolah Menilai Hibah Murni

Kepala Sekolah SMAN 2 Boawae, Siprianus Laki Tay, saat dikonfirmasi Flores Pos tentang hal tersebut mengatakan, aktivitas di sekolah tersebut berjalan seperti biasa.

"Saat ini kami tetap laksanakan aktivitas harian sekolah pada umumnya seperti biasa. Tidak ada pemagaran," katanya.

Siprianus juga mengatakan, lahan sekolah seluas 2 hektare tersebut telah dihibahkan secara murni oleh tuan tanah.

Terkait keberadaan uang komite sekolah Rp625.000 per anak per tahun yang seharusnya diperuntukkan mencicil uang kompensasi lahan, Siprianus tidak memberikan penjelasan.

“Maaf, Ibu sebagai orang media atau sebagai penyidik?” tutupnya.*