Home Cerpen Dua Cangkir Kopi di Hari Ulang Tahun Pernikahan

Dua Cangkir Kopi di Hari Ulang Tahun Pernikahan

1,826
0
SHARE
Dua Cangkir Kopi di Hari Ulang Tahun Pernikahan

Keterangan Gambar : ilustrasi cerpen, rolis huar/flores pos

 

Cerpen Selo Lamatapo

Gara-gara kopi, Jesica dan suaminya bertengkar hampir tiap hari. Penyebabnya sederhana, kopi buatan Jesica tidak sesuai rasa.

Suaminya selalu beralasan untuk menyalahkan Jesica mulai dari kelebihan gula pasir, kelebihan kopi, air yang terlalu dingin atau kadang kelebihan panas, gelas yang tidak sesuai, dan sebagainya. Selalu saja ada yang kurang dari kopi buatan Jesica. Dan ujung-ujungnya adalah pertengkaran.

“Mulai hari ini, aku sendiri yang buatkan kopi. Urus saja keperluan yang lain.” Philipus Lodo, suami Jesica, menggerutu sembari membuang kopi buatan istrinya. Jesica diam merasa bersalah. Tangannya merapikan taplak meja dan letak tudung saji yang tidak miring.

“Aku ini kepala desa. Tamu-tamu pasti akan menggerutu kalau kopi buatanmu begitu-begitu saja.” Philipus Lodo tak henti-henti mengeluh di dapur sambil menuangkan air panas ke dalam larutan kopi yang telah ia campurkan sendiri. Mulutnya tak henti komat-kamit seperti ayam yang hendak bertelur.

“Intinya, aku sendiri yang akan buatkan kopi. Kerjakan saja pekerjaan lain.”

Jesica menyadari keadaan ini bagai kesialan yang bercokol abadi dalam dirinya. Kopi buatannya selalu saja tidak sesuai dengan lidah suaminya. Padahal, ia telah menyeruput dan merasa kopi buatan tangannya adalah kopi terbaik. 

Baca juga: Perempuan yang Menanti Hujan

Tabiat Philipus Lodo tidak jauh berbeda dengan ayah Jesica. Kopi buatan Jesica kerap dinilai tidak sesuai rasa. Sewaktu kecil, Jesica bersama dua saudarinya, Esi dan Sika, berlomba-lomba membuat secangkir kopi untuk sang ayah. Ayahnya akan meneguk kemudian memberikan penilaian sebelum bergegas ke kantor.

Kopi terbaik selalu mendapat hadiah dari ayahnya sepulang kerja. Hadiah itu selalu berbeda-beda: jam tangan, tas sekolah, baju dan celana baru, dan masih banyak hadiah lain.

Ayahnya berprinsip jelas, tiap pekerjaan patut mendapat hadiah. Meskipun demikian, hadiah bukanlah prioritas utama. Yang terpenting adalah Jesica dan saudarinya mampu menerapkan rasa tanggung jawab. Bukankah tanggung jawab bisa dari hal sederhana?

Ketiganya tidak pernah saling membagikan resepnya masing-masing. Karena sama saja. Sang ayah yang menentukan dengan caranya sendiri.

Pernah Jesica bertanya pada Esi mengenai resepnya setelah sang ayah menetapkan kopi Esi sebagai kopi terbaik pagi itu. Jesica menerapkannya pada keesokan hari. Tetapi, hasilnya serupa. Kopi Esi lagi-lagi menjadi pilihan sang ayah.   

“Aku sudah menerapkan resepnya seperti yang engkau ajarkan kemarin, tetapi kenapa kopi buatanku tidak menjadi pilihan ayah pagi ini, Esi?”

“Aku juga tidak tahu.” Esi menimpalinya dengan wajah bingung sembari meninggikan pundaknya, lalu bergegas ke dapur untuk membersihkan cangkirnya.

“Ah, ayah curang.” Jesica mengeluh sembari mengikuti Esi ke dapur.

Sore hari, di beranda rumah, Jesica memberanikan dirinya bertanya kepada ayahnya perihal kopi.

“Kenapa harus selalu kopi, Ayah? Kenapa bukan minuman yang lain? Di lemari ‘kan ada banyak minuman?” Gerutu Jesica di hadapan ayahnya. Sang ayah tersenyum. Ia menatap mata anaknya yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

“Kopi itu pahit, Jesica. Sama dengan hidup. Terkadang pahit. Makanya ayah meminta kamu membuatnya menjadi manis. Biar nikmat. Hidup itu perlu dinikmati walau ada pahitnya.”

“Aku sudah membuatnya menjadi manis, Ayah.”

“Tapi, manis itu relatif ‘kan, Nak? Tergantung pada siapa yang merasa. Engkau boleh saja merasa kopimu manis dan berharap menjadi kopi pilihan ayah, tetapi belum tentu dengan ayah.” Ayahnya tersenyum melihat raut Jesica yang memerah karena marah. Lalu, dirapikannya rambut Jesica yang tergerai karena angin sore.

“Ayah ingin kamu bertiga belajar setia dari hal sederhana, mulai dari membuatkan kopi, Nak. Tidak perlu merasa bersalah karena kopi buatanmu selalu tidak sesuai rasa ayah. Ayah ingin melihat kesetiaanmu dari hal sederhana ini, Nak.” 

Saat itu juga Jesica teringat sosok ibunya yang telah meninggalkan mereka. Ayahnya marah-marah karena kopi buatan ibunya tidak sesuai rasa ayahnya. Hampir tidak pernah ada pujian untuk ibunya.

Hingga suatu pagi, ketika kejenuhan telah menumpuk dan menjadi sesak, ibunya memutuskan untuk meninggalkan ayahnya dan mereka bertiga. Ibunya pergi usai bertengkar begitu hebat dengan ayahnya di suatu pagi musim panas.

“Kopi buatanku selalu tidak sesuai rasamu. Selalu saja salah, salah, dan salah! Tidak pernah sedikit pun engkau berterima kasih dan sedikit memuji.” Ibunya meraung-raung di ruang makan dan membanting gelas kopi ke lantai hingga pecah berserakan. Pecahan gelas hampir saja mengenai kaki ayahnya yang sedang duduk di kursi.

Belum puas marah, ibunya mulai menuduh ayahnya, “Ataukah ini alasanmu untuk mencari istri baru yang dapat membuatkan kopi sesuai seleramu?”

“Istri baru?”

“Ia! Istri baru! Perempuan yang kau sanjung, kau puji, dan kau idamkan kopi buatannya seturut seleramu!” Ibunya tetap bernada tinggi.

“Kenapa kau curigai aku yang bukan-bukan?”

“Persetan! Bukan urusanku lagi!”

“Ina!” Ayahnya bernada tinggi.

“Aku mau pergi!” Ibunya bergegas ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Sesudah itu, ibunya keluar dan pergi entah ke mana.

Ayahnya hanya memandang kepergian ibunya tanpa kata apa pun. Itu kepergian yang tak pernah kenal pulang. Kopi di lantai telah dingin dan segera menjadi kenangan.

Bayangkan, gara-gara kopi, yah, gara-gara kopi, sebuah hubungan harus berakhir.

 “Mulai hari ini, kamu bertiga yang akan buatkan kopi untuk ayah.” Ayahnya berbicara setelah ibunya tidak kelihatan lagi di jalan. Dan sejak itu juga, Jesica menyadari bahwa kopi buatannya sama dengan kopi ibunya yang selalu tidak sesuai dengan selera ayahnya.

***

Setelah menikah dan hidup bersama suaminya, Jesica harus menghadapi suaminya yang juga marah-marah hanya karena kopi buatannya. Ia mulai menemukan dirinya tidak dihargai suaminya untuk sebuah kesetiaan sederhana seperti membuatkan kopi. Pertengkaran yang kerap terjadi mulai menumbuhkan kejenuhan dan kecurigaan.

“Jangan-jangan suamiku berselingkuh dengan perempuan lain.” Namun, dengan cepat ia menepis pikirannya demikian, “Tidak mungkin. Suamiku tahu menghargai perempuan, apalagi aku, istrinya.”

Demikian kelakuan Jesica belakangan ini. Ia selalu berprasangka buruk terhadap suaminya dan menepis pikiran-pikiran yang diciptakannya itu. Sampai akhirnya kecurigaan berhasil menguasai dirinya.

“Jika suamiku tahu menghargai aku, mengapa ia selalu menyalahkan aku untuk hal sederhana seperti membuatkan kopi? Mengapa selalu ada pertengkaran, pertengkaran, dan pertengkaran? Setidak-tidaknya ia berterima kasih kepadaku untuk kesetiaan sederhana ini.”

Kejenuhan rupanya telah menggunung menjadi kekecewaan. Ia sempat berpikir untuk pergi sebagaimana yang dilakukan ibunya dahulu. Namun, itu sia-sia. Kepergian hanya akan menyisakan luka tanpa penyelesaian. Karena itu, ia mulai merencanakan hal lain ketika suaminya ke kota untuk mengikuti kegiatan selama sehari.

“Aku racuni saja suamiku,” katanya pada diri sendiri setelah membaca pesan singkat dari suaminya di layar telepon genggamnya. Suaminya meminta Jesica membuatkan kopi untuknya di hari ulang tahun pernikahan mereka.

“Aku akan tiba di rumah sore ini dan ingin meminum kopi buatan tanganmu. Aku ingin kopi itu serupa lima tahun lalu, di hari pernikahan kita.” Demikian isi pesan singkat suaminya di telepon genggam.

Sore harinya, di hari ulang tahun pernikahan mereka, ia buatkan dua cangkir kopi. Ia juga menyiapkan racun tikus untuk dibubuhkan ke dalam kopi buatannya.

Setelah memastikan larutan kopi dan gula telah cukup, ia mengaduknya secara merata. Bungkusan racun tikus dibukanya dan diletakkan di dekat termos air panas. Sekali lagi ia mengaduk larutan kopi agar semakin merata.

Bayangan suaminya berlarian di wajahnya. Ia mengenang ketika suaminya datang ke rumahnya dulu. Lelaki itu begitu mengagumi kopi buatannya. Dan Jesica merasa begitu bahagia. Sebab, pujian itu datang dari kekasihnya yang kini menjadi suaminya. Itulah satu-satunya pujian yang ia dengarkan setelah bertahun-tahun tak ia dapatkan dari ayahnya.

Kopi juga menjadi minuman malam pernikahan mereka. Waktu itu, sebelum ke ranjang pengantin, suaminya meminta dibuatkan kopi. Dan untuk kedua kalinya, lelaki suaminya itu memuji kopi buatan tangan Jesica. Malam pernikahan itu menjadi malam paling bahagia tanpa pernah berpikir hari-hari selanjutnya akan diwarnai pertengkaran perihal kopi.

Hari ini, di usia lima tahun pernikahan, ia berdiri mengaduk kopi bagai mengaduk kenangan. Kenangan lama itu perlahan-lahan menguap serupa kopi di cangkir.

Namun, yang timbul sesudahnya adalah bayangan suaminya yang marah-marah, pertengkaran-pertengkaran, dan dirinya yang selalu disalahkan perihal kopi. Bayangan ini menjelma kebencian yang menggemuruh di dadanya.

“Ia harus kuracuni agar tidak ada kesusahan menimpa diri ini.” Tangannya gemetar karena kekecewaan yang meluap-luap. Ia membubuhkan racun tikus itu ke dalam salah satu cangkir kopi, mengaduknya sampai merata, dan mendengar pintu depan dibuka. Suaminya telah tiba.

Racun tikus itu dimasukkan secepatnya ke dalam lemari makan ketika langkah kaki suaminya mendekat. Langkah itu tidak tergesa-gesa. Jesica terus mengaduk kopi itu tanpa menoleh kepada kedatangan itu.

Setelahnya, ia merasakan dua tangan kekar telah merengkuh pinggangnya dan mendekap tubuhnya tanpa ada jarak. Sebuah pelukan yang amat hangat. Jesica terkenang kembali pelukan lima tahun lalu.

Di meja, larutan racun telah merata di dalam cangkir kopi. Jesica membalikkan tubuhnya kepada lelaki itu dan lelaki itu mendaratkan ciuman di keningnya yang bening.

“Selamat ulang tahun pernikahan, istriku.” Suaminya berkata pelan lalu membenamkan bibirnya ke bibir Jesica. Tanpa disuruh, Jesica mengeratkan pelukan pada leher suaminya dan menikmati ciuman yang telah lama pudar. Begitu lama.

Dengan tangan kanan, suaminya mengambil salah satu cangkir kopi di meja setelah menciumi bibir Jesica. Ia menyeruput kopi itu amat pelan, serupa melumat bibir istrinya. Dua teguk, tiga teguk, empat teguk, dan lima teguk.

Jesica menatapnya hening dan memeluk lagi suaminya setelah gelas itu diletakkan kembali ke meja. Suaminya mengeratkan pelukan di pinggang Jesica dan berbisik pelan sekali di daun telinganya, “Aku mencintai kopimu, Istriku.”

Jesica bagai mendapat kekuatan. Ia mendaratkan lagi bibirnya ke bibir suaminya dengan ciuman serupa ciuman malam pertama, lima tahun lalu. Penuh gairah, penuh cinta, dan lebih lama dari sebelumnya. Di hatinya, kebahagiaan dan cinta telah kembali mekar.

Dalam pelukan yang telah berubah posisi, Jesica melihat dua cangkir kopi di meja. Secangkir telah diseruput suaminya dan satunya masih utuh. Ia tak berkata apa-apa, hanya mengeratkan pelukan di leher suaminya.

“Selamat ulang tahun pernikahan, suamiku.” Jesica berbisik. Suaminya tersenyum. Keduanya sama-sama membenamkan bibir, berciuman begitu lama, lebih bergairah, bahagia, dan penuh cinta.

Di meja, secangkir kopi beracun yang belum diseruput menguap naik dan menjadi dingin di hari pernikahan mereka.

 


Selo Lamatapo, tinggal di Ende.

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas