Home Cerpen Aku dan Piring Batu

Aku dan Piring Batu

Cerpen Arnus Setu

1,899
0
SHARE
Aku dan Piring Batu

Keterangan Gambar : Arnus Setu

“Piring batu itu memang menarik untuk dipakai dan dimiliki. Tetapi ia sebenarnya sangat rapuh."

Sejak kecil dulu setiap kali jam makan tiba, aku selalu tertarik menatap piring batu. Sebuah piring yang rasanya lebih penting daripada benda apa pun di atas meja. Bak magnet yang saling tarik-menarik, ia berusaha menarikku ke dalam putih dan ragam motif coraknya yang seolah menegaskan betapa orang yang melihatnya pasti akan jatuh cinta. Setiap kali kuutarakan niatku untuk memilikinya dan menggunakannya saat makan tiba, Ibu selalu melarang dengan berbagai alasan yang tak bisa kubantah. Kamu masih terlalu kecil, Ton. Piring batu ini berat. Nanti bisa pecah. Begitulah kata-kata Ibu padaku. Keinginanku jelas tak kesampaian. Pilihanku yang tersisa hanyalah menatap dan sesekali menyentuhnya, itu pun kalau tidak ketahuan Ibu.

Sebenarnya piring batu merupakan istilah khusus yang dipakai orang-orang di kampungku. Orang lain lebih mengenalinya sebagai piring makan keramik dengan warna dasar putih disertai beraneka ragam motif khas yang melekat pada piring tersebut. Ada yang bermotif bunga mawar. Ada pula yang bermotifkan gambar sepasang kekasih menikah, dan sebagainya. Di kampungku,  orang lebih sering menggunakan istilah piring batu ketimbang piring keramik. Memiliki piring batu bermotif sepasang kekasih ketimbang bermotif mawar atau yang lainnya.

Suatu waktu di hari Minggu, Ibu mengajakku pergi belanja ke Toko Pak Salim. Toko Pak Salim adalah satu-satunya toko di kampungku yang serba ada. Mulai dari barang perabotan rumah, kebutuhan sehari-hari, hingga besi pun dijual Pak Salim.

Dalam perjalanan, Ibu tidak banyak bicara. Ia hanya menggenggam erat tanganku. Sebuah tanda bahwa ia sungguh-sungguh sayang pada anaknya. Meskipun jarak dari rumahku ke Toko Pak Salim tidak jauh, tetapi bagiku setiap perjalanan harus selalu dinikmati. Belum lagi, hari itu adalah kali pertama aku diajak Ibu. Biasanya Kak Vina yang selalu menemani Ibu. Di samping karena ia adalah perempuan, usiaku dan usianya terpaut lima tahun. Jadi, jelas Ibu akan lebih mempercayakannya daripada aku, anak kecil yang baru berusia enam tahun.

Belakangan Ibuku memang sangat sibuk. Di samping sebagai seorang guru sekolah dasar yang masih honor, Ibu juga baru dipercayakan menjadi sekretaris PKK di kecamatanku. Sepeninggal ayahku empat tahun lalu, Ibu harus berjuang keras demi menghidupkan aku dan Kak Vina. Di sela-sela padatnya aktivitas sebagai guru dan sekretaris PKK, ia masih sempat membuat kue onde. Kue itu kemudian dijual kakakku di sekolahnya. Bila kue onde laris, maka hari itu dan besoknya kami dapat makan lebih enak. Tapi tak jarang, dagangan Ibuku juga tidak laris. Bahkan pernah tak dibeli sama sekali. Saat itu, aku begitu senang jika barang dagangan Ibu tidak laku. Itu artinya, aku dapat jajan gratis.

“Ton, apa yang kau pikirkan? Ayo Masuk!” kata Ibu sambil menyentuh pundakku. Tak kusadari ternyata kami sudah tiba di toko Pak Salim. Ibu menyuruhku menepi di sudut meja kasir sementara itu ia langsung mengambil berbagai barang yang ingin dibeli. Beras sekarung kecil, gula sekilo, kerupuk yang ditimbang, dan tak ketinggalan ada juga tepung terigu, bahan pelengkap untuk kue onde. Kucoba cermati berulang-ulang barang belanjaan Ibu, tetapi sama saja. Tetap tak kelihatan piring batu di sana. Ibu yang tau kekecewaanku, langsung membelikanku beberapa permen bergagang.

***

Berita itu melesat dengan cepat. Hampir separuh warga di desaku tahu berita itu.

“Anak Bu Evi akan ke Ibukota.. Anak Bu Evi akan ke Ibukota..,” teriakan anak-anak kecil memecah keheningan sore itu. Setiap orang yang kutemui sore itu mendadak menyalamiku dan memberikan pujian tanpa henti. Bahkan ada yang memelukku. Beberapa kerabat dekatku pun tak segan mencium pipiku sambil mengucapkan selamat.

Entah siapa yang telah memberi tahu mereka tak kuhiraukan sama sekali. Bagiku serasa menjadi raja sesaat. Dan sungguh-sungguh kunikmati setiap momen itu dengan melemparkan senyum terbaik yang kumiliki. Perasaanku bercampur-aduk; bangga dan senang bukan kepalang. Kendati begitu, aku menyadari satu hal: beban di pundakku kala itu mulai bertambah.

Di rumah, Ibu dan Kak Vina kelihatan begitu sibuk. 1 koper, 1 tas punggung, dan 2 kardus telah menanti di sudut sunyi. Rumahku yang kecil mendadak sangat berantakkan. Di antara tumpukan pakaian dan barang-barang lainnya, satu hal yang mencuri perhatianku: senyuman tersungging di bibir Ibu. Sebuah pemandangan yang hampir jarang kutemukan sebelumnya. Meski guratan tanda penuaan mulai tergurat tegas di wajahnya, warna senyuman itu menjadi pembeda tersendiri. Sebentuk tanda kegembiraan yang tidak dapat didefinisikan dengan apa pun. Kepadaku pun, Ibu tak mengatakan apa-apa.

***

“Nak, bersama surat ini, Ibu sertakan beberapa lembar uang yang tak seberapa jumlahnya dan tiga piring batu dengan motif bunga mawar. Ibu berharap Nak Toni menggunakan uang ini dengan baik. Ibu sengaja tidak menaruh piring batu dengan motif sepasang kekasih dalam kardus kecil ini karena Ibu takut nantinya Nak Toni malah terpengaruh gambarnya dan mulai sibuk berpacaran dan melupakan kuliah. Makanya, Ibu membelikanmu piring-piring bermotif bunga mawar ini dari toko Pak Salim. Biar Nak Toni ingat pesan Ibu kalau kehidupan manusia tidak akan selalu indah seperti indahnya bunga mawar, pasti akan selalu ada rintangan, gangguan, dan godaan yang bisa membuat kita jatuh, terluka, dan melupakan tanggung jawab kita. Apalagi kuliah di ibu kota, akan ada banyak ‘duri’ yang sewaktu-waktu bisa melukaimu, Nak. Jadi, pesan Ibu belajarlah yang rajin dan tidak boleh lupa berdoa. Ibu dan Kakakmu Vina sangat bangga padamu. Doa kami selalu mengiringi perjalananmu.”

“Kenapa Ibu harus menulis surat ini, kan Ibu bisa saja menyampaikannya secara langsung padaku malam itu?” tanyaku selepas membaca kembali surat Ibu.

Pertanyaan yang sama ini muncul kembali semenjak pertama kali kubuka kardus kecil bawaanku dari kampung empat tahun silam. Kini, ia mulai menagih jawab. Namun, kusadari betul sekeras apa pun aku berpikir, jawaban atas pertanyaan ini tidak akan ditemukan. Menanyakannya pada Kak Vina pun tidak akan cukup. Ibu terlanjur tiada.

Kukeluarkan piring batu dengan motif bunga mawar dari tasku. Dan mulailah kutatap piring batu itu dalam-dalam seperti yang pernah kulakukan saat kecil dulu. Walau samar, mendadak kata-kata Ibu menari dalam kepalaku.

“Piring batu itu memang menarik untuk dipakai dan dimiliki. Tetapi ia sebenarnya sangat rapuh. Jika dilemparkan ke lantai seketika itu juga ia pecah berkeping-keping. Memungutnya dari sana pun perlu kehati-hatian dan konsentrasi. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat luka dan berdarah. Karenanya, menggunakan piring yang bukan piring batu di samping karena lebih cocok untuk anak kecil, juga agar dapat terhindar dari bahaya yang ditimbulkan piring batu bila jatuh dan kemudian pecah,” kata Ibu sambil memberikanku beberapa permen yang walau kuterima dengan berat hati akhirnya dimakan juga. Aku ingat betul, saat kudengar penjelasan Ibu, amarah dan kekecewaan karena tak dibelikan piring batu pun menghilang seketika.

“Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara…. Akhirnya, kami seluruh awak pesawat mengucapkan terima kasih karena telah terbang bersama kami, dan sampai jumpa di penerbangan lain waktu. Terima kasih,” untaian pengumuman dari pramugari memenuhi kabin pesawat. Aku terdiam beberapa saat. Mencoba sedapat mungkin mengendalikan emosiku. Dalam diamku, kubuat satu pengharapan yang tak masuk akal. Seandainya saja ketiga piring batu ini bisa kutukarkan dengan kembalinya Ibu, pasti sudah kulakukan sejak dua tahun lalu. Selamat jalan Ibu. Anakmu telah kembali.

2019


Arnus Setu, berasal dari Detusoko, Ende, NTT. Alumnus SMA Seminari Mataloko. Belajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas.