Home Cerpen Lok Pahar di Mata yang Buta

Lok Pahar di Mata yang Buta

1,435
0
SHARE
Lok Pahar di Mata yang Buta

Keterangan Gambar : Sumber ilustrasi:

https://pixabay.com/id/photos/orang-lama-wanita-nenek-senior-731423/

Cerpen Tommy Duang

Jika kau bepergian dari Ruteng ke Watunggong—atau pada suatu hari kau bersama teman-temanmu pulang pesta dari Colol ke rumahmu di Ntaram—atau ke desa-desa yang lebih ke timur lagi, jangan lupa sejenak melepas lelah di Lok Pahar. Seandainya beruntung, di sana akan kau temukan seorang perempuan yang telah kehilangan kedua bola matanya. Ia buta, tentu saja, tapi ia satu-satunya yang menyimpan kenangan tentang keindahan Lok Pahar.

Pernah, beberapa tahun lalu saya mendapat keberuntungan itu. Waktu itu, ketika Lok Pahar belum seburuk rupa sekarang, saya bertemu dengan perempuan itu. Dia duduk menghadap matahari, sore itu, dengan rona muka sedih. Entah mengapa, saya seakan tahu kalau hatinya sedang menangis dengan air mata yang sudah mengering.

Sore itu, saat kutemui, dia duduk di hamparan rumput, sendiri, benar-benar sendiri. Saya enggan mendekatinya, karena saat itu saya juga benar-benar ingin menyendiri. Sebatang rokok menyala di tangan, sedikit Sopi Kobok, angin agak kencang, hamparan awan di lembah. Sore yang indah untuk seorang yang sedang beristirahat dari perjalanan yang panjang.

Banyak hal yang saya pikirkan saat itu. Bulan depan saya akan menikah. Itu akan terjadi sekali seumur hidup. Segala sesuatu harus disiapkan dengan baik. Biaya pernikahan. Acara tiba anak wina. Belis yang besar. Pakaian pengantin. Foto prewedding.

Tetapi berhubung saat itu saya berada di Lok Pahar, saya juga masih sempat berpikir tentang suasana di sekitar itu. Di bagian utara sana, di tengah hutan, asap mengepul di mana-mana. Orang-orang membakar hutan. Sekali lagi saya tulis, mungkin harus dengan penekanan yang secukupnya, maksud saya ditulis dengan huruf tebal. Orang-orang membakar hutan.

Tampak juga dari kejauhan, tiga orang, atau sepuluh orang, bisa jadi juga lebih, dengan parang di tangan sedang menebang pohon-pohon untuk dijadikan kayu api, batang-batang kayu, atau sekadar membuka lahan untuk ditanami beberapa pohon kopi.

Mungkin juga ada di tengah hutan itu, orang-orang dengan semangat menggebu-gebu, memotong puluhan, ratusan bahkan ribuan kayu hutan dengan mesin pemotong kayu berperedam suara.

Ada kesedihan yang tidak mampu saya jelaskan melihat hutan yang perlahan-lahan dihancurkan. Saya bukan pecinta alam, bukan pula seorang male feminist. Tapi kesedihan dan keresahan itu tetap saja muncul.

Mungkin kesedihan saya lebih karena alasan pribadi. Saya cemas pasokan air ke rumah orang tua saya berkurang. Orang tua saya sudah kelewat tua untuk kembali memikul air dari Rapuala ke rumah untuk sekadar menanak nasi dan sedikit untuk menyiram sayur di sekitar rumah.

Sejak beberapa tahun lalu, Lok Pahar menjadi satu-satunya sumber air yang menghidupkan orang-orang di kampung saya di Golo Ngawan. Jika Lok Pahar gundul, orang-orang di kampung saya akan kekurangan air. Jika kekurangan air, mereka tidak lagi menanam sayur-sayuran untuk dijual di Pasar Watunggong setiap hari Jumat. Dengan demikian, roda ekonomi enggan berotasi maksimal.

Dan yang paling mengkhawatirkan, anak-anak kecil di kampung saya—sama seperti saya ketika masih kecil dulu—akan menjadi malas untuk mandi pagi dan sore. Jika malas mandi, mereka akan penyakitan. Pertumbuhan mereka menjadi tidak normal. Berbaring di tempat tidur, dibawa orang tua ke Puskesmas, pengeluaran bertambah dan harus absen dari sekolah.

Jadi, setiap satu batang pohon yang ditebang di Lok Pahar, mencuri satu kesempatan di masa depan anak-anak di kampung saya.

“Jika kau ingin melihat keindahan pada levelnya yang paling tinggi, sering-seringlah ke sini,” perempuan tanpa bola mata itu berdiri dan perlahan mendekatiku.

Walaupun saya sering mendengar cerita tentang peristiwa pembunuhan dan pencungkilan kedua bola mata itu, saya shock juga melihat kondisi wajah perempuan itu. Untunglah, sedikit Sopi Kobok yang mengalir di tenggorokan menolong saya untuk menjadi lebih berani.

Tentang keadaan wajah perempuan itu, terlalu ngeri jika kuceritakan di sini. Coba kau bayangkan saja sendiri, wajah perempuan tanpa bola mata.

Tapi, dia cantik. Setidaknya walaupun kedua bola matanya telah tiada, dia tetap kelihatan cantik. Berumur sekitar dua puluh tujuh tahun, perempuan itu kelihatan matang, dewasa dan berpengalaman. Walaupun hatinya menyimpan luka yang begitu hebat, dia tetap berpenampilan tenang, mungkin berkat banyaknya pengalaman. Dalam diri perempuan buta itu, teori-teori tentang manusia berusia dua puluh tujuh tahun terkonfirmasi.

Di usia dua puluh tujuh tahun, seseorang akan menjadi begitu tenang, berkat banyaknya pengalaman, dan menjadi sebegitu rendah hati karena dia telah kehilangan kecongkakan masa mudanya.

“Maksudmu, Lok Pahar ini, indah?”

“Iya. Ini salah satu tempat terindah yang pernah diciptakan Tuhan. Itu makanya saya menjadi sangat betah di sini.”

Ingin kuceritakan padanya tentang keadaan di sekitar itu. Tentang asap yang mengepul di tengah hutan. Tentang orang-orang yang sedang menebang pohon. Tentang burung-burung yang kehilangan sarang. Tentang mesin pemotong kayu berperedam suara. Dan tentang anak-anak di kampung saya yang kehilangan satu dua kesempatan di masa depan.

Singkatnya, tentang semua hal yang tidak bisa ia lihat.

Kuurungkan niat itu. Dia perlahan mendekat dan berhenti tepat satu langkah di depanku.

“Saat senja tiba, kau bisa menikmati langit yang merah sambil mendengar burung-burung berkicau. Atau duduk di sana, di gundukan tanah itu, menghitung mobil dan sepeda motor yang melintas di jalan yang berkelok-kelok di bawah sana.”

“Tapi sekarang tidak ada lagi burung yang ...”

“Akan lebih romantis lagi bila kau membawa pacarmu ke sini. Kalian bisa foto-foto. Dengan latar hutan yang lebat itu. Atau hutan dengan senja yang hampir gelap. Lagi pula, di sini sejuk, udaranya segar. Baik untuk kesehatan kalian.”

“Semua yang kau katakan itu sudah tia...”

“Jangan memotong pembicaraanku. Aku tahu apa yang akan kau katakan. Apakah kau sudah menikah? Umurmu berapa sekarang? Hutan ini telah menghidupkan begitu banyak generasi. Mungkin saja ia kelihatan seram, tapi kampung-kampung yang terbentang di timur itu, sangat bergantung padanya.”

Ingin kukatakan padanya bahwa aku harus segera pergi sekarang. Hari sudah agak malam. Bagaimana pun saya takut berada berdua dengan perempuan ini, apalagi di tempat sepi seperti ini.

Bagaimana mungkin saya tidak takut? Dari cerita yang beredar, perempuan di depanku ini pernah membunuh orang, di tempat ini, juga pada waktu sore begini.

Sore itu, dia duduk berdua dengan kekasihnya, seorang penulis dan aktivis lingkungan hidup. Entah kau percaya atau tidak, tapi beginilah ceritanya. Perempuan itu tiba-tiba kerasukan setan, mungkin saja setan-setan penjaga hutan, dan tiba-tiba menyerang kekasihnya itu, membunuhnya, kemudian mencungkil kedua bola matanya sendiri.

Ada juga versi lain yang beredar. Sepasang kekasih itu sedang duduk menikmati senja di Lok Pahar. Sekelompok preman kampung tiba-tiba datang dan dengan brutal memerkosanya secara bergilir, sampai dia tak sadarkan diri. Untuk menghilangkan jejak, preman-preman ini mencungkil kedua bola matanya dan membunuh kekasihnya.

Entah mengapa, dalam suasana yang begitu sendu ini, saya lebih memilih untuk percaya versi yang pertama.

“Hari sudah malam. Biarkan aku pulang,” aku bergerak selangkah menjauh.

“Tunggu sebentar. Aku bisa membaca ketakutan di matamu. Tapi kalau mau duduk denganku sebentar saja, kau bisa dapatkan cerita yang sebenarnya.”

Dia melangkah tenang ke gundukan tanah di bagian timur itu. Aku mengikutinya dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Beberapa tahun lalu,” dia memulai ceritanya. “Aku dan pacarku duduk berdua di sini. Tepat di tempat kita ini. Waktu itu, hutan ini masih begitu asli dan lebat. Tetapi dari berita yang beredar, ada rencana penebangan hutan besar-besaran. Katanya untuk membuka lahan perkebunan kopi dan kayu-kayu itu akan dijual ke kota.”

“Pacarku seorang penulis dan aktivis lingkungan hidup. Ia mati-matian menentang rencana itu. Dia menulis di media-media lokal. Lalu merencanakan sebuah demo besar-besaran menentang rencana itu.”

“Di suatu sore yang nahas, ketika kami duduk berdua di sini, sekelompok aparat berseragam datang menangkap kekasihku dengan tuduhan pencemaran nama baik pemerintah dan karena menimbulkan beberapa kekacauan. Setelah membawanya pergi, salah seorang dari mereka mencungkil bola mataku.”

“Sejak itu dia tidak pernah pulang dan aku selalu menunggunya di sini. Hari demi hari harapanku makin menipis. Telingaku tidak lagi mendengar kicau burung, yang kudengar hanyalah bunyi pohon-pohon tumbang. Aku tidak lagi mencium bau hutan, yang kucium hanyalah bau kayu dan daun yang terbakar. Tapi aku bersyukur tidak lagi memiliki mata. Karena di mataku yang buta, aku masih menyimpan keindahan Lok Pahar yang sesungguhnya.”

Hari telah benar-benar gelap. Saya merasa berada dalam bahaya. Saya telah mengetahui cerita yang sebenarnya tentang tragedi perempuan buta itu. Dan juga saya mulai mengkhawatirkan masa depan orang-orang di kampung saya, masa depan anak-anak mereka. Saya benar-benar yakin, setiap pohon yang tumbang di Lok Pahar mencuri satu kesempatan di masa depan mereka.

Saya harus menghentikan semua ini.

Tapi saya juga ingat seorang lain. Seorang perempuan yang amat saya cintai dan akan saya nikahi bulan depan. Saya tidak mau dia—seperti perempuan di samping saya ini—kehilangan dua bola matanya yang indah.


* Cerpen ini sangat kuat terinspirasi oleh kisah “Senja di Mata yang Buta” karya Agus Noor.

* Tommy Duang, lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur pada 26 Januari 1995. Bergiat dalam Komunitas Arung Sastra Ledalero dan Teater Aletheia Ledalero. Sekarang sedang belajar filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero.

 

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas.