Home Manggarai Timur Kenapa KKI Gelar Seminar Kesehatan Jiwa di Manggarai Timur?

Kenapa KKI Gelar Seminar Kesehatan Jiwa di Manggarai Timur?

1,190
0
SHARE
Kenapa KKI Gelar Seminar Kesehatan Jiwa di Manggarai Timur?

Keterangan Gambar : Ketua DPRD Manggarai Timur Heremias Dupa, Vikep Borong Romo Simon Nama, Wakil Bupati Manggarai Timur Stefanus Jaghur, Wakil Ketua DPRD Manggarai Timur Damu Damian, dan Ketua KKI Provinsi NTT Pater Avent Saur, dalam Seminar Nasional di Aula Kevikepan Borong, Kamis (31/10/2019)

 

Borong, Flores Pos — Wadah sosial kemanusiaan yang peduli terhadap orang dengan gangguan jiwa di Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan Seminar Nasional tentang Kesehatan Jiwa di Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores.

Seminar nasional bertema “Mengupayakan Kesehatan Jiwa di Manggarai Timur: Bebas Pasung, Bongkar Stigma, dan Stop Diskriminasi terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa,” berlangsung di Aula Kevikepan Borong, Kamis (31/10/2019).

Baca juga: KKI Gelar Seminar Nasional tentang Kesehatan Jiwa di Manggarai Timur

Perlu diketahui bahwa wadah KKI didirikan di Ende oleh Pater Avent Saur SVD pada 25 Februari 2016. Karena makin banyak penderita gangguan jiwa yang terdata dan makin banyak anggota masyarakat yang menjadi sukarelawan, maka KKI melebarkan sayapnya ke semua kabupaten di Flores-Lembata dan Pulau Timor.

Di Manggarai Timur, KKI dibentuk tahun 2017, beranggota orang-orang dengan pelbagai latar belakang pekerjaan, baik jurnalis, guru, PNS, perawat, masyarakat sipil, keluarga penderita, dan lain-lain.

Para sukarelawan berjalan dari titik ke titik di wilayah Kabupaten Manggarai Timur untuk mendatakan penderita gangguan jiwa, mengunjungi yang terpasung, dan yang berkeliaran di jalanan dalam Kota Borong dan pelosok-pelosok kampung, serta yang berdiam saja di rumah.

Semua penderita belum mendapat perawatan medis dari para petugas kesehatan, sekaligus mengalami perlakuan diskriminatif dari keluarga dan warga masyarakat di sekitar, serta mendapat stigma sosial yang kental.

Baca juga: Pelayanan Kesehatan Jiwa di NTT Belum Memadai

Karena itu, selain dalam rangka memaknai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang setiap tahun diperingati pada 10 Oktober, Seminar Nasional Kesehatan Jiwa di Manggarai Timur merupakan sebuah langkah awal untuk mengakomodasi dan menyatukan keterlibatan semua pihak terutama Pemerintah dan DPRD Kabupaten Manggarai Timur dalam mengatasi persoalan gangguan jiwa di wilayah tersebut.

Apa yang Ingin Dicapai?

Ketua KKI Provinsi NTT, Pater Avent Saur, mengatakan bahwa Seminar Nasional Kesehatan Jiwa bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang kesehatan jiwa dan tentang gangguan jiwa.

“Selain itu, masyarakat diberitahu tentang beberapa regulasi baik undang-undang maupun peraturan menteri kesehatan dan peraturan menteri sosial tentang pelayanan kesehatan jiwa,” tuturnya.

Membongkar pandangan negatif atau stigma sosial terhadap penderita gangguan jiwa, lanjut Pater Avent, adalah juga hal yang kita mau capai dalam seminar tersebut. Dengan itu, masyarakat juga didorong untuk stop tindakan pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa.

Menurutnya, pemerintah juga sedemikian rupa didorong untuk segera menciptakan program dan menyusun kebijakan serta sistem pelayanan kesehatan jiwa yang memadai di wilayah Manggarai Timur.

Dalam rangka menunjang program dan kebijakan pemerintah, katanya, DPRD Manggarai Timur juga didorong agar mengalokasikan anggaran pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial terhadap penderita gangguan jiwa melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Butuhkan Layanan Medis

Sementara itu, Koordinator KKI Cabang Manggarai Timur, Markus Makur, mengatakan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa di Manggarai Timur sekitar 200-an orang. Yang terpasung, puluhan orang.

Semua penderita gangguan jiwa, kata Makur, belum mendapat pelayanan kesehatan jiwa dari pemerintah. Keluarga penderita masih mengandalkan dukun dan pendoa.

Kehadiran KKI, lanjutnya, bisa membongkar stigma sosial tentang gangguan jiwa, dan bekerja sama dengan dokter sukarelawan KKI, mulai memberikan layanan medis kepada penderita.

“Kita berharap melalui dinas kesehatan dan puskesmas, penderita bisa mengakses layanan medis,” katanya.

Narasumber dari WHO Indonesia dan KPSI Jakarta

Seminar yang dibuka oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, Stefanus Jaghur, tersebut digelar dalam rangka memaknai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober 2019 lalu, berlangsung di Aula Kevikepan Borong pada Kamis (31/10/2019), mulai pukul 09.00 Wita.

Tampil sebagai narasumber, Doktor dokter Albert Maramis dan Saudara Osse Kiki. Albert Maramis adalah psikiater (dokter ahli jiwa), mantan Konsultan WHO Filipina dan Nasional Professional Officer WHO Indonesia, serta Dosen Tamu pada Departemen Psikiatri Universitas Indonesia, Jakarta.

Baca juga: 600-an Orang, Jumlah Penderita Gangguan Jiwa di Kabupaten Sikka

Sementara itu, Osse Kiki, adalah seorang penyintas skizofrenia dan aktivis kesehatan jiwa pada Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Jakarta serta penyiar Radio Pelita Kasih (RPK) Jakarta khususnya pada Program Obrolan Sehat Jiwa, setiap hari Kamis.

Hadir pada kesempatan itu, Wakil Bupati Manggarai Timur, Ketua dan Wakil Ketua DPRD Manggarai Timur, perwakilan dari Dinas Kesehatan dan Kepala serta para staf Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur.

Hadir juga Vikep Borong, Romo Simon Nama, serta pada dokter dan perawat dari pelbagai puskesmas di wilayah Kabupaten Manggarai Timur, para sukarelawan, simpatisan, para siswa, para guru, dan keluarga penderita gangguan jiwa.

Penulis: Albert Harianto
Editor: Avent Saur