Home Sikka Uskup Maumere Umumkan New Normal di Gereja Mulai 5 Juli 2020

Uskup Maumere Umumkan New Normal di Gereja Mulai 5 Juli 2020

Penulis: Wall Abulat / Editor: Avent Saur

444
0
SHARE
Uskup Maumere Umumkan New Normal di Gereja Mulai 5 Juli 2020

Keterangan Gambar : Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, bertempat di Lepo Bispu, Kamis (2/7/2020), mengumumkan penerapan new normal pada gereja-gereja di Keuskupan Maumere yang mulai berlaku sejak Minggu, 5 Juli 2020.


Maumere, Flores Pos — Uskup Keuskupan Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, menetapkan dan mengumumkan secara resmi penerapan new normal atau kenormalan baru di semua gereja-gereja di Keuskupan Maumere yang mulai berlaku pada Minggu, 5 Juli 2020.

“Sambil memperhatikan situasi konkret di wilayah Keuskupan ini, maka terhitung sejak Minggu, 5 Juli 2020, saya memutuskan untuk memulai kembali pelayanan ibadat dan sakramen di wilayah Keuskupan Maumere dengan jumlah peserta yang terbatas dan berpatok pada pedoman umum protokoler pelayanan ibadat dan sakramen pada masa new normal Keusksupan Maumere yang telah ditetapkan.”

“Jadilah pribadi yang menghargai kehidupan sendiri dan sesama dengan memperhatikan standar kesehatan yang berlaku,” kata Uskup Edwaldus dalam pengumuman resmi di hadapan para wartawan di Lepo Bispu (Rumah Uskup) Maumere, Kamis (2/7/2020).

Baca juga: 69 Rumah Ibadah di Sikka Siap Jalankan New Normal, Bupati Sikka Berikan Bantuan Fasilitas

Pada momen pengumuman tersebut, hadir Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Danlanal Maumere Kolonel Marinir Totok Nurcahyanto, Kaban Kesbangpol Servasius Sewar, Kepala BPBD Sikka Muhammad Daeng Bakir, Kabag Humans dan Protokol Setda Sikka Very Awales dan beberapa pemimpin OPD lainnya.

Uskup Edwaldus menggarisbawahi bahwa pandemi covid-19 telah menelan jutaan korban nyawa di seluruh dunia dan melumpuhkan mobilitas manusia dalam melakukan berbagai kegiatan termasuk keagamaan.

“Sejak merebaknya virus corona, kita diliputi kecemasan dan ketakutan untuk berkumpul, untuk ada bersama. Kita saling menjaga jarak, tidak salaman, tidak ada sukacita bersama. Jalan lengang, kota sepi, gereja kosong, dan dunia berduka,” kata Uskup Edwaldus.

Kini, lanjut Uskup Edwaldus, sejalan dengan gencarnya upaya penanganan virus corona oleh pemerintah yang didukung oleh semua pihak, kita memasuki masa kenormalan baru (new normal) saat di mana kita dapat kembali melakukan kegiatan harian serta kegiatan keagamaan.

Menurut Uskup Edwaldus, umat tentu bergembira karena kerinduan kita untuk bersatu hati dalam doa, ibadat, dan perayaan ekaristi kembali terwujud.

Namun, Uskup mengingatkan semua pihak agar perlu membangun kesadaran bersama untuk melakukan segala kegiatan tersebut sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku.

“Karena itu, sebagai Uskup, saya mengajak semua umat Keuskupan Maumere untuk memasuki masa kenormalan baru ini dengan penuh sukacita. Rajut kembali kebersamaan melalui doa, ibadat, dan perayaan ekaristi dalam Komunitas Gereja Katolik, sambil memperhatikan dengan serius tiga hal yakni menjaga jarak fisik, selalu mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir dan menggunakan masker di mana pun berada,” pinta Uskup Ewaldus.

Pedoman Umum Protokoler Pelayanan Ibadat

Sejalan dengan penetapan penerapan new normal di gereja mulai Minggu, 5 Juli 2020, Pusat Pastoral Keuskupan Maumere mengeluarkan beberapa pedoman umum protokoler pelayanan ibadat dan sakramen pada masa new normal di Keuskupan Maumere.

Pertama, pedoman kesiapan paroki meliputi kepastian adanya petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area gereja, melakukan pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area gereja, adakan tempat cuci tangan/sabun/hand sanitizer di pintu masuk.

Pintu keluar gereja dan di samping altar dengan jumlah yang disesuaikan dengan jumlah umat yang hadiri perayaan, kotak kolekte disiapkan di pintu masuk gereja, dan meja persembahan di samping meja kredens; tersedia alat pengecekan suhu/thermogun di pintu masuk bagi seluruh pengguna gereja.

