Home Cerpen Dimung Jawa

Dimung Jawa

1,382
0
SHARE
Dimung Jawa

Keterangan Gambar : Ilustrasi cerpen, Beksan Amasuba.

Cerpen Ricko W

Moang Rago tidak punya waktu lagi untuk memikirkan cara lain, setelah upaya merebut tanah ulayat dengan jalan diplomasi gagal total. Maka dipanggil pula tiga anak laki-lakinya: Sintus, Resi, dan Koli untuk segera menyusun strategi terbaik. Darah muda tiga anak ini masih panas membara sehingga mudah sekali terbakar amarah kalau-kalau dianggap harga diri mereka diinjak-injak.

Walaupun begitu, Moang Rago merasa tidak salah jika mengajak anak-anak terlibat dalam perseteruan ini.

“Akan menjadi urusan mereka di masa depan,” pikirnya.

“Kemarin, saya sudah mengajak kalian bertiga untuk bertemu Dede Sina di Geliting dan kalian dengar sendiri, Dede Sina tak akan mau menyerahkan tanah sebagian kepada kita untuk berkebun,” ujar Moang Rago di hadapan tiga anak laki-lakinya. Pria tua itu tahu apa yang ada di dalam kepala tiga anaknya.

“Sekarang, apa yang akan kalian usulkan?” Tanya Moang Rago sambil mengepul asap tembakau, menatap dengan saksama wajah tiga anaknya satu per satu.

“Sebenarnya, ini tidak akan menjadi masalah besar kalau saja Dede Sina tidak berniat menjual tanah ulayat itu kepada orang lain,” sambung Sintus memberi pendapat. “Sekarang, ini menjadi masalah besar di dalam keluarga.”

Resi dan Koli masih diam dan tampak sedang memikirkan sesuatu. Moang Sina, orang-orang biasa memanggilnya, adalah paman mereka. Dia memang punya rencana menjual tanah ulayat beberapa hektare di lembah Umagera, Kampung Getang, tanah yang sudah diwariskan dari nenek moyang mereka.

Ratusan pohon kelapa, kebun jagung, ubi, pohon kakao, kemiri, dan tanaman lain yang masih segar-segarnya bertumbuh di hamparan tanah itu.

Moang Sina dan semua kerabat dalam lingkaran hubungan keluarga kawin-mawin sudah sehati sepikir hendak menjual tanah yang luas itu dengan bayang-bayang tumpukan uang menggunung yang bisa mereka gunakan untuk membeli apa saja.

Moang Sina dan Rago merupakan saudara sekandung yang lahir dari rahim Du’a Maria Theresia. Bapak mereka, Moang Eting, adalah mantan kepala desa yang sampai pada kematiannya empat tahun lalu, sangat disegani di wilayah Umagera. Istrinya, Du’a Maria, sudah meninggal sepuluh tahun lampau. Kematian dua orang tua ini membawa kesedihan bagi keluarga besar.

Namun, ketika itu juga, entah apa yang ada di dalam pikiran, muncul niat Moang Sina untuk menjual beberapa petak tanah yang luas di kampung. Terang saja, perbuatan ini mendapat pertentangan dari saudara-saudari serahim yang lain.

Moang Rago sebagai anak laki-laki besar amat marah dan tidak bisa menerima perbuatan sepihak adiknya. Dua orang saudari mereka yang menetap di tanah rantau juga kecewa, tetapi hanya bisa berharap banyak dari pendekatan-pendekatan yang dibuat Moang Rago.

Ketakutan mereka akan tindakan serampangan Moang Sina makin besar ketika sepetak tanah yang tidak begitu luas di wilayah pesisir Geliting sudah beralih tangan. Semua pohon dan tanaman yang ada di atas tanah itu sudah digusur habis, entah akan dibuat apa.

Sejak itu, Moang Rago terus saja melakukan pendekatan secara kekeluargaan untuk meredam keinginan adiknya berbisnis tanah ulayat. Sayangnya, setiap usaha pendekatannya seperti menabur garam ke laut.

“Tidak ada cara lain lagi. Kita harus gunakan kekerasan,” ketus Koli disambut anggukan kepala Sintus dan Resi. “Kita siapkan semua hal untuk itu.”

Moang Rago sudah bisa menebak apa yang ada di dalam benak ketiga anaknya. Akan tetapi, makin dia memikirkan dengan keras cara lain yang lebih patut, makin dia menyadari usaha dengan cara apa saja adalah sia-sia.

Sejumlah mobil mewah sudah terlihat beberapa kali memantau lokasi tanah yang akan dijual. Bila mobil itu berhenti di atas puncak Getang, Moang Sina adalah salah satu yang keluar dari mobil itu bersama empat atau lima orang laki-laki berkulit putih terang. Dari atas puncak itu, mereka bisa memandang bentangan lembah Umagera yang sebagiannya merupakan tanah leluhur yang sudah sejak dahulu kala menghidupkan banyak anak manusia dari kesuburan tanahnya.

Mereka tersenyum bahagia melihat pemandangan lembah yang eksotis itu. Begitu pun dengan Moang Sina, riang hatinya melihat para calon pembeli tersenyum puas.

Tiba-tiba saja muncul sejenis guyonan yang ditujukan kepada si pemilik tanah, “bapak minta apa saja akan kami berikan, dan kami akan sulap lembah ini jadi lebih eksotis lagi.”

Tidak ada yang bisa membayangkan kalau guyonan ini sudah bisa membuat Moang Sina memarkir sebuah mobil pick up di halaman depan rumahnya sendiri.

Moang Rago mempertimbangkan ini keras-keras dan selalu berhati-hati mencari jalan lain. Meskipun demikian, apa yang Koli maksudkan dengan ‘kekerasan’ sudah tampak lebih masuk akal dan sesuai kenyataan. Adiknya sudah berkeras hati dan apa yang menjadi niat hatinya sudah tidak bisa diubah dengan cara apa pun. Moang Rago pasti tahu baik seperti apa adiknya akan bersikap.

“Ya, kita akan pakai cara kekerasan,” ujar Moang Rago agak ragu sambil membuang lintingan rokok tembakaunya. Ia pergi meninggalkan tiga anaknya dengan tanda tanya besar di kepala, apa yang akan bapak lakukan lagi?

Pada malam itu, purnama cerah bersinar di langit. Bintang-bintang bertebaran di angkasa. Semilir angin malam berembus pelan. Di belakang rumah, Moang Rago duduk sendirian di tedang sambil mengisap tembakau. Seruas buluh bambu berisi moke ada di depannya.

Pelan-pelan ia tuangkan moke ke dalam sebuah tempurung dan meneguknya dengan wajah masam. Beberapa kali ia lakukan itu dan sampai pada tegukan kesepuluh, matanya mulai sayup-sayup hingga beberapa menit kemudian ia lelap tertidur di atas tedang, tanpa ada yang sempat membangunkannya lagi.

Di dalam tidurnya, Moang Rago bermimpi tentang sebuah kisah yang pernah ia dengar dari bapaknya dulu1. Seorang kepala kampung yang kesohor pada masanya bernama Moang Baga hendak menduduki kampung Hokor. Bersama beberapa tetua kampung, dia bermufakat untuk memerangi orang-orang Hokor dan mengusir mereka dari tanah mereka, tetapi kata tua-tua kampung itu, memerangi orang Hokor harus membawa banyak senjata dan pasukan yang mumpuni.

Moang Baga pun menemukan cara lain. Dia membuat sebuah perjamuan besar dan mengundang semua rakyat datang ke Natar Gahar. Ketika orang-orang dalam perjamuan itu hendak membuang hajat (kotoran), disuruhlah mereka untuk membuang hajat dalam tiga tempayan (tiga periuk besar) yang sudah tersedia. Tempayan itu disebut Dimung Jawa.

Tatkala, tiga tempayan besar itu sudah penuh terisi kotoran manusia, tempayan itu digulingkan dari Wolong Tolo Rajo (sebuah bukit) ke tengah-tengah kampung yang berada di lembah.

Sewaktu orang-orang di lembah itu mencium bau kotoran yang ada dalam tempayan itu, mereka segera berlari meninggalkan kampung karena takut terkena penyakit sampar. Moang Baga pun berhasil menduduki wilayah itu setelah orang-orang di sana terusir keluar karena tiga tempayan itu pecah di tengah-tengah kampung dan menyebar bau busuk yang luar biasa.

Moang Rago terjaga dari tidurnya, mengusap-usap kantung matanya dan lekas minum segelas air. Ingatan akan mimpi itu lekat-lekat ia pikirkan dan tak pernah lepas sekalipun dari dalam kepalanya di sepanjang hari itu.

“Kita punya rencana lain,” tuturnya kepada Sintus yang sudah bangun tidur dan hendak ke kebun. “Kita punya rencana lain?” tanya Sintus heran.

Bapaknya mengangguk dan merekah senyum pertama di awal hari itu, “tidak akan ada kekerasan. Kita hanya akan membuat sedikit bencana di atas tanah itu.”

Jauh di dalam lubuk hatinya, Moang Rago masih merasa risau. Akan tetapi, ia yakin Dimung Jawa adalah cara yang direstui leluhur untuk merebut tanah itu kembali.


1Cerita ini ada di dalam buku E.D.Lewis, (ed.), Hikayat Kerajaan Sikka, penerj. Oscar Pareira Mandalangi, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2008), hlm. 88-89.


Ricko W, saat ini sedang mencari jati diri di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata.

 

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas.