Home Sikka Uskup Edwaldus Berkati Kapel Susteran Putri-Putri Santo Fransiskus de Sales Maumere

Uskup Edwaldus Berkati Kapel Susteran Putri-Putri Santo Fransiskus de Sales Maumere

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

466
0
SHARE
Uskup Edwaldus Berkati Kapel Susteran Putri-Putri Santo Fransiskus de Sales Maumere

Keterangan Gambar : Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu mereciki Kapela Don Carlo Cavina Suster Puteri-Puteri Santo Fransiskus de Sales (DSFS), Jalan KS Tubun Maumere, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Sabtu (29/8/2020).


Maumere, Flores Pos — Uskup Keuskupan Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Sabtu (29/8/2020), memberkati Kapel Don Carlo Cavina Kongregasi Daugthers of Saint Francis de Sales (SDSF) atau Suster Putri-Putri Santo Fransiskus de Sales, Jalan KS Tubun Maumere, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Pemberkatan kapel ini dipadukan dalam perayaan ekaristi dan peringatan hari ulang tahun ke-200 Pendiri Kongregasi DSFS Don Carlo Cavina. Hadir pada misa pemberkatan kapel tersebut, Pastor Paroki Santo Thomas Morus Maumere Romo Laurens Noi, Pater Donato Lovito CSS, Pater Anand Prasad MSFS, Pater Pat Golis Barnabite, dan Diakon Lukas E. Beo SVD.

Disaksikan media ini, Uskup pada kesempatan ini mereciki kapel, altar, patung, dan semua peralatan liturgi di dalam kapela tersebut dengan air berkat, dan menandatangani prasasti 200 tahun pendiri Kongregasi DSFS Don Carlo Cavina. Semua nyanyian atau kor saat pemberkatan dan misa pada acara ini ditanggung oleh umat KBG Santo Antonius Padua.

Hadir dalam rangkaian acara ini, di antaranya Pemimpin Susteran Kongregasi Putri-Putri Santo Fransiskus de Sales Maumere, Suster Rutchene Magdaong Cabugos DSFS, dan anggota komunitas Suster Emily Calixto DSFS, Suster Bernadetha Badhe DSFS, Suster Agustina Hoar DSFS, dan Suster Maria K. Taek DSFS.

Baca juga: Hasil Rapid Test Siswa dan Guru SMPK Watukrus Bola Dinyatakan Nonreaktif

Sementara dari tokoh masyarakat yang hadir di antaranya sesepuh yang juga Mantan Bupati Kabupaten Sikka Daniel Woda Palle dan Ibu, Direktur RS Lela dr. Ignasius Henyo Kerong dan Ibu, umat KBG Santo Antonius Padua, dan sejumlah elemen warga lainnya.

Di Mana Salib Menyentuh, Kehidupan Bersemi

Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu dalam khotbahnya dengan tema “Di Mana Salib Menyentuh, Kehidupan pun Bersemi” yang dikutip dari kata-kata pendiri Kongregasi ini, Don Carlo Cavina-Hamba Allah serta terinspirasi oleh kehidupan Yohanes Pembaptis yang kepalanya dipenggal untuk sebuah napsu kekuasaan duniawi (Markus 6:17-29).

Uskup menggarisbawahi bahwa “Di mana Salib Menyentuh, Kehidupan pun Bersemi, demikian pengurbanan siapa pun, disatukan dengan misteri salib Tuhan.

Menurut Uskup, ketulusan dan kebaikan tidak pernah kalah. Uskup menyebut Nabi Yeremia dan Yohanes Pembaptis hadir sebagai perlawanan keras pada kebusukan kehidupan yang dipertahankan dan dibenarkan, hanya karena hawa nafsu dan angkara benci yang dangkal.

Menurut Uskup, berkurban dalam hal yang sederhana dan paling kecil, mesti dilahirkan dalam pikiran, hati dan perbuatan, yang sudah harus kita olah dan kita perjuangkan dalam keseharian kita.

Baca juga: Satgas Covid-19: Siswa SMPK Watukrus Bola Menginap di Rumah Pasien Positif Covid-19 Nagekeo

Uskup Edwaldus pada kesempatan ini mengutip kata-kata Fransiskus dari Sales yang meneguhkan iman “Segala sesuatu karena cinta, bukan karena paksaan.”

“Sebuah peneguhan pada jati diri kebiaraan kita, betapa cinta Allah harus mendorong dan memampukan kita untuk menjadi anggota tarekat yang setia, tulus dan bersikap penuh pengurbanan. Hal ini yang mewarnai seluruh kehidupan Don Carlo Cavina, yang kita kenangkan 200 tahun kehadirannya, sebagai penghormatan padanya sebagai pendiri biara kita,” kata Uskup Edwaldus.

Uskup Edwaldus menggaribawahi bahwa Yohanes Pembaptis melakukan pengurbanan dalam cinta, dan kematian bukanlah ketakutan baginya.

“Sanggupkah para biarawati sekalian menghayati misteri kemartiran ini dan membawa karunia dan karisma kebiaraan Cavina dan Fransiskus dari Sales, ataukah kita menjadi begitu terasing dari kehidupan iman kristiani?” tanya Uskup.

Pemberkatan kapela ini, lanjut Uskup, pun menantang kita, untuk membangun kehidupan doa, dan memurnikan seluruh kerapuhan dan kelemahan kita, sebagai alat di tangan Tuhan untuk sebuah karya besar dan ajaib dalam nama Yesus.

Baca juga: Kemenaker RI Mengapresiasi Tiga Film Pendek yang Diproduksi BLK Seminari BSB Maumere

“Ada godaan yang terus menerus datang, untuk merayu kita menjadi orang-orang mapan dan nyaman, karena hidup yang sudah tersedia dan sudah terjamin dengan sangat baik. Namun teladan Yohanes Pembaptis harus bisa membawa kita untuk menjadi biarawati yang baik, dan melalui kapela yang akan diberkati ini, kita terus memperbaharui semangat hidup kita sebagai mempelai Yesus Kristus sendiri,” kata Uskup.

“Semoga Tuhan memberkati hati kita sekalian, agar kita tetap berjalan bersama Yesus, sang guru sejati. Kita adalah murid-murid Yesus yang rapuh, yang seringkali jatuh dan tidak berdaya di hadapan godaan dengan macam-macam rupanya yang sangat menarik dan memesona. Murid-murid Yesus yang terkasih, tetap harus mengandalkan kasih setiaNya dalam setiap pergumulan hidup kita, seperti ketika di kayu salib Tuhan mempersembahkan segala kekuatan cinta pada Tuhan dalam derih perih penderitaan salib. Semoga hidup kita disucikan oleh darah Kristus, sama seperti Yohanes hidup dalam keberanian Allah sendiri,” kata Uskup.

Dua Narasi Kematian Yohanes Pembaptis

Uskup Edwaldus pada kesempatan ini menggarisbawahi bahwa kisah wafatnya Yohanes Pembaptis sebagaimana ditulis dalam Injil Markus bab 6:17-29 adalah sebuah pengalaman iman betapa abdi Allah yang sejati, tidak akan menggadaikan kekuatan hidupnya pada kekuasaan yang angkuh dan tidak berperikemanusiaan.

“Abdi sejati itu juga tidak menyenangkan diri dan ikut terseret arus umum dunia, pada kesenangan dan kenikmatan yang bahkan menindas orang-orang kecil dan tidak berdaya,” kata Uskup.

Uskup menyebut dua hal penting yang bisa dipetik dari narasi kematian Yohanes pembaptis ini yakni: pertama, suara kenabian tidak akan pernah pudar, hanya karena kedekatan dan bujuk rayu kekuasaan, kekayaan dan harga diri. Penjara menjadi takdir kehidupan orang-orang yang gigih berjuang untuk kebenaran dan keadilan, karena hati seorang pemberani hanya tenang ketika suara cinta itu yang mengalahkan ketamakan dan kerasukan manusia.

Baca juga: PAPHA Maumere Gencar Mencegah Kerusakan Lingkungan di Flores

Yohanes tidak takut dipenjara karena keberaniannya, apapun risiko kesetiaannya pada suara kasih Allah. Herodes hadir dalam intrik kekuasaan yang rapuh, tidak pernah bahagia dengan corak kuasa yang haus darah dan tidak peduli pada air mata dunia. Penjara, hadir sebagai kontemplasi lebih kuat pada arti cinta Allah.

Kedua, kemartiran adalah berkurban dalam cinta, dan cinta itu dipersembahkan kembali kepada pemilik kehidupan, Allah sendiri. Berkurban itu sudah harus dimulai dari pikiran dan diungkapkan secara tegas dalam perbuatan nyata yang paling kecil dan sederhana sekalipun.

Kemartiran adalah sikap batin, yang telah dimurnikan dan disucikan oleh cinta Yesus yang tersalib. Cinta Yesus yang tersalib, itu sangat kuat hadir dalam keberanian Yohanes menerima kematiannya, karena ia berani dengan sukacita menerima kebangkitan yang lebih mulia dan agung dari sekadar hidup dunia yang penuh dengan kebusukan dan kepalsuan.

Terima Kasih

Pemimpin Susteran Kongregasi Putri-Putri Santo Fransiskus de Sales Maumere, Sr. Rutchene Magdaong Cabugos, DSFS dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu mulai dari membangun kapela hingga pemberkatannya, terutama Yang Mulia Uskup Maumere, Pastor Paroki St. Thomas Morus Maumere, Umat KBG Santo Antonius Padua, dan para donatur di antaranya sesepuh Sikka Daniel Woda Palle, dr. Ignasius Henyo Kerong, Direktur PDAM Sikka, dan para donatur lainnya.

“Dari hati yang tulus saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu menyelesaikan pembangunan kapela ini,” kata Sr. Rutchene.