Home Feature Menghadirkan Sabda Allah di Amazon, Brasil

Menghadirkan Sabda Allah di Amazon, Brasil

832
1
SHARE
Menghadirkan Sabda Allah di Amazon, Brasil

Keterangan Gambar : P. Agust Keraf, SVD berpose bersama dua warga Indian di Amazon, Brazil.

Misi Serikat Sabda Allah di Amazon – Brasil, tahun depan genap 40 tahun. Kami percaya bahwa tanah Amazon bukan hanya sebagai ladang misi, tetapi juga sebagai tanah suci, di mana Allah orang Israel mendirikan tenda-Nya dan turut hadir untuk menyertai keseharian umat-Nya di tengah-tengah suku asli; orang indian, negro, petani-petani miskin, mereka yang mencari sesuap nasi lewat buruh di pelabuhan, para nelayan sederhana di pesisir sungai Amazon, dan orang-orang yang datang dari seluruh Brasil.

Berawal sejak 39 tahun yang lalu, tepatnya di jantung misionaris-misonaris Serikat Sabda Allah, berdiri Provinsi Brasil Selatan (BRS). Mereka menginginkan tanah ini menjadi tempat terhormat untuk membuka wawasan misi provinsi, dan sekaligus untuk mengais akar, apa artinya menjadi misionaris Serikat Sabda Allah, yang mempunyai karisma kenabian, yang selalu menekankan dialog dengan umat di lintas lain. Atas alasan inilah,  pada tanggal 26 Januari 1980, tiba di Kota Santarém, Provinsi Pará, tiga pastor SVD, P. Francisco Kom, (alm), P. José Gross, SVD dan P. Patricio Brennan. Ketiganya berwarga asing. Kemudian menyusul tanggal 17 Maret 1980, tiba P. João Mors (alm) dan João Adolfo Barendse (alm) untuk menambah kekuatan dalam karya misi.

Dua di antara mereka; P. Patricio Brennen dan P. José Gross, SVD, masih ada bersama kami. Meskipun sudah memasuki usia usur, tapi spirit bermisi tidak pernah lekang di balik ketuaan mereka. Setiap kali pertemuan Régio dua kali setahun, kami selalu disegarkan lewat sharing mereka dan kadang-kadang dengan cara kebapaan, tegur sapa sebagai saudara serikat, meminta kami untuk mencintai umat dengan setulus  hati serta tak putus-putusnya menyemangati kami menghadirkan nafas dan sentuhan  Sabda Yesus lewat kehadiran-kehadiran yang memberdaya dan membangkitkan benih kehidupan. Dan inilah menjadi suatu pendidikan yang super penting khususnya untuk misionaris-misionaris yang baru tiba di Régio Amazon-Brasil.

Penting sekali mengetahui dari mulut mereka sendiri bagaimana awal kehadiran serikat, liku-liku yang ditemukan di tanah yang garang ini, yang tidak dikenal sebelumnya. Berbagai persoalan yang dihadapi saat itu dan hingga kini seperti ancaman-ancaman yang dihadapi, baik dari binatang-binatang buas, maupun dari manusia dan  bagaimana mengatasi semuanya ini. Amazon kadang-kadang disebut sebagai tanah yang mahaluas dan kaya,  tetapi tak bertuan. Ini mengundang siapa saja yang datang bertindak “sesuka hati” di atas tanah ini, mengeksploitasi hutan dan air sungai serta kekayaan yang ada tanpa berpikir tentang dampak buruk bagi generasi-generasi mendatang. Banyak perusahaan nasional dan  asing masuk sampai ke tanah penduduk asli “ Indian “ mengambil hasil bumi seperti  mineral, belerang, nikel, ikan, kacang hijau, kayu, emas dan sebagainya, sekaligus melakukan kerusakan hutan dan pencemaran sungai Amazon dan  polusi  udara.

Amazon luasnya 5.500.000 km2 meliputi sungai dan hutan. Dari dulu Amazon selalu disebut sebagai paru-paru dunia. Kontribusinya untuk pelestarian semesta sangat besar. Hutan yang luas dan air yang melimpah adalah kegembiraan semesta. Setiap pohon di Amazon memiliki daya untuk melepaskan ke atmosfer sebanyak 300 sampai seribu liter air yang diambil dari tanah. Itu berarti Amazon mengembuskan setiap hari dua puluh triliun ton uap air untuk atmoser – volume superior berasal dari Sungai Amazon yang setiap harinya sebesar 17 miliar meter kubik (data green peace, 21 Maret 2019). Dengan kata lain, pohon-pohon Amazon menghasilkan 10 kali lipat uap air untuk atmosfer.

Sangat disayangkan, ekosistem Amazon hari-hari ini sangat mencemaskan. Penebangan hutan secara liar, eksplorasi besar-besaran tanah dan sungai serta hutan menyebabkan Gereja melantunkan suara profetisnya. Gereja harus berpihak kepada umatnya yang sedang berteriak minta dikasihani. Suara tangisan Amazon ibarat umat Israel yang berseru meminta keselamatan dari Allah (Kel. 3,7) dari tengah situasi keterpurukan di tanah penindasan, Mesir. Suara yang meminta pembebasan dan campur tangan Allah sekarang dan secepatnya. Bukan cuma Gereja Brasil saja yang menyatakan keberpihakannya, tetapi juga Gereja sedunia lewat suara dari Vatikan.

Berawal dari kata-kata Paus Pius XII pada thn 1972,  ‘’Tuhan sedang menunjuk ke Amazon”.  Berkaitan dengan ini, Gereja sejagat akan menyelenggarakan Sinode tentang Amazon pada bulan Oktober tahun ini. Lewat Sinode ini, Gereja akan secara tegas menyatakan sikapnya, dan sekaligus mengajak dunia dan umatnya untuk mengais hakikat kekristenannya serta melihat lebih dalam apa artinya menjadi pengikut Kristus di tengah realitas dunia yang sulