Home Cerpen Kota Tanpa Jam

Kota Tanpa Jam

998
0
SHARE
Kota Tanpa Jam

Keterangan Gambar : ilustrasi cerpen, Robert Watowai

Cerpen Frandy Saputra

Jangan pernah sekali-kali kau pergi ke kota itu dengan membawa jam, kecuali kau memang berniat ingin diburu warga kota itu beramai-ramai dengan menggunakan senapan, hingga akhirnya kau ditemukan mati membusuk penuh peluru di hutan yang terletak di luar kota itu.

Semua warga di kota itu, dari presiden hingga warga biasa, membenci benda yang bernama jam, tanpa terkecuali. Di kota itu, jam dijadikan musuh utama yang harus diperangi dan dibasmi, bahkan melebihi korupsi.

Di sekolah-sekolah, pendidikan anti jam dijadikan bahan mata pelajaran utama. Bahkan seorang bayi diajarkan terlebih dahulu cara membenci jam sebelum diajarkan cara berbicara.

Maka sungguh sangat wajar jika mereka seolah-olah ingin mengunyah hidup-hidup orang yang berani membawa jam, benda laknat itu ke dalam kota mereka.

Pernah pada suatu waktu, sepasang turis asing tersesat tak tahu arah dan terhenti di kota itu. Mereka bingung dan berusaha menanyakan arah pada seorang anak kecil yang kebetulan lewat.

Mereka terheran-heran saat sang anak melihat mereka bagaikan menyaksikan sepasang iblis yang ingin mengulitinya hidup-hidup. Anak itu berlari tunggang langgang ke tengah kota.

Lima menit berlalu. Keheranan mereka berubah menjadi kengerian yang teramat dahsyat. Bagaimana tidak? Dari tengah kota itu muncul orang-orang yang berlari dengan beringas sambil menebas-nebaskan golok dan parang ke udara.

Mereka menggigil ketakutan. Belum sempat menyadari kesalahan-kesalahan apa yang diperbuat, tubuh mereka telah diseret ke tengah kota.

Mereka diperintahkan untuk berlutut. Tubuh mereka menggigil ketakutan. Dari kepala, darah segar menetes-netes serupa air di ujung seng karat.

Entah telah berapa kali tubuh mereka dipukuli, mereka tak tahu. Mereka sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Yang ada hanya bayangan kematian yang kian mendekat. Dalam benak, mereka menyumpahi ketololan yang telah menghantar mereka ke kota itu.

“Kalian semua, lihatlah dua iblis asing ini. Mereka bukan hanya menakut-nakuti salah seorang anak dari kota kita, tetapi juga berani membawa masuk benda terkutuk ini ke dalam kota kita!” Seorang bapak berteriak nyaring sambil merampas dua buah jam tangan dari tangan kedua turis asing tersebut.

Dengan geram dibantingnya dua buah jam itu, kemudian dipukulnya lagi kepala kedua turis itu dengan gagang golok. Kepala penuh ketakutan itu semakin menyemburkan darah segar. Entah sudah berapa tetes banyaknya.

“Kota ini tidak mengenal jam!!! Jam hanya diperuntukkan bagi mereka, manusia-manusia yang ingin tunduk dan patuh padanya. Orang-orang kota ini jauh lebih mulia daripada jam. Janganlah kita mau diperbudak pada benda bodoh yang hanya bermodalkan tiga jarum tak jelas itu." Ia terus berteriak.

"Kita tidak tunduk pada jam yang selalu membawa-bawa nama waktu bersamanya. Masa bodoh dengan waktu. Kita juga tak memerlukan itu. Biarkan saja kita berbuat sesuka kita, makan sesuka kita, bekerja sesuka kita, tidur sesuka kita, tak perlu minta izin bahkan merasa bertanggung jawab pada waktu untuk melakukan itu semua." Ia menatap tajam. 

"Bukankah kita, warga kota ini, adalah orang merdeka? Waktu adalah tiran, jangan pernah kita mau jadi kacungnya!!!” Lelaki yang berteriak-teriak tadi semakin kalap. Napasnya menyembul-nyembul tak beraturan. Matanya bernyala-nyala memancarkan kebencian.

Kemudian, dalam tempo sesingkat-singkatnya, ia mengangkat golok dan menebas putus urat leher kedua turis itu.

Kepala dua turis asing itu di pajang di gerbang kota. Di kota itu tak ada kata ampun bagi penjahat-penjahat waktu.

***

Bapak menarik napas pelan usai menceritakan kejadian itu. Ia menatap Aku lalu kepada adikku yang telah lelap sebelum cerita Bapak benar-benar tuntas.

Matanya yang kian tua itu seakan menyampaikan banyak hal. Di luar, malam jatuh tidak terburu-buru, meninggalkan gelap.

“Begitulah, Nak. Walaupun kita miskin, kita tetap orang merdeka yang tidak boleh diperbudak siapa pun. Bahkan waktu sekalipun,” kata Bapak sambil memperbaiki letak tubuhnya.

Usai membelai rambut adikku dan memintaku untuk tidur, Bapak keluar rumah menemui warga kota yang sudah menunggu di luar.

Malam itu juga nyawa Bapak dihabisi lantaran Bapak adalah tukang perbaiki jam di kota seberang; pekerjaan yang ia geluti supaya kami bisa makan.

Frandy Saputra, mahasiswa STFK Ledalero-Maumere. Ia bergiat di Komunitas Teater Tanya Ritapiret.

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas.