Home Cerpen Anjing Ibu Wati

Anjing Ibu Wati

2,664
0
SHARE
Anjing Ibu Wati

Keterangan Gambar : sumber ilustrasi: https://pixabay.com/id/photos/hewan-anjing-kesayangan-potret-3786987/

Cerpen Tommy Duang

“Beruntung anjing itu cuma patah satu kakinya. Tadi, menjelang magrib, orang-orang di pos ronda berencana membunuhnya,” begitu kata Apris kepada aku dan Yondi saat mendengar kabar anjing Ibu Wati sekarat. Malam itu, kami duduk bertiga di ruang tamu, memetik gitar dan bernyanyi.

Berwarna hitam pekat, anjing itu diberi nama Bleki. Matanya tajam dan menyala biru jika dalam gelap. Bleki tampak seram dengan taring-taring tajam yang selalu siap merobek apa saja.

Dengan keempat kaki yang kuat dan berotot, Bleki sigap dan tangkas. Pergerakannya cepat, tepat, dan terukur.

Selain mata dan kaki yang terlatih, Bleki juga punya dua senjata mematikan lain. Telinga dan hidung. Kedua indra itu sangat tajam mendeteksi sesuatu di kejauhan.

Pernah suatu malam, Apris dikejar anjing itu gara-gara bau daging babi di sekujur tubuhnya. Malam itu, dia melintas depan kantor desa setelah sorenya membunuh babi di rumah Om Paskal. Dia belum sempat mandi, dan memang tubuhnya bau daging babi.

“Dia kejar saya tu, ngeri. Melompat kemudian menjilat-jilat tangan saya. Untunglah ada sepotong daging babi. Terpaksa saya relakan potongan daging itu,” kenang Apris suatu siang.

Di suatu malam yang lain, Om Montero yang rumahnya berjarak lima ratus meter dari kantor desa menghadiahkan seekor ayam jantan untuk Bleki. Malam itu Bleki berhasil menyelamatkan satu unit pesawat televisi 21 inci, uang sepuluh juta, perhiasan, dan bermacam-macam peralatan dapur.

Tiga orang pencuri berhasil memasuki rumah Om Montero dan mengambil barang-barang itu. Dalam rumah itu tidak ada orang.

Om Montero sekeluarga sedang mengikuti pesta pernikahan di kampung sebelah. Mereka pulang tengah malam setelah ditelepon Ibu Wati untuk memberitahukan bahwa rumah mereka dibobol pencuri.

Untunglah ketiga pencuri itu tidak sempat membawa lari hasil curiannya gara-gara salah satu dari mereka tidak sengaja menjatuhkan panci, tepat di depan rumah Om Montero. Bleki mendengar bunyi panci itu membentur lantai. Dari kantor desa, anjing hitam itu melesat cepat dan menyerang ketiga pencuri itu.

Salah satu dari mereka pingsang di tempat karena betisnya dicabik taring-taring Bleki. Di dalam kantong celananya, warga menemukan uang tunai berjumlah sepuluh juta rupiah.

Walaupun umurnya sudah rentah menurut ukuran seekor anjing, Bleki masih tetap sigap. Bleki sebenarnya seekor anjing liar. Beberapa tahun lalu, saat Ibu Wati masih menjabat sebagai kepala desa, dia menyelamatkan seekor anak anjing yang hampir mati kelaparan di tempat sampah dekat rumahnya.

Siang itu, Ibu Wati baru pulang dari kantor desa dengan raut muka penuh amarah. Dia dibuat jengkel oleh dua orang satpam kantor desa karena kerja mereka yang tidak becus. Bagaimana mungkin dalam dua hari belakangan, kantor desa tiga kali dibobol pencuri dan sebagian besar dana desa raib.

Padahal, dua satpam itu bertubuh tegap, muda, dan terlatih. Mereka dipilih karena punya ilmu bela diri yang tinggi dan menjadi jagoan di desa kami. Semua warga kampung mengenal kemampuan mereka. Keduanya ditakuti.

Tapi mengapa mereka tidak bisa menangkap pencuri-pencuri itu? Ibu Wati mengira, keduanya sebenarnya mampu melakukan itu, tapi tidak mau bekerja maksimal. Itu makanya Ibu Wati murka dan mengancam memecat keduanya.

Untuk sedikit menenangkan diri, Ibu Wati berjalan kaki dari kantor desa ke rumah melewati tempat sampah itu. Dia melihat seekor anak anjing hitam, kelaparan, sekarat dan hampir mati.

Digendongnya anjing itu, berjalan pulang ke rumah masih dengan muka penuh amarah dan memutuskan merawat anak anjing hitam itu.

“Mungkin bisa menjaga kantor desa jika nanti sehat dan bertumbuh besar,” gumamnya ketika tiba di rumah.

Dari kecil, Bleki dilatih sedemikian rupa sehingga mampu memaksimalkan kemampuannya sebagai anjing penjaga. Anjing hitam itu kemudian ditempatkan di kantor desa untuk membantu kedua satpam menjaga keamanan kantor.

Keberadaan Bleki sebagai anjing penjaga membawa perubahan besar bagi keamanan kantor desa. Dalam perkara menggagalkan kasus-kasus pencurian, Bleki terbukti bekerja lebih efektif dari kedua satpam itu.

Semasa Ibu Wati menjabat sebagai kepala desa, Bleki berhasil menggagalkan belasan bahkan puluhan kasus pencurian di kantor desa.

Bahkan karena nalurinya yang luar biasa, ia bisa mendeteksi sedini mungkin setiap perencanaan pembobolan kantor desa dan pencurian dana desa.

Kisah yang paling tidak mungkin dilupakan orang ialah ketika suatu siang Bleki menggigit salah satu ketua RT di desa kami (demi menjaga kebaikan bersama nama orang itu tidak kutulis di sini) tepat di lehernya.

Beliau rubuh berlumuran darah. Orang-orang sekampung marah dan mempersalahkan Ibu Wati atas insiden itu.

Mereka bersepakat membunuh Bleki. Tetapi mereka takut Ibu Wati marah. Makanya mereka harus terlebih dahulu membicarakan rencana itu dengan Ibu Wati sendiri. Namun, Ibu Wati bergeming.

“Tidak, tidak. Bleki tidak biasa gigit orang sembarangan. Lagi pula dia bukan anjing rabies. Saya sendiri akan cari tahu mengapa Pak RT diserang. Kita akan tahu kebenarannya. Itu pasti dan saya berjanji.”

Belakangan diketahui bahwa malam sebelumnya, Pak RT menyelinap masuk kantor desa dengan bantuan kedua satpam kantor. Dia membawa pergi segepok uang dan beberapa berkas penting.

Malam itu Bleki memilih berdiam diri dan mengamat-amati. Mungkin karena mempertimbangkan kekuatan dua satpam yang bekerja sama dengan Pak ketua RT.

Ibu Wati dan semua warga desa begitu menyayangi Bleki. Bleki sangat berjasa bagi desa kami. Mungkin karena jasanya itu, bertahun-tahun setelah Ibu Wati mundur dari kursi kepala desa, Bleki masih tetap bekerja sebagai anjing penjaga. Dalam perjalanan waktu nama anjing itu menjadi begitu tenar, dihargai, dan ditakuti.

Namun anjing tetaplah anjing. Sehebat apa pun, dia masih tunduk di bawah arogansi dan keserakahan manusia. Dua tahun lalu, anjing hitam itu hampir mati terbunuh.

Masih segar dalam ingatanku, saat itu ketika orang-orang kampung pulang mengaji di masjid. Bleki masih bermalas-malasan di depan kantor desa.

Tiba-tiba, entah dari arah mana sebuah anak panah melesat cepat dan menusuk tepat di mata kiri anjing itu.

Dia meronta-ronta dan meraung kesakitan. Untunglah orang-orang yang pulang mengaji itu bergerak cepat. Bleki digotong ke rumah Paman Kamilus, mantri hewan di desa kami.

Paman Kamilus mengobati mata Bleki semampunya sebelum anjing itu dilarikan ke tempat praktik dokter hewan di kota.

Mungkin karena jasa-jasanya bagi desa kami, Bleki masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup walaupun dengan mata yang buta sebelah.

Belakangan kami tahu dari cerita Paman Kamilus bahwa anak panah itu diolesi cairan beracun. “Agak ajaib juga, anjing itu masih bisa bertahan hidup,” Paman Kamilus menambahkan.

Pakde Jo—anak sulung Ibu Wati—yang saat itu menjabat sebagai kepala desa marah besar pada warga yang melakukan percobaan pembunuhan itu.

“Kejadian ini pasti ada kaitannya dengan pencuri-pencuri itu. Ini kejahatan dan tidak bisa dibiarkan. Saya perintahkan dua satpam kita untuk serius menangani hal ini. Tangkap pelakunya dan laporkan ke polisi. Ini perintah,” kata Pakde Jo menggertak.

Berbulan-bulan kemudian, gertakan Pakde Jo itu terbukti hanyalah sebuah gertakan sambal. Kedua satpam kantor desa kami tidak benar-benar serius mencari penembak itu. Juga Pakde Jo sendiri.

Tidak heran, sampai sekarang, bahkan setelah anjing hitam itu kembali dengan setia bekerja, pelaku penembakan itu tidak kunjung ditangkap.

Sampai malam ketika Bleki mengalami percobaan pembunuhan untuk kedua kalinya. Kami masih duduk minum kopi sambil memetik gitar dan bernyanyi ketika Ipang datang membawa kabar itu.

Dengan napas terengah-engah, Ipang masuk ke ruang tamu tempat kami berkumpul.

Ka’e1, anjing Bu Wati dipukul orang. Kaki kanannya patah.”

“Depan atau belakang?” Tanya Yondi.

“Kaki depan.”

“Siapa yang pukul?”

“Belum tahu pasti. Tapi saya dengar, anak Bu Wati sendiri.”

“Ah, yang benar saja kau ini.”

“Iya Ka’e, benar.”

“Bu Wati punya tiga anak. Yosep? Atau si Bambang?” Kali ini saya yang penasaran.

“Bukan, bukan. Itu siapa namanya yang kurus-kurus itu. Yang sulung itu ka, Ka’e.”

“Maksudmu, Pakde Jo yang kepala desa itu?”

“Yesss, mungkin yang itu.”

“Hah… Aneh.”


1Ka’e: Kakak (Bahasa Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur).


Tommy Duang, mahasiswa semester VII Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero-Maumere. Tommy lahir di Manggarai Timur, Flores, NTT pada 26 Januari 1995. Tinggal di Wisma Santo Agustinus Ledalero.

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas