Home Opini Yang Kudus Itu Bukan Buaya

Yang Kudus Itu Bukan Buaya

Analisis Totemisme Menurut Emile Durkheim

270
0
SHARE
Yang Kudus Itu Bukan Buaya

Keterangan Gambar : Ilustrasi kepercayaan masyarakat Timor terhadap binatang buaya, karya Fransiskus Diaz.

Bentuk penghormatan kepada buaya merupakan sebuah produk kekuatan kolektif masyarakat. Kekudusan atau kesakralan totem buaya bukanlah karakter sesungguhnya dari totem tersebut. Kekudusan atau kesakralan itu hanyalah karakter yang disematkan pada buaya oleh masyarakat atau klan yang menghormatinya.

Dalam Harian Umum Flores Pos, Sabtu, 1 Februari 2020 (hlm. 1), disajikan berita tentang seekor buaya di Pantai Natu, Desa Mahal I, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata yang menerkam seorang aparat Desa Mahal I, Yohanes odel (38) hingga tewas. Kejadian nahas tersebut terjadi saat korban dan teman-temannya sedang memancing ikan di pinggir pantai tersebut.

Seorang teman korban, Kornelis, yang kaget menyaksikan kejadian tersebut spontan berteriak meminta pertolongan dua saudaranya, Yohanes Laba dan Darius. Kornelis sendiri bergegas menuju rumah Mama Areq Tuaq di Desa Wowon, Kecamatan Omesuri, untuk meminta perahu guna menolong korban.

Baca berita terkait: Buaya Pantai Natu di Lembata Terkam Odel hingga Tewas

Menariknya, Mama Areq Tuaq mengatakan bahwa seturut kepercayaan nenek moyang, orang yang digigit buaya tidak bisa ditolong dengan menggunakan perahu. Karena itu, mereka meminta bantuan Bilhaludin M. Said (orang pintar/pawang) yang dipercaya bisa menolong korban. Sekitar pukul 03.00 Wita, korban ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa.

Buaya Bukan Binatang Biasa

Menurut Hellen Kurniati, pakar dan peneliti buaya di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), konflik buaya dengan manusia kerap terjadi di beberapa wilayah di Indonesia seperti Kalimantan, Papua, Papua Barat, dan NTT.

Di Indonesia sendiri, kata Hellen, dikenal empat jenis buaya, yakni Tomistoma Sclegelli dengan wilayah penyebarannya di Sumatera dan Kalimantan, Crocodylus Siamensis yang tersebar di Kalimantan, khususnya di Sungai Mahakam, Crocodylus Novaegyuneae di wilayah Papua dan Papua Barat, dan Crocodylus Porosus yang populasinya ada di seluruh Indonesia.

Crocodylus Porosus ini juga dikenal dengan nama buaya muara. Menurut Hellen, jenis inilah yang banyak membuat permasalahan dengan manusia.

Menurut data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT tahun 2011 sampai 2019, jumlah korban yang tewas dimangsa buaya di Pulau Timor sebanyak 43 orang. Hampir semua korban yang dimangsa buaya itu mengalami peristiwa nahas tersebut ketika sedang beraktivitas di laut atau sungai, misalnya, memancing ikan, mencari kepiting, mengambil air, mandi, menyeberangi sungai, dan sebagainya.

Pada beberapa suku di Indonesia, misalnya suku-suku di Pulau Timor, buaya menempati posisi yang unik dan istimewa dalam keyakinan religius masyarakat. Di lingkungan orang Timor sendiri, buaya bukanlah binatang biasa. Buaya diyakini sebagai representasi Yang Kudus, penguasa lautan, pemberi hidup, kesuburan, kesejukan, dan kesejahteraan.

Karena buaya adalah binatang yang sakral, tabu bagi orang-orang Timor untuk memburu, melukai, atau memakan daging buaya. Orang Timor percaya bahwa wujud tertinggi memanifestasikan dirinya sebagai dewa air dalam rupa buaya.

Tabu bagi orang Timor untuk menyebut nama sesungguhnya dari wujud tertinggi tersebut. Untuk itu, orang menyebut buaya sebagai Besimnasi atau Be’i Nai. Besi artinya besi dan mnasi artinya tua.