Pembatasan jarak dengan memberikan tanda (X) khusus pada bangku/kursi dan lantai dengan jarak 1,5 meter sampai 2 meter, adanya petunjuk tentang penerapan protokol kesehatan pada lingkungan gereja dalam bentuk poster atau pamflet, jika memungkinkan menggunakan video simulasi pelaksanaan misa atau ibadat.

Kedua, hal-hal umum di antaranya para pemimpin/pelayan/petugas perayaan dipastikan sehat, tersedianya petugas gereja untuk memberi petunjuk dan arahan kepada umat selama berada di lingkungan gereja.

Jumlah umat setiap kali perayaan maksimal 30% atau disesuaikan dengan kapasitas ruangan gereja. Bayi, anak (yang belum komuni) dan orang dewasa terutama lansia yang mempunyai riwayat penyakit kronis tidak diizinkan untuk mengikuti misa di gereja.

Wajib menggunakan masker sejak keluar dari rumah, selama berlangsungnya ibadat, dan sampai pulang kembali ke rumah.

Wajib mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir selama 20 detik di tempat yang sudah disediakan, umat bisa membawa hand sanitizer sendiri.

Wajib melakukan pengecekan suhu tubuh (maksimal 37,5 derajat C). Jika ditemukan di atas 37,5 derajat C mesti dicek 2 kali dalam rentang waktu 5 menit. Jika masih tinggi dianjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Semua peralatan liturgi dan peralatan pendukung yang dipergunakan wajib dibersihkan dengan baik secara berkala. Air suci di pintu masuk gereja ditiadakan, antrian masuk dan keluar gereja dipastikan jarak antara umat 1,5 meter sampai 2 meter dan tidak ada kerumunan dan biasakan budaya antri serta langsung meninggalkan gereja setelah misa/ibadat selesai.

Umat yang Hadir Dipastikan Sehat

Dalam pedomana umum protokoler kesehatan ini juga mengatur beberapa hal terkait Perayaan Ekaristi Hari Minggu dan Hari Raya. Umat yang hadir dipastikan dalam keadaan sehat (tidak demam/batuk/pilek/sakit tenggorokan/sesak napas).

Bagi anak-anak (usia bayi sampai dengan yang belum komuni pertama) serta umat usia lanjut diimbau untuk tinggal di rumah mengikuti ibadat melalui live streaming atau radio atau ibadat sendiri.

Perayaan ekaristi dapat dilakukan berdasarkan kelompok KBG atau lingkungan guna membatasi jumlah umat yang hadir, sambil tetap memperhatikan jaga jarak 1,5 meter dan kapasitas gedung gereja.

Para biarawan-biarawati menyesuaikan diri dengan lingkungan/KBG-nya. Umat membawa perlengkapan misa/ibadat masing-masing (Kitab Suci, Madah Bakti, dan buku-buku doa lainnya).

Diharapkan untuk membuang sampah/tisu di tempat yang telah disiapkan. Masker dipakai sejak keluar dari rumah, selama berada di lingkungan gereja dan saat pulang ke rumah; tidak melakukan kontak fisik dengan umat lain seperti bersalaman atau berpelukan.

Selalu menjaga jarak dengan orang di sekitarnya, pemberkatan bagi anak-anak ditiadakan (karena anak-anak tidak diizinkan mengikuti misa).

Dalam protokoler kesehatan ini juga dicantumkan beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berlangsungnya perayaa di antaranya mempersingkat waktu pelaksanaan misa tanpa mengurangi kekhusukan, tanpa koor, hanya ada organis, solis, dan dirigen.

Lagu yang perlu disiapkan yakni pembuka, mazmur tanggapan refrein dinyanyikan ayat didaraskan, alleluia wajib dinyanyikan, kudus, komuni, dan penutup.

Lamanya khotbah maksimal 7 menit, imam berarak dari sakristi tanpa misdinar, tanpa perarakan persembahan, salam damai dilakukan hanya dengan cara membungkukkan badan; menerima komuni dengan tangan sambil tetap menjaga jarak 1 sampai 1,5 meter; imam dan akolit yang membagi komuni wajib mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir/hand sanitizer sebelum dan sesudah membagi komuni dan menggunakan masker/face shield.

Menghindari menyentuh tangan umat saat membagi komuni, imam menggunakan pakaian misa milik pribadi; pengumuman kalau sungguh dibutuhkan; komuni untuk orang sakit, dan lansia di rumah-rumah akan dilaksanakan sebulan sekali dan diatur oleh pastor paroki dan tim akolit.*