Home Opini Keluarga, Pemain Utama Pendidikan Anak

Keluarga, Pemain Utama Pendidikan Anak

Oleh Silvester Manca / Pengajar di Stipas Santo Sirilus Ruteng

755
0
SHARE
Keluarga, Pemain Utama Pendidikan Anak

Keterangan Gambar : Silvester Manca


SUDAH BEBERAPA bulan ini, bangsa kita bergulat menghadapi pandemi covid-19 yang menular begitu cepat, lebih cepat daripada upaya untuk mengatasinya. Hingga hari ini, puluhan ribu orang sudah terinfeksi dan ribuan orang sudah meninggal.

Pemerintah dan berbagai kalangan pun terus berjuang agar mata rantai penyebaran virus ini segera diputus. Berbagai kebijakan pun diambil mulai dari social/physical distancing, PSBB hingga new normal yang diikuti dengan imbauan dan tindakan tegas agar masyarakat benar-benar mematuhi protokol kesehatan.

Sungguh terasa bahwa pandemi tersebut telah mengubah dan bahkan memorak-porandakan berbagai aspek kehidupan manusia, baik profan maupun religius, sosial maupun personal.

Salah satu perubahan yang sangat terasa adalah perihal proses pendidikan di berbagai institusi pendidikan pada setiap satuan pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Akibat pandemi ini, institusi pendidikan terpaksa menempuh cara baru agar proses pembelajaran itu terus berlangsung, agar anak didik tetap menikmati haknya, dan pendidik tetap menjalankan tugas untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.

Maka kini kita mengenal istilah belajar di atau dari rumah yang dikemas dalam berbagai bentuk oleh berbagai institusi pendidikan sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing.

Penerapan proses pendidikan (pembelajaran) dengan cara baru ini tentu mempunyai keterbatasan. Ada sejumlah hal positif dalam proses pembelajaran dengan cara lama yang hilang, misalnya, interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik, dan antarpeserta didik.

Meski demikian, kita harus tetap mengakui bahwa pandemi covid-19 ternyata memunculkan pula berbagai hal positif. Maka benar bahwa setiap kesulitan pasti ada hikmahnya sepanjang manusia mau merefleksikannya.

Pada masa pandemi ini, muncul banyak hal baru yang sebelumnya kurang diperhatikan dan dipraktikan. Misalnya, pandemi mendorong orang untuk membudayakan pola atau gaya hidup bersih seperti cuci tangan, ada kerinduan yang mendalam untuk bertemu secara langsung atau untuk berpartisipasi dalam kehidupan atau upacara keagamaan, dan masih banyak hal lain.

***

Dalam kaitan dengan kegiatan pendidikan di sekolah, pandemi covid-19, misalnya, telah membuat manusia menyadari kembali hal-hal yang sebelumnya sering diabaikan dan dilupakan. Hal tersebut terutama berkaitan dengan eksistensi keluarga (atau orangtua) sebagai pendidik pertama dan utama. Kegiatan belajar dari rumah menjadikan orangtua sebagai penanggung jawab utama pendidikan itu.

Artinya, belajar dari rumah memosisikan kembali orangtua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas pendidikan anak. Keberhasilan kegiatan belajar dari rumah akan sangat ditentukan oleh partisipasi aktif orangtua dalam mengarahkan dan menyiapkan kondisi yang kondusif bagi peserta didik untuk tetap belajar di rumah.

Pemosisian orangtua sebagai pendidik pertama dan utama tentu bukanlah akibat dari pandemi. Namun pandemi covid-19 mengembalikan orangtua kepada fitrahnya sebagai pendidik pertama dan utama. Pada masa pandemi ini, orangtua dibawa pulang kepada fitrahnya yang sesungguhnya.

Dengan ini, orangtua diharapkan mampu menjalankan tugas dan panggilannya itu secara sungguh-sungguh. Inilah saat yang paling baik bagi orangtua untuk menunjukkan jati dirinya sebagai pemain utama dalam proses pendidikan anaknya.

Pada masa seperti ini, orangtua harus mengerahkan seluruh tenaga, pikiran, dan hati untuk membimbing anak-anaknya agar kegiatan belajar dari rumah memberikan dampak yang positif bagi kemajuan dan perkembangan diri peserta didik.

Selain itu, masa krisis ini menjadi kesempatan yang berharga bagi orangtua untuk turut merasakan dan mengalami suka-duka yang dialami oleh para guru di sekolah dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Kiranya orangtua menjadi insaf bahwa betapa berat tugas yang diemban oleh para guru di sekolah.

Harapannya, setelah wabah ini berlalu orangtua terus-menerus menunjukkan keterlibatan konkretnya terhadap pendidikan anak, tidak hanya dalam hal finansial, tetapi juga dalam kaitan dengan proses pendidikan itu sendiri. Orangtua tidak boleh lagi berpangku tangan dalam proses pendidikan yang sedang dilaksanakan di sekolah.

***

Lebih spesifik dikatakan bahwa orangtua tidak lagi dengan gampang memolisikan oknum guru yang mungkin dianggap mengambil tindakan yang tidak biasa terhadap peserta didik. Dengan demikian, guru tidak menjadi gamang dalam menjalankan tugasnya membantu orangtua sebagai pendidik pertama dan utama. Ini tentu terkait dengan fenomena banyaknya guru yang dilaporkan ke polisi lantaran mengambil tindakan keras terhadap peserta didiknya.

Orangtua dan guru di sekolah harus bersinergi secara baik. Rumah dan sekolah harus menjadi tempat belajar yang baik bagi peserta didik. Keduanya harus saling mendukung dan mengisi.

Dengan porsinya masing-masing, orangtua dan guru harus bergerak kepada tujuan yang sama, yaitu kecerdasan hidup perseta didik. Hanya dengan itu, pendidikan kita dapat berhasil dengan baik.*