Home Sikka Hog Cholera dan ASF Serang Sikka, Peternak dan Pengusaha Babi Terancam Merugi Rp 213 Miliar

Hog Cholera dan ASF Serang Sikka, Peternak dan Pengusaha Babi Terancam Merugi Rp 213 Miliar

Penulis: Wall Abulat/ Editor: Arsen Jemarut

614
0
SHARE
 Hog Cholera dan ASF Serang Sikka, Peternak dan Pengusaha Babi Terancam Merugi Rp 213 Miliar

Keterangan Gambar : Tim Kementan RI sedang memantau perkembangan babi di salah satu lokasi di Kota Maumere, Minggu (12/7/2020).


Maumere, Flores Pos — Penyakit hog cholera dan African Swine Fever (ASF) atau penyakit Demam Babi Afrika menyerang Kabupaten Sikka sejak akhir tahun lalu hingga Juli 2020 ini yang menyebabkan kematian 418 ekor babi. Bila dua penyakit ini tidak segera teratasi dengan baik maka peternak dan pengusaha babi di Kabupaten yang memiliki populasi babi sebanyak 71.000 ekor bakal merugi sekitar Rp. 213 miliar jika rata-rata per ekor babi dijual Rp 3 juta.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Mauritz da Cunha melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) pada Dinas Pertanian Kabupaten Sikka drh. Maria Margaretha Siko atau yang biasa disapa Dokter Metha yang dihubungi Flores Pos, Selasa (14/7/2020) menjelaskan bahwa babi yang mengalami kematian akibat Hog Cholera dan ASF di atas tersebar pada 16 dari 21 kecamatan di Kabupaten Sikka.

Baca juga332 Ekor Babi Mati Mendadak, Tim Kementan RI Gencar Ambil Sampel Babi di Kabupaten Sikka

“Total bagi yang mati hingga Rabu (8/7/2020) tercatat ada 418 ekor. Ini tersebar pada 16 kecamatan dari 21 kecamatan yang ada di  Kabupaten Sikka,” kata Dokter Metha.

Dokter Metha meminta para peternak dan pengusaha babi di Kabupaten Sikka untuk melakukan upaya-upaya konkret untuk mencegah penyakit hog cholera dan ASF sehingga populasi 71.000 ekor babi yang masih hidup tidak mengalami kematian sehingga tidak merugi ratusan miliar rupiah.

“Kalau satu ekor babi dijual rata-rata Rp. 3 juta, maka total pendapatan dari usaha bagi sekitar Rp. 213 M. Mari kita perhatikan kesehatan babi sehingga kita tidak merugi sekitar Rp213 M,” pinta Dokter Metha.

Baca juga: Si Jago Merah Lalap Ratusan Hektar Lahan di Kawasan Hutan Lindung Ilinmedo

Lima Sumber Penularan

Dokter Metha pada kesempatan ini menyebut ada lima penyebab penularan ASF. Pertama, ada riwayat membeli atau memperleh daging babi. Kedua, mengambil makanan sisa dari tetangga atau dari warung. Ketiga, pemilik baru memasukan atau membeli babi.

Keempat, pemilik pernah mengunjungi kandang babi yang sakit/mati. Kelima, lokasi kandang berdekatan dengan kandang tertular.

"Upaya-upaya konkret mencegah dan mengatasi Hog Cholera dan ASF di antaranya adalah dengan tidak memperjualbelikan babi sakit dan babi mati, dilarang mengonsumsi dan mengedarkan dan atau menjual daging babi yang sakit dan mati kepada tetangga atau orang lain; masyarakat diminta tidak tergiur dengan harga ternak yang murah, dan jangan tergiur dengan membeli daging babi yang murah," katanya.

“Kita berharap agar para peternak dan pengusaha babi perlu menerapkan protokol kesehatan penanganan babi agar tidak menjadi korban ASF,” kata Dokter Metha.

Baca juga: 4.709 Anak Usia Bawah Dua Tahun di Sikka Mengalami Stunting

Kementan Upayakan Isolasi Virus

Dokter Metha pada kesempatan ini menambahkan bahwa Kementrian Pertanian (Kementan) RI telah melakukan upaya isolasi virus yang menyebabkan kematian babi di Kabupaten Sikka dengan upaya pembuatan vaksin.

“Tim yang berjumlah belasan orang telah mengambil sampel babi di beberapa titik di Kabupaten Sikka dan kemudian sampel babi yang ada akan diteliti di Balai Keswan Bogor untuk mendapatkan vaksin guna mencegah kematian babi di Kabupaten Sikka. Ada 9 sampel bagi sudah dikirim untuk pengujian pembuatan vaksin dimaksud,” kata Dokter Metha.

Tim Kementan yang tiba di Maumere, Jumat (10/7/2020) melakukan pemantauan lokasi pemeliharaan babi di Kota Mauumere, di antaranya di Kelurahan Wailiti, dan beberapa kelurahan dalam Kota Maumere.*