Home Bentara Jika Kau Gagal

Jika Kau Gagal

689
0
SHARE
Jika Kau Gagal

Keterangan Gambar : Mahasiswa STPM Santa Ursula Ende saat wisuda di Aula STPM Ende, Sabtu (16/11).

 

“… Jika kau gagal, kau akan terjun ke dalam ngarai yang tak terukur dalamnya. Tubuhmu akan lumat. Tulangmu remuk.”

Ini potongan sebuah pesan berbentuk sajak yang ditulis Mao Zedong tahun 1976. Mao Zedong menulis pesan ini buat Jiang Qing, istrinya. Dan ini diungkapkan oleh Dr. Roxane Witke setelah wawancaranya yang terkenal dengan wanita itu.

Pesan ini dikutip sedikit panjang oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir.

“Kata-kata yang sedikit ini, mungkin pesanku yang terakhir untukmu. Hidup manusia terbatas, tapi revolusi tak mengenal tepi. Dalam perjuangan selama sepuluh tahun terakhir ini, aku telah mencoba mencapai puncak revolusi, tapi aku tak berhasil. Kau mungkin bisa mencapai yang tertinggi. Jika kau gagal, kau akan terjun ke dalam ngarai yang tak terukur dalamnya. Tubuhmu akan lumat. Tulangmu remuk.”

Dalam konteks yang berbeda, pesan ini boleh disematkan kepada 148 sarjana baru Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende. Generasi muda Indonesia ini siap diutus kembali ke desa. Mereka diutus untuk membangun desa.

“Pada tahun ini, kami akan melepas 148 sarjana baru. Mereka kami arahkan untuk kembali membangun desanya. Pemerintah sudah memberikan anggaran langsung ke desa. Kesempatan ini harus mereka manfaatkan bersama masyarakat untuk bangun desa,” ujar Ketua STPM Santa Ursula Ende, Andreas Ngea, (FP, Jumat 15/11). 

“Kau mungkin bisa mencapai yang tertinggi. Jika kau gagal, kau akan terjun ke dalam ngarai yang tak terukur dalamnya. Tubuhmu akan lumat. Tulangmu remuk.”

Kenapa harus kaum muda?

Mereka adalah generasi penerus. Di pundak mereka, bangsa ini bersandar diri. Di nadi mereka, bangsa ini berharap: untuk hidup, untuk maju, untuk berkembang, untuk sejahtera.  

Lantas, apa “bekal” kekuatan mereka untuk membangun?

Andreas Ngea mengatakan, para sarjana muda ini telah dibentuk dan dibekali dengan ilmu pembangunan desa serta pendidikan karakter dengan ciri khas sebagai pelayanan untuk kembali ke desa dan membangun desanya.

Hanya itu?

Tentu tidak. Seseorang pernah bilang, apa yang kita peroleh di ruang kuliah dan kampus tak akan cukup. Di kampus, kita hanya belajar disiplin berpikir, tetapi yang memberi daya dalam hidup adalah pengalaman.

Karena itu, mereka diutus. Di sana, mereka akan menemukan segala tetek bengek di luar dugaan mereka. Bahkan, melampaui segala yang mereka timba di ruang kelas bersekat-sekat. Hati dan isi kepala mereka akan diaduk-aduk di hadapan pilihan dan tawaran. Kemudian, mereka paham pertemuan ilmu dan pengalaman.

“Kau mungkin bisa mencapai yang tertinggi. Jika kau gagal, kau akan terjun ke dalam ngarai yang tak terukur dalamnya. Tubuhmu akan lumat. Tulangmu remuk.”

Bayangkan ngarai yang curam, tak terukur dalamnya. Bangsa kita tengah melintas di atasnya. Langkahnya terseok-seok. Sudah sejak dulu memang. Segilintir orang sedang berjuang menjerumuskan bangsa ini ke dalam ngarai yang gelap. Membuatnya hancur berkeping-keping. Beberapa di antaranya memilih berhenti berjuang. Yang lain tafakur diam. Bimbang tanpa kepastian.

Lalu, kepada siapa bangsa ini berharap?

Generasi muda. Ke-148 sarjana baru STPM itu dan kaum muda bangsa kita. Merekalah generasi penerus. Di pundak mereka, bangsa ini bersandar diri. Di nadi mereka, bangsa ini berharap: untuk hidup, untuk maju, untuk berkembang, untuk sejahtera.

“Jika kau gagal, kau akan terjun ke dalam ngarai yang tak terukur dalamnya. Tubuhmu akan lumat. Tulangmu remuk.”

Dan bangsa ini…. selesai.  

Oleh Selo Lamatapo