Home Kolom Dari Rasul Yakobus untuk Kita (Sebuah Sepak Pojok dari Surat Yakobus 3:1-12)

Dari Rasul Yakobus untuk Kita (Sebuah Sepak Pojok dari Surat Yakobus 3:1-12)

Oleh P. Kons Beo, SVD / Misionaris SVD Tinggal di Collegio San Pietro Roma

1,097
0
SHARE
Dari Rasul Yakobus untuk Kita (Sebuah Sepak Pojok dari Surat Yakobus 3:1-12)

Keterangan Gambar : P. Kons Beo, SVD

"Dalam semangat Injil, kita mesti terlatih dan dibiasakan untuk membuang kata-kata yang melukai sesama, hinaan, caci maki, serta sumpah serapah. Gelondongan kata yang menyudutkan sesama mesti dikuburkan dalam-dalam." — P. Kons Beo, SVD


Satu Sumbangan bagi yang di Tanah Rantau

Ada yang menarik dari Surat Yakobus. Mencermati keseluruhan karyanya, penulis memang tak berminat pada gagasan berkiprah teologis. Artinya, ajaran tentang kebenaran iman dan sejenisnya tak banyak ditemukan di dalamnya.

Yakobus ‘cuma’ berminat pada bagaimana jemaat (komunitas) menghayati isi iman itu (cf Yak 1:2-8). Ia juga menunjukkan kepedulian pada formasi akhlak serta sikap dan tampilan jemaat demi menghayati peri hidup yang terkontrol dan senonoh.

Surat Yakobus punya jangkauan semesta. Maksudnya bahwa ia menunjukkan perhatiannya pada orang-orang Yahudi diaspora. Itulah orang-orang Israel, dari dua belas suku itu (cf Yak 1:1), yang hidup di tanah rantau. Bagi mereka yang jauh dari Yerusalem dan di luar wilayah Israel. Ada keyakinan bahwa di tanah rantau, jemaat (turunan Yahudi) itu lagi berada dalam alam benturan nilai-nilai hidup. Ada ketidakpastian dan kebingungan ketika harus bergulat dalam suasana baru dengan segala perwajahan dan latar belakangnya.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Menstruasi, dan Kalender Haid

Pelbagai seruan moral-etik ditampilkan penulis Yakobus dalam suratnya yang dikemas dalam 5 pasal dan 108 ayat. Di antaranya, Yakobus secara jitu menarik perhatian serius pendengarnya akan alarm ‘kejatuhan lidah’. Apa yang diperingatkan Yakobus itu dikepak dalam pasal 3, ayat 1 sampai  12 yang diberi judul “Dosa karena Lidah.”

Lidah dan Bicara: Pancaran Cahaya Kepribadian

Diyakini bahwa karakter seseorang dapat terbaca dari bicaranya. Bersyukurlah apabila seseorang tak pernah terpeleset lidah. Artinya, setiap perkataannya tertata rapi, indah dan benar. Oleh Yakobus, ia dinilai  sebagai “orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya” (Yak 3:2).

Akan tetapi, jelas tiada satu manusia pun yang sempurna dalam perkataannya. Ketika bicara yang terukur amat membantu dalam merekatkan relasi antarjemaat, maka kekacauan dalam berkata-kata akan merusakkan tali ikatan kebersamaan.

Dalam keseharian, nampak nyata ada pribadi yang pandai bicara, ada yang asal omong, ada yang kurang tertib dalam bicara, ada yang berbicara lugas dan terukur, dan ada pula yang bicaranya sedikit dan amat hemat tetapi padat isinya, serta sebaliknya ada yang tempias bicaranya, namun sayang, isinya kering dan tidak berbuah.

Dari gaya dan isi bicaranya, seseorang dapat terselami secara acak-acak isi pembawaan dirinya: tenang, santun, tertib, optimistis, humoris, berpengetahuan, ceria, jujur, tulus apa adanya, ataupun sebaliknya dinilai emosional, cenderung beraura negatif, penuh hinaan, ataupun ‘cerewet mati punya dan yang mati rasa.’

Lidah Tak Bertulang Kontra Kekang dan Kemudi

‘Memang lidah tak bertulang. Tak terbatas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji. Lain di bibir, lain di hati’ (Hendri Rotinsulu). Apa jadinya bila kata-kata keluar berhamburan begitu saja? Ketika orang sungguh terkuasai oleh kebiasaan dan kecenderungan asal omong tanpa kendali lagi? Secara amat telak penulis Yakobus mengibaratkan sebagai ‘perjumpaan antara pijaran kecil api dan hutan’. Tulisnya, “Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita…” (Yak 3:5-6).

Baca juga: Dampak Covid-19 bagi Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan di NTT

Dengan bijak, penulis Yakobus menekankan pentingnya sikap untuk mengarahkan lidah dalam berbicara. Segala sesuatu  yang penting demi protokol berbicara yang kondusif diibaratkannya sebagai  “kekang pada mulut kuda” dan “kemudi kecil pada kapal, yang dikendalikan oleh kehendak jurumudi” (Yak 3:3-4). Karena sekian penting dan berartinya ‘lidah dan bicara’ demi membangun hidup bersama dan meneguhkan persekutuan, pada titik sebaliknya, penulis Yakobus amat mengingatkan betapa riskannya ‘lidah dan bicara’ yang bersemburan tanpa kendali.

Penulis Yakobus akui bahwa segala sesuatu seperti jenis binatang apa pun dapat dijinakkan oleh pembawaan manusia. Tetapi, sayangnya, manusia banyak kali tak sanggup mengekang ‘lidah dan bicaranya’. Ia berkeyakinan,”…tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yak 3:8).

Kepada jemaat dan pendengarnya, penulis Yakobus ingatkan pula akan kedaulatan positif dari lidah, tetapi di samping itu ada pula kobaran-kobaran lidah api yang menghanguskan. Sebab, katanya, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita, dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah; dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (Yak 3: 9-10).

Pentingnya Fomasi Bicara: Tak Sekadar Menata Kata

Sejak usia dini, manusia dilatih untuk mampu berbicara. Keterampilan dalam bicara, penguasaan kosa kata, misalnya, secara amat sederhana bisa menunjukkan pengetahuan seseorang. Ada faktor lain yang tentu berpengaruh dalam kefasihan berbicara. Katakanlah bahwa ada kepercayaan diri yang paten, logika yang runtut, ada pula yang disebut aspek volutif yang menggambarkan motivasi atau kehendak hati di dalam berbicara.

Karena lidah dan kefasihan berbicara berciri komunikatif maka segala lalu lintas berbicara memiliki dampak sosial. Sekurang-kurangnya terhadap rekan pendengar. Oleh karena itu, dalam berbicara terdapat pula tata kramanya (regulasi). Dengan demikian, segala pesan dan isi bicara dapat ditanggap dan memliki nilainya. Kita memang tak boleh sekadar terjebak dalam “bebas berbicara”. Bila harus dikaitkan dengan kebebasan berpendapat dalam media sosial, misalnya, maka beberapa hal ini mesti menjadi rujukan perhatian (Dwi Nikmah Puspitasari-2017):

Baca juga: Hari Buku, Perpustakaan, dan Budaya Membaca 

Pertama, seseorang tak sekadar berbicara. Dibutuhkan  informasi; kepadanya dituntut data yang meyakinkan dan sah. Pentingnya informasi ini agar pembicara tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan. Apalagi kalau sudah sampai mengambil sikap.

Kedua, adalah betapa pentingnya kategorisasi. Secara gemilang, seorang pembicara memiliki keterampilan untuk tiba pada objektivitas. Pembicara harus bebas dari pandangan yang bersifat subjektif ataupun memihak secara ekstrem. Berbicara atas teropong subjektif akan menjerumuskan pembicara dalam jebakan like and dislike (suka dan tidak suka). Tidak keliru pula bahwa dalam hal ini seorang pembicara bisa dengan mudah melangkahi prinsip ‘contra factum argumentum non valet’ (melawan facta/kebenaran, argumen/pernyataan itu tidak kuat). Sekian banyak pembicara ‘terpaksa’ berbual, membohongi, dan mengakali pendengar dengan segala pernyataan ‘contra facta’ (tidak sesuai kenyataan). Mirisnya, segala tanggapan sorak-sorai pendengar sering diamini begitu saja sebagai ‘kebenaran’. Sekian banyak pembicara yang tampak trampil merangkai dan menata kata, tetapi sesungguhnya ia lagi diserap oleh kebohongan atau menyebarkan kepalsuan (hoaks) dan menyimpan motif yang buruk.

Ketiga, adalah apa yang disebut persepsi.  Seorang pembicara tak hanya berbicara atas dasar informasi. Maka diperlukan pula apa yang  disebut kajian akan data. Satu informasi penting disusuri dan didalami demi mendapatkan gambaran atau  persepsi yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan.

Keempat, sekecil apa pun pembicaraan itu tentu ia berdampak pada pendengar. Kondisi psikologis seseorang terbentuk oleh kata-kata yang ditanggap. Jelas, ada etika berbicara, bahwa seseorang diwajibkan berbicara yang santun, pun memilih kata (diksi) yang tepat. Karena manusia itu terkondisi dalam ruang, tempat dan waktu, maka seorang pembicara dituntut untuk arif dalam: kapan waktu atau saatnya, di mana, bagaimana, dan apa isi bicara itu. Hal ini penting untuk menciptakan kondisi yang baik, dan terlebih demi terbangunnya atmosfer dialog atau  komunikasi yang sejuk. 

