Home Internasional Warga Belanda Mengenang Pater Didakus Diwa sebagai Pribadi Sederhana dengan Senyum yang Lembut

Warga Belanda Mengenang Pater Didakus Diwa sebagai Pribadi Sederhana dengan Senyum yang Lembut

1,161
0
SHARE
Warga Belanda Mengenang Pater Didakus Diwa sebagai Pribadi Sederhana dengan Senyum yang Lembut

Keterangan Gambar : Pater Didakus Diwa SVD

Pater Didakus Diwa, seorang Pastor memiliki aura rohani dan kewibawaan tersendiri. Meksipun ia sedikit konservatif, tetapi dia adalah seorang misionaris yang berjiwa modern di usianya yang cukup uzur.

Waktu itu, kira-kira Agustus 1997, saya diajak oleh seorang teman asal Kupang yang menikah dengan pemuda Belanda untuk bergabung dengan Komunitas Indonesia-Utrecht.

Komunitas itu diberi nama Keluarga Katholiek Indonesia-Utrecht (KKI Utrecht). Gerejanya terletak di Nieuwegein, tepatnya Gereja Emmaus di Jalan Merelplein 1 Nieuwegein.

Saya terkesan pertama ketika melihat seorang Bapak, Pastor tua berpostur pendek. Ia berkulit cokelat tua, berhidung sedikit mancung, rambutnya memutih, namun belum semua putih.

Saat itu, saya menebak usianya sekitar 65 tahun, namun Ia tetap kelihatan gertak dan penuh semangat.

Dengan senyumnya yang khas dan suara merdu sedikit merayu, ia mendekati saya, menyalami dan memperkenalkan dirinya kepada saya.

Di situlah awal perkenalan kami yang kemudian berlanjut dalam hubungan kerja sama ‘gambala-domba’ atau ‘pastor -umat’ yang cukup panjang, sampai saatnya beliau pulang ke Tanah Air, Indonesia.

Ikuti Ajakan

Bukan hanya Bapak Pastor yang menyambut kedatangan saya pertama kali di Gereja Emmaus, di KKI-Utrecht. Ada juga beberapa wajah ramah para ibu dengan banyak tawaran. “Ayo ikut kor kami. Ayo bergabung dengan kelompok kami. Kamu bisa menarikah?”

Ajakan ini mengingatkan saya ketika masih berada di Tanah Air. Saya sering ikut kor di asrama. Saya merasa tertarik dengan ajakan Pater Didi dan teman-teman. Saya pun bersedia bergabung dengan mereka.

Pada saat itu, keaktifan latihan kor diadakan di rumah misi SVD yang tidak terlalu jauh dari Gereja Emmaus. Cuma saat itu saya masih tinggal di Kota Gorinchem dan latihannya di Nieuwegein. Butuh waktu sekitar 20 menit perjalanan dengan kendaraan sendiri.

Yang memimpin latihan kor, pada awalnya adalah almarhum Bapak Da Silva asal Sikka Maumere, dan ia selalu dibantu oleh Pater Didi. Kemudian Bapak Da Silva keluar dari kor, lalu latihan kor dibuat oleh Pater Didakus sendiri.

Latihan setiap Rabu malam. Kegiatan ini masih berjalan sampai saat ini. Namun, sekarang, tempat latihan kor sudah berpindah ke salah satu ruang di Gereja Emmaus. Sejak saat itu sampai sekarang saya masih membantu kor KKI-Utrecht dan kor KKI- Amsterdam.

Setelah kira-kira satu bulan berada dalam lingkungan kor KKI-Utrecht, Pater Didi mendekati saya, dan beliau meminta apakah saya bisa mengambil alih fungsi Sekretaris KKI-Utrecht yang pada saat itu masih dipegang oleh Ibu Laura Hofmann. Mengapa Ibu Laura harus diganti, saya tidak tahu, itu urusan mereka sebelum saya masuk ke KKI-Utrecht ini.

Melihat wajah Pater Didi dengan senyuman rendah hatinya dan sinar mata yang setengah berharap, saya menerima tawarannya. Pada misa berikutnya, saya dilantik menjadi Sekretaris KKI-Utrecht, dan itu berarti saya diharapkan hadir pada setiap rapat baik itu rapat internal KKI-Utrecht maupun rapat antar KKI seluruh Belanda- Belgia.

Kesibukan baru ini sungguh memberi saya semangat dan adrenaline di dalam tubuh mulai melonjak dalam arti yang paling positif. Pada waktu saya menjabat Sekretaris di KKI-Utrecht, yang menjadi ketua kami adalah seorang Bapak asal Lerek, Pulau Lembata, namanya Julius Wutun. Setiap kali rapat dan pertemuan di mana saja dan kapan saja, saya, Pater Didi, dan Bapak Yulius selalu hadir mewakili KKI-Utrecht. Sampai sekarang pun mereka masih sangat mengenal saya sebagai orang Utrecht.

Sesungguhnya Pater Didakus adalah seorang Pastor yang punya visi ingin mengumpulkan semua orang di sekitar altar. Ia rindu mengumpulkan orang Katholik, Protestan atau siapa saja yang tertarik mengikuti Yesus.

Ia mengumpulkan banyak orang dengan senyum yang rendah hati, sapaan yang halus, dan dengan kasih sayang yang lembut kepada siapa saja yang ia jumpai.

Ketika masih bermisi di sini, bersama Pater Didakus, kami juga sering ikut pertemuan dengan kaum migran di Belanda. Pertemuan itu biasanya terdiri dari umat Indonesia, dari Komunitas Vietnam, Philipina, Suriname, Ortodoks Irak, Polandia, dan Spanyol.

Pertemuan diadakan untuk merencanakan misa bersama dalam bahasa Belanda dan doa umat dibawakan dalam bahasa komunitas yang berbeda.

Yang menarik bahwa doa Bapa Kami dibawakan serentak dalam bahasa yang berbeda-beda. Hal ini yang membuat acara kami menjadi sangat meriah. Apalagi semua peserta hadir dengan busana dan bendera dari negara masing-masing.

Kami sungguh mengalami misa multicultureel yang meriah dan gembira. Secara pribadi, saya sangat suka dengan misa multicultureel ini.

Retret Tahunan

Di samping kegiatan misa bersama kaum migran di Belanda, kami juga punya kegiatan retraite tahunan untuk para umat KKI se-Belanda-Belgia yaitu Retraite tahunan.

Pembimbing utama adalah Pater Didi dan seorang Ursulin, Suster Jullie van den Berg OSU. Sayang sekali suster mendahului Pater Didi berpulang ke rumah Bapa di Surga.

Retraite tahunan ini dimulai tahun 1996, 1997, 1998, 1999. Sedangkan pada tahun 2000 tidak ada retreite karena pada waktu itu kami berziarah ke Roma untuk melihat pintu-pintu suci yang dibuka pada tahun milenium.

Sampai tahun 1999, Pater Didi dan suster dibantu dua asisten umat yaitu Saudara Stanley Kwee dan Yona Isaak. Sedangkan tahun 2001 Saudara Stanley Kwee dan Saudari Yona Isaak mengundurkan diri. Akhirnya saya ditarik juga untuk membantu keorganisasian retraite ini.

Pada tahun 2001, Pater Klemens Hayon SVD, misonaris muda asal Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, mulai bergabung dan mendampingi retreite bersama Pater Didi dan suster.

Hal yang menarik bahwa sejak 1996 sampai 2001, kegiatan retreite dibuat di rumah misi SVD Deurne. Rumah ini kemudian dijual ke pemerintah setempat. Sekarang sudah berdiri hotel berbintang lima yang megah menjulang tinggi. Namun, di belakang hotel mewah ini masih ada lima unit rumah kecil tempat tinggal para misionaris SVD. Sedih dan melas.

Dari kenyataan itu kami, domab-domba harus kembali mencari tempat retreite yang baik dan murah. Tidak ada tempat semurah dan sebaik seperti rumah misi SVD di Deurne. Dengan susah payah, kami akhirnya menemukan tempat untuk retreite di Hotel Kontakt der Kontinenten di Soest. Hanya harganya tidak semurah rumah SVD di Deurne.

Kami harus menyesuaikan diri dengan harga hotel tersebut. Jadi sejak tahun 2002, kami menggunakan Hotel Kontakt der Kontinenten sebagai tempat retreite kami.

Pater Didi dibantu oleh Pater Klemens menjadi pembimbing kami. Waktu itu suster sudah tidak lagi ikut mendampingi retreite, sudah sakit-sakitan dan tidak bisa berjalan.

Sejak tahun 2003, kami domba-domba ditinggalkan Pater Didakus karena beliau  harus kembali ke Tanah Air. Sejak itu kegiatan retreite kami dibimbing oleh Pater Marianus Jehandut SVD dan Pater Klemens Hayon SVD.

Pater Didi sudah kembali ke Tanah Air, dan kami tetap selalu terkenang semua kebaikannya. Meskipun ada penggantinya tetapi tidak ada yang bisa membandingkan kerendahan hatinya dan kelembutan kasih sayangnya kepada kami semua.

Saya masih ingat, berbulan-bulan sebelum retret dimulai, Pater Didi sudah mulai menelepon umatnya satu per satu. Ia menggerakkan kami untuk selalu aktif dalam kegiatan retret karena itu adalah cara yang terbaik untuk mengenal diri, mengasihi Tuhan, dan mencintai sesama.

Kami hadir dan memberi diri dari kesederhanaan kami. Semuanya kami belajar dari testimoni Pater Didakus Diwa.

Siapa sih yang berani menolak Pastor senior yang dengan suaranya yang halus, rendah hati, lemah lembut apabila dia datang menyapa kami?

Api Iman

Selain retreite bersama, beliau juga selalu bersemangat menggerakkan kami untuk mengikuti kegiatan bersama KKI se-Belanda-Belgia. Kegiatan ini kami beri nama  menurut sang pencitranya “Api Iman”.

Awal ide berdirinya acara Api Iman adalah sebuah reuni para peserta ziarah Lourdes. Kami bersatu untuk kelompok ziarah ini dan menjaga ikatan persaudaraan antara umat KKI se-Belanda-Belgia beserta para simpatisan. Pater Didakus Diwa SVD adalah Pastor pertama yang menjadi pembimbing ziarah Lourdes KKI.

Sepulangnya dari ziarah Lourdes, banyak orang bertanya kepada Pater Didakus. “Pater, kami mau buat apa lagi dan bagaimana seterusnya dengan pengalaman kami pada saat kami berziarah di Lourdes. Apakah semuanya akan hilang ditelan waktu begitu saja?”

Dari pertanyaan itu muncullah ide yang menarik, yang kemudian dinamakan oleh beliau sebagai acara tahunan KKI se-Belanda-Belgi. Para pengikut ziarah Lourdes diundang untuk membagi pengalaman imannya. Orang lain pun diundang untuk berbagi pengalaman iman yang sama.

Acara ini sangat berkesan. Kami selalu mulai dengan sharing, doa rosario, ekaristi bersama dan ditutup dengan makan serta rekreasi bersama.

Awalnya sangat meriah dan banyak orang yang hadir bahkan pernah mereka datang berbondong-bondong dengan bus yang besar. Namun, sayang sekali. Sepulangnya Pater Didakus Diwa ke Tanah Air, semangat domba-domba yang tinggalkan gembala makin berkurang.

Kelompok Api Iman tinggal kelap kelip. Minyaknya makin menipis. Tanda semangat dan kerohanian makin redup. Kami mulai merana seperti domba yang kehilangan arah.

Kami Sedih

Ketika mendapat berita dari Ledalero lewat WhatsApp Pater Felix Baghi SVD tentang kematian Pater Didakus Diwa, hati kami sangat sedih. Kami sungguh merasakan kehilangan seorang gembala yang baik, rendah hati, lembut, dan penuh semangat.

Banyak jasanya yang kami kenang bersama umat KKI se-Belanda-Belgia. Kami pernah menerima rahmat Tuhan yang berlimpah selama kehadirannya di KKI Belanda-Belgia, dan KKI-Utrecht yang ia bentuk.

Pater Didakus Diwa, seorang Pastor memiliki aura rohani dan kewibawaan tersendiri. Meksipun ia sedikit konservatif, tetapi dia adalah seorang misionaris yang berjiwa modern di usianya yang cukup uzur.

Ia terbuka, ramah, memberi ruang kekebasan ekspresi bagi kami. Ia tegar, semangat, ramah, baik hati, sederhana, dan lemah lembut serta penuh kasih sayang.

Ia selalu memberi semangat kepada umatnya pada saat umat datang dengan keluh kesah kehidupan yang rumit di negeri sekular seperti Belanda dan Belgia.

Ia memiliki semangat berdoa, berkumpul, dan bekerja sama dengan siapa saja, khususnya keluarga besar KKI.

Semoga dengan tulisan ini, pembaca bisa membayangkan betapa besar misi dan visi gembala kami, Pater Didakus Diwa SVD.

Selamat jalan, beristirahatlah dalam damai di keabadian. Dari salah seorang domba gembalaanmu di Belanda.

Oleh Vincentia Sri NingsihUmat di Belanda.