Secara harfiah, Besimnasi berarti besi tua, yang jika dihubungkan dengan nama lainnya yaitu Be’i, memiliki pengertian yang sama. Be’i dalam kehidupan sosial masyarakat adalah sebutan atau panggilan untuk kakek atau nenek. Sebutan itu juga merupakan sebuah atribut dan berfungsi sebagai penghormatan kepada mereka yang sudah tua dalam usia.

Orang Timor percaya bahwa buaya merupakan representasi Yang Kudus dan simbol kehadiran para leluhur atau nenek moyang. Dalam keyakinan mereka, jika seseorang digigit atau diterkam buaya, hal itu karena korban melanggar sesuatu yang dilarang oleh leluhurnya. Tindakan atau perbuatan korban yang jahat atau amoral membuat para leluhur marah dan mendatangkan celaka bagi si korban.

Masyarakat Lembata juga memiliki keyakinan yang kurang lebih sama dengan keyakinan orang Timor tentang buaya. Buaya dianggap sebagai penguasa air (lautan dan sungai) dan simbol kehadiran leluhur.

Itulah mengapa ketika Yohanes Odel (38) diterkam buaya di Pantai Natu, Mama Areq Tuaq mengatakan bahwa korban tidak bisa diselamatkan dengan menggunakan perahu. Korban atau jasad korban hanya bisa ditolong oleh seorang pawang/orang pintar/dukun.

Mitos Buaya

Karena buaya adalah representasi dari kekuatan adikodrati yang melampaui kekuatan manusia, maka buaya diyakini oleh orang Timor sebagai binatang yang sakral dan karenanya perlu mendapat perlakuan khusus dan layak dihormati. Selain itu, buaya juga diyakini sebagai simbol kehadiran para leluhur.

Keyakinan ini kemudian dilestarikan dalam sebuah ritus penghormatan kepada buaya, sang penguasa air ini. Ritus ini dilatarbelakangi oleh mitos tentang asal-usul terjadinya Pulau Timor yang diwariskan oleh para orang tua dari generasi ke generasi.

Dalam mitos tersebut, dikisahkan bahwa ada seekor buaya kecil yang sekarat di pinggir pantai. Seorang anak kecil, yang sedang bermain di pantai tersebut melihat buaya kecil yang sekarat itu dan ia merasa iba kepadanya. Sang anak lalu menggendong buaya kecil itu dan membawanya ke laut.

Sebagai ungkapan terima kasih sang buaya, si anak kecil yang telah menyelamatkannya itu diizinkan untuk naik ke punggung sang buaya dan ia dibawa berkeliling menjelajahi lautan. Sang anak boleh datang ke pantai dan memanggil sang buaya setiap kali ia ingin berkelana menjelajahi lautan kapan pun ia mau.

Ketika sang buaya mendekati ajalnya, ia menemui anak tersebut di tepi pantai dan mengatakan bahwa sebagai balas budi atas kebaikan anak tersebut, bangkai buaya akan berubah menjadi daratan yang sangat luas dan di atasnya akan teesedia aneka makanan dan tumbuhan sebagai bekal untuk kelangsungan hidup sang anak dan keturunannya.

Setelah berkata demikian, buaya tersebut membaringkan tubuhnya di atas pasir dan beberapa saat kemudian ia pun mati. Bangkainya sedikit demi sedikit berubah menjadi daratan. Punggungnya yang runcing perlahan-lahan berubah menjadi deretan pegunungan yang membentang dari ujung barat sampai ke ujung timur dan membentuk sebuah pulau.

Ujung-ujung pulau tersebut menyerupai kepala dan ekor buaya, sedangkan bagian tengahnya yang besar menyerupai perut buaya. Inilah Pulau Timor yang dihuni oleh keturunan sang anak penyelamat buaya yang sekarat itu. Bentuk Pulau Timor dalam peta menyerupai seekor buaya yang sedang berbaring sehingga pulau ini juga kerap disebut “land of the sleeping crocodile”.

Kepercayaan Totemik

Bentuk kepercayaan terhadap buaya sebagai representasi Yang Kudus dan simbol kehadiran leluhur atau nenek moyang bisa disebut sebagai sebuah kepercayaan totemik. Totemisme merupakan fenomena yang menunjuk kepada hubungan organisatoris khusus antara suatu suku bangsa atau klan dengan suatu spesies tertentu dari dunia binatang atau tumbuhan. Hubungan ini diungkapkan dalam upacara-upacara dan aturan-aturan khusus dalam klan.

Dalam buku The Elementary Forms of the Religious Life (1967), Emile Durkheim (1858-1917), pencetus sosiologi modern, mengungkapkan bahwa totem adalah emblem yang bersifat eksternal yang memungkinkan setiap anggota klan mengidentifikasikan diri dengan totem tersebut. Totem bisa mengambil berbagai macam wujud, misalnya pohon, batu, kayu, binatang atau tumbuhan tertentu, dan sebagainya.

Benda-benda totem dalam dirinya sendiri (in se), bagi Durkheim, tidak terlalu istimewa. Mereka menjadi istimewa karena mereka adalah emblem, lencana, atau simbol. Objek-objek yang disakralkan itu adalah simbol, yang maknanya tidak berada pada ciri-ciri objeknya sendiri, melainkan tersemat pada hal-hal yang disimbolkan oleh objek-objek tersebut.

Totem merepresentasikan sesuatu sehingga representasi itu sendiri yang sesungguhnya menjadi sesuatu yang penting dan representasi itulah yang dipuja, dihormati. Dengan kata lain, yang dipuja bukanlah objek itu sendiri, melainkan sesuatu yang disimbolkan oleh totem itu.

Berdasarkan pengertian ini, maka keliru apabila memperlakukan ritus sebagai suatu teknik yang bersifat rasional untuk mencapai tujuan tertentu. Durkheim menolak pemikiran bahwa tindakan ritual adalah upaya untuk mencapai suatu tujuan rasional.

Menurutnya, sebuah ritus harus dianalisis sebagai suatu tindakan simbolis. Dengan kata lain, totemisme sejatinya adalah simbol atau ekspresi material dari sesuatu yang lain. Pertanyaan, apakah sesuatu yang lain itu?

Kepercayaan yang Paling Mendasar

Jawaban yang diberikan Durkheim terhadap pertanyaan di atas adalah bahwa totemisme mengekspresikan dan menyimbolkan dua hal yang berbeda.

Pertama, ia mengekspresikan Tuhan atau kaidah-kaidah totemik. Kedua, ia mengekspresikan masyarakat atau klan itu sendiri. Dengan demikian, ia merupakan simbol dari Tuhan dan masyarakat itu sendiri. Durkheim menegaskan, ”Tuhan dari klan, prinsip totemik, tidak lain adalah klan itu sendiri yang dipersonifikasikan dan direpresentasikan dalam imajinasi ke dalam bentuk nyata binatang atau tumbuhan yang bertindak sebagai totem.”

Lebih jauh, Durkheim berpendapat bahwa simbol-simbol yang dihadirkan dalam totem bukan hanya menjadi bagian dari Yang Sakral, melainkan juga perwujudan dan contoh yang sempurna dari pada Yang Sakral.

Durkheim menulis, “Karena kekuatan religius tidak lain daripada kekuatan kolektif marga yang anonim dan karena kekuatan tersebut hanya bisa dicerap dalam bentuk totem, maka lambang-lambang totemik dapat dikatakan sebagai tubuh Tuhan yang bisa diraba. Dari totemlah muncul aktus-aktus penghormatan yang menjadi tujuan pemujaan. Inilah sebabnya mengapa totem menempati posisi tertinggi dari susunan hal-hal yang sakral.”

Durkheim berpendapat bahwa totemisme adalah kepercayaan religius (agama) yang paling mendasar. Agama lahir sebagai jawaban atas kebutuhan sosial manusia. Agama memberi ruang bagi individu untuk membarui dan meningkatkan energi mereka guna menghadapi persoalan-persoalan kehidupan.

Menurutnya, agama memiliki fungsi dynamogenic, membangkitkan daya vital manusia. Karena atmosfer seperti itu hanya mungkin terjadi dalam kolektivitas, Durkheim meyakini bahwa agama yang betul-betul bersifat individual adalah mustahil. Dalam masyarakat tradisional, agama berperan sebagai representasi kolektif masyarakat.

Lebih daripada sekadar memberi identitas sosial bagi individu, agama membentuk masyarakat menjadi sebuah komunitas moral. Agama menjadi conscience collective, nurani dan kesadaran kolektif yang mengikat setiap anggota kelompok.

Meskipun pengalaman religius adalah produk kekuatan kolektif manusia, Durkheim menegaskan bahwa seorang yang percaya tidak sedang dikelabui atau tertipu ketika ia memercayai adanya kekuatan spiritual yang menaungi dan memberinya kekuatan. Kekuatan itu betul ada, tidak turun dari langit, tetapi muncul dari masyarakat itu sendiri.

Karena itu, totem adalah representasi dari klan sekaligus representasi dari yang sakral. Maka Durkheim berkesimpulan bahwa yang sakral mesti klan itu sendiri. Keduanya identik.

Durkheim menulis, “The god of clan, the totemic principle, can therefore be nothing else than the clan itself.” Kesakralan totem tiada lain dari pada kekuatan kolektif dan anonim dari klan itu sendiri. Totem adalah semacam bendera yang melambangkan kekuatan klan. Kesakralan adalah nama lain dari kekuatan masyarakat.

Yang Kudus Bukan Buaya

Dalam terang pemikiran Durkheim ini, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kepercayaan dan penghormatan kepada (totem) buaya merupakan sebuah kepercayaan totemik. Bentuk penghormatan kepada buaya merupakan sebuah produk kekuatan kolektif masyarakat. Kekudusan atau kesakralan totem buaya bukanlah karakter sesungguhnya dari totem tersebut. Kekudusan atau kesakralan itu hanyalah karakter yang disematkan pada buaya oleh masyarakat atau klan yang menghormatinya.

Karena itu, harus dipahami bahwa penghormatan atau kepercayaan kepada totem buaya merupakan praktik pengallahan masyarakat itu sendiri. Yang kudus bukan totem itu (in se), melainkan masyarakat.

Terlepas dari kepercayaan orang Timor dan Lembata tentang buaya sebagai penguasa air dan simbol kehadiran leluhur, Hellen Kurniati menjelaskan bahwa setiap buaya muara dewasa baik jantan maupun betina mempunyai teritori (daerah) kekuasaannya. Daerah itu menjadi tempat mencari makanan, berjemur diri, kawin, dan membuat sarang untuk bertelur.

Pada kelompok jantan dewasa terdapat buaya jantan dominan. Umumnya jantan dominan ini ditakuti oleh jantan lain yang tidak dominan sehingga teritorinya lebih luas dibandingkan dengan jantan yang tidak dominan. Oleh karena itu, buaya jantan yang tidak dominan ini lebih banyak berjelajah ke daerah yang lebih jauh guna menghindari perselisihan dengan jantan dominan.

Kondisi lain yang membuat buaya menjelajah ke daerah yang lebih luas adalah berkurangnya makanan di teritorinya seperti ikan dan mamalia kecil. Di alam, manusia akan bersaing dengan buaya untuk mendapatkan ikan. Karena berkurangnya pakan buaya, maka buaya mendekati kampung dan di sanalah ia mencari makan.

Manusia sebenarnya bukanlah mangsa buaya. Buaya sesungguhnya takut kepada manusia. Ia juga takut terhadap bunyi-bunyian atau suara bising. Ia cenderung menghindar dari kebisingan dan menyendiri.

Kendati begitu, ia akan berusaha menyerang bila ada kesempatan dan merasa terancam. Biasanya ia mulai aktif menyerang pada sore menjelang malam hari. Ia juga sangat menjaga wilayah kekuasaannya sehingga yang mendekat kemungkinan besar akan diserang, baik manusia, hewan, maupun sesama buaya.

Oleh Arkian BiafAlumnus STFT Widya Sasana Malang, Tinggal di Ende.