Baca juga: Pabrik Semen, Janji Manis, dan Ironi Pembangunan

Berbicaralah dalam Semangat Injil

Dalam semangat Injil dan pengajaran penulis Yakobus (Yak 3:1-12, setiap murid Kristus dipanggil untuk berbicara kepada dunia dan  sesama. Bila disimak dari Perjanjian Lama, akan terlihat adanya sekian banyak nasihat yang mesti disuarakan seperti yang tertuang dalam Kitab Amsal, Kitab Putra Sirak, ataupun Kitab Pengkhotbah.

Bila disimak dari Surat Yakobus, maka sejatinya penulis Yakobus hendak menginsafkan jemaat dan para pendengarnya untuk berhati-hati dalam berbicara. Seperti apakah sebaiknya seorang pengikut Kristus mesti bersuara?

Pertama, kita berbicara untuk membangun persekutuan. Kata-kata kita terucap untuk mengutuhkan kebersamaan. Di situ mesti terdengar jelas bahwa sesama siapa pun terajak untuk merapatkan diri demi kesatuan. Jelas, bahwa ada perbedaan pada diri setiap individu, namun ucapan-ucapan yang beretika pasti secara terang-benderang merajut segala yang berbeda itu. Semuanya demi cita-cita dan kebaikan bersama. Sebaliknya, akal budi dan nurani yang sempit tentu akan menghasilkan narasi-narasi fragmentaris. Maka lahirlah  keterpecahan sana-sini. Muncul pula sikap-sikap eksklusif yang amat rentan akan kekerasan verbal, ditembakkan dalam peluru-peluru hujatan sana-sini.

Kedua, Allah yang diimani oleh setiap orang kristen adalah “Allah yang menjadi manusia”. Betapa sungguh manusia dan kisah-kisah hidupnya menjadi amat berarti. Manusia merindukan kata-kata yang pro manusia itu sendiri dan pro kemanusiaan. Tuhan mengingatkan “cintailah sesama manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39). Bila direnungkan sikap Tuhan terhadap manusia, maka jelas terbaca sikap-Nya yang mengampuni dan penuh belas kasih. Yang terpancar dari hati belas kasih Tuhan adalah kata-kata yang membebaskan. Bukan kata-kata penghakiman!

Dalam semangat Injil, kita mesti terlatih dan dibiasakan untuk membuang kata-kata yang melukai sesama, hinaan, caci maki, serta sumpah serapah. Gelondongan kata yang menyudutkan sesama mesti dikuburkan dalam-dalam. Kata penulis Yakobus, “Tetapi siapakah engkau sehingga engkau mau menghakimi sesamamu?” (Yak 4:12).

Ketiga, seorang pengikut Kristus pasti tidak asal bicara. Kata-kata yang terucap itu mesti virtual sifatnya. Itulah kata-kata yang bernafaskan kebajikan, nilai atau keutamaan. Wacana yang terucap itu mengundang pendengar menuju: kasih, sukacita, kebaikan, keberpihakan (solidaritas), keadilan, pengampunan, belarasa, gotong royong (kerja sama), lemah lembut, kerendahan hati dan kebenaran. Ada sekian banyak kata-kata terucap menggelegar, ada pula kata-kata terucap halus dan santun serta terdengar nikmat tertata (hedonisme verbal), ada pula bangunan kata-kata yang terdengar ‘masuk akal yang dipaksakan’, namun semuanya itu jauh dari kebenaran, jauh dari motif yang lurus dan tulus, jauh dari “bonum commune” (kebaikan bersama). Kata-kata seperti itu cuma lahirkan penjara egoisme dengan segala kepentingannya sendiri.

Keempat, ada sekian banyak ‘suara yang tak (mampu) bersuara’. Ada sekian banyak cita dan niat baik yang dikunci rapat. Singkatnya, ada sekian banyak jalan hidup miris yang dialami kaum pinggiran, kaum lemah dan miskin. Itulah tragedi hidup yang dialami oleh strata masyarakat ‘tanpa siapa dan tak beralamat.’ Suara profetik amat dirindukan dan dibutuhkan. Dunia tak pernah boleh ditata dalam struktur yang tak adil, tak seimbang, struktur dan sistem yang menyuburkan tindak koruptif dan manipulatif, yang berpotensi melahirkan anarkisme dan kekerasan.

Dunia merindukan suara-suara martirium demi keadaban hidup bersama. Dan suara-suara itu berasal dari lidah kita yang tertenun dalam kata-kata. Dan kata-kata itu lalu diserukan di tempat di mana kita berada, kepada dunia dan sesama, dan di kesempatan sekarang ini. Dan semuanya ada dalam semangat Injil. Marilah kita mencitai ‘suara, kata, logos, firman, sebagaimana Sang Firman itu sendiri sunguh mencintai kita dan telah menjadi manusia.’*