Home Opini Ubi Amor Ibi Dolor (Untuk Para Petugas Medis di NTT)

Ubi Amor Ibi Dolor (Untuk Para Petugas Medis di NTT)

Penulis: Isidorus Lilijawa / Warga Liliba, Kota Kupang

125
0
SHARE
Ubi Amor Ibi Dolor (Untuk Para Petugas Medis di NTT)

Keterangan Gambar : Kampanye Media Lawan Covid-19.

"Jangan menganggap para perawat dan tenaga medis yang protes dan mengeluh itu baper. Bukan. Mereka sedang memperjuangkan hak hidup mereka. Jangan mengukur pengorbanan mereka dari insentif covid yang mereka terima. Itu keterlaluan. Insentif pun tidak bisa membeli nyawa," - Isidorus Lilijawa.


Tanggal 15 April 2020 lalu, sejumlah perawat di RSU Atambua menyampaikan tuntutan kepada manajemen RSU agar mereka diberikan APD yang standar dalam pelayanan mereka terhadap pasien PDP corona. Di TTU, manajemen RSU menjerit kekurangan APD (PK, 20/4/2020). Dengan terus bertambahnya penyebaran corona, korban pun berjatuhan di kalangan dokter dan perawat. Hingga 12 April 2020, Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi (FSP FARKES/R) mencatat, 44 tenaga medis meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona, 32 dokter dan 12 perawat. Belum lagi kabar 46 tenaga medis di RSUP Kariadi Semarang positif terinfeksi corona. Berbagai berita dan data ini menegaskan bahwa mereka yang publik baptis sebagai “pejuang di garda terdepan” itu bukan malaikat. Mereka manusia seperti kita yang sangat rentan terhadap penularan corona jika tidak dibekali dengan APD yang maksimal dan standar.


 

Pengorbanan

Ubi amor, ibi dolor (di mana ada cinta, di situ ada duka, sakit). Ketika covid-19 mewabah, pemerintah mengimbau masyarakat untuk stay at home, hindari kerumunan, work from home, social and physical distancing. Itu tidak berlaku bagi para medis. Mereka terus bekerja, bahkan harus berkontak dan tidak berjarak dengan pasien corona, entah PDP maupun yang positif. Mereka tidak mengambil jarak karena pelayanan mereka tidak berjarak. Mereka tidak saja hadir dalam raganya, tetapi hati dan jiwanya. Itulah inti pengorbanan mereka.

Baca juga: Orang-orang Kampung di Antara Pertarungan Kelompok Pro vs Kontra Tambang

Mereka adalah orang pertama yang menghadapi pasien di rumah sakit. Mereka adalah orang pertama yang menyentuh pasien saat pemeriksaan. Dokter, perawat, tenaga medis di rumah sakit harus tetap siap siaga, mengawasi, merawat pasien. Ketika mereka harus menghadapi pasien positif corona di ruang isolasi setiap hari, mereka harus mengenakan APD yang lengkap agar tidak tertular. Itu kalau mereka mendapatkan APD yang memadai dari rumah sakit mereka bekerja. Kalau tidak pun, mereka tetap bekerja walau dengan APD yang apa adanya. Bahkan ada yang berinisiatif membuat APD sekadar untuk melahirkan kepercayaan diri saat melayani pasien, walaupun itu tak memberi ruang kompromi untuk virus. Kisah pilu, sedih, berjuang, berkorban pun muncul. Mereka dokter, perawat, tenaga medis juga punya keluarga di rumah. Mereka rela tidak pulang, karena takut keluarga tertular.

Seorang sahabat saya yang adalah perawat di ruang isolasi pasien covid-19 berkisah bahwa sudah beberapa saat ia tidak kembali ke rumah bertemu keluarga. Jika kembali pun selalu ada perasaan was-was karena ada kecemasan orang-orang di rumah tertular virus. Ia menuturkan ini tanpa ada air mata. Tetapi, saya menduga ia menangis hebat dalam hatinya. Ia tidak bisa memilih yang satu dan menolak yang lain. Tidak bisa memilih untuk di rumah saja dan tidak mau melayani pasien. Ia memilih keduanya. Tetap berada di ruangn isolasi dan jauh dari keluarga. Berapa bayaran yang ia peroleh? Tidak. Bukan soal itu. Cinta menuntut pengorbanan. Itu tak butuh bayaran. Mereka cukup dengan haknya saja. Asalkan didukung dengan sepenuh hati dan dengan fasilitas pelayanan yang memadai. Itu saja.

Maka bisa kita bayangkan bagaimana suasana batin dan perasaan para medis ini ketika mereka berada dalam situasi semacam ini. Tanggung jawab profesi dan panggilan jiwa menuntut serta menuntun mereka untuk melayani pasien, termasuk pasien Covid-19. Tetapi, kehadiran mereka sebagai bapak, mama untuk anak-anak dan keluarga di rumah menggugat mereka. Apakah harus mengambil jarak atau tak berjarak dengan pasien? Mereka memilik yang kedua, tak berjarak. Inilah pengorbanan mereka. Cinta melahirkan pengorbanan dan pengorbanan bisa berujung duka atau sakit. Suatu jalan yang tidak dimengerti banyak orang.

Baca juga: Dampak Covid-19 bagi Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan di NTT

Ibarat Perang

Upaya kita melawan virus corona ini ibarat suatu peperangan. Ini memang sulit karena kita harus berperang dengan musuh yang tidak kelihatan tetapi ada di dekat kita, bisa datang di rumah kita, di tetangga, di jalanan, di kerumunan banyak orang. Bagaimana mau menangkan perang jika persenjataan dan amunisi kita apa adanya? Kalau mereka yang kita sebut pejuang di garda terdepan itu tidak dipersenjatai secara maksimal, maka tidak heran merekalah yang menjadi korban, sebelum kemudian menular ke mana-mana dengan mudah.

Atas ilustrasi perang ini, saya bisa mengerti mengapa para medis di Atambua menuntut manajemen RSU segera berikan mereka APD. Mengapa manajemen RSU di TTU berteriak mereka butuh APD. Saya akhirnya paham, mengapa 44 dokter dan perawat kita meninggal dunia serta 46 tenaga medis terpapar positif corona. Mempersenjatai diri itu penting sebelum berperang. Bagaimana mungkin kita minta mereka bertarung di garda terdepan dengan harapan menang sementara persenjataan mereka tidak canggih, tidak berbobot dan qualified?

Kecemasan, kegalauan, dan mungkin juga pemberontakan para medis yang berada di ruang isolasi, di posko covid, di sal-sal perawatan pasien itu terjadi karena mereka tahu nyawa itu tidak ada cadangannya. Rumah sakit yang mereka abdi pun tidak memproduksi nyawa cadangan di laboratoriumnya. Tidak juga dijual di apotik. Karena nyawa itu hanya satu maka mereka wajib menjaga dan melindunginya. Jadi jangan menganggap para perawat dan tenaga medis yang protes, yang mengeluh, yang memberontak itu baper. Bukan. Mereka sedang memperjuangkan hak hidupnya. Jangan mengukur pengorbanan mereka dari insentif covid yang mereka terima. Itu keterlaluan. Insentif pun tidak bisa membeli nyawa.

Mereka tidak butuh dipuja-puji. Sebenarnya mereka juga tidak suka disebut-sebut pejuang di garda terdepan. Terminologi ini kadang hanya jadi lips service penguasa dan manajemen rumah sakit. Seolah-olah urusan selesai ketika mereka disebut sebagai pejuang di garda terdepan. Yang mereka butuh dukungan dan perhatian sepenuh hati. Berilah mereka APD yang standar. Jangan berikan mereka APD sisa-sisa wabah SARS yang lama tertumpuk di gudang. Berilah mereka asupan makanan dan minuman yang cukup, bukan madu yang sebotol berempat atau vitamin satu dua strip. Kadang-kadang pihak manajemen itu menggampangkan persoalan. Mereka pikir insentif itulah yang dikejar para medis di ruang isolasi. Ingat! Petuga medis itu bukan malaikat. Mereka manusia biasa yang rapuh dan bisa sakit. Jangan bikin mereka mati konyol hanya gara-gara modal masker periksa pasien covid atau modal APD apa adanya merawat pasien covid. Jika itu yang terjadi, maka terkutuklah yang mengelola urusan-urusan ini karena mereka menciptakan peluang tenaga medis tertular virus.

Apa yang dibuat?

Kita berharap pemerintah serius memperhatikan keselamatan petugas kesehatan yang menangani pandemi corona dengan menyediakan APD yang memenuhi standar dengan jumlah yang mencukupi. Kita mendesak pemerintah untuk meningkatkan semua sarana dan prasarana kesehatan guna mencegah bertambahnya jumlah korban virus corona. Sebab, rumah sakit rujukan masih minim fasilitas dan kurangnya APD yang dibutuhkan tenaga medis.

Untuk daerah-daerah yang sudah mengalokasikan anggaran penanganan Covid, segera eksekusi dana itu dengan prioritas utama pengadaan APD untuk petugas medis bukan untuk pihak-pihak lain. Jangan membiarkan nyawa petugas medis terancam karena rantai birokrasi dan urusan tetek-bengek pengadaan yang berbelit. Ini bencana kemanusiaan. Jadi pakailah pola pikir manajemen krisis, bukan pola pikir manajemen birokrasi as usual yang cenderung berbelit dan terputar. Kalau kita rela sebut mereka pejuang di garda terdepan, maka mereka harus menjadi terdepan dalam fasilitas pelayanan termasuk APD. Jangan indah di orasinya, tetapi prihatin di aksinya.

Masih seputar anggaran, semoga tidak ada tikus-tikus yang menggerogoti dana bencana kemanusiaan ini. Jangan ada orang yang menari di atas penderitaan, kecemasan dan duka para petugas medis. Mereka melayani karena panggilan dan cinta. Bahkan cinta hingga terluka. Jangan lagi kita membuat luka mereka teriris perih. Saatnya kita mendukung pelayanan mereka. Kita berikan perhatian dan energi positif bagi mereka. Kita stay at home, kita menjaga jarak sosial dan fisik, selalu gunakan masker, jaga kebersihan dan biarkan mereka bekerja untuk kita dari rumah sakit, dari posko-posko covid dan ruang-ruang isolasi. Selamat melayani wahai pejuang-pejuang di garda terdepan untuk NTT sehat, Indonesia jaya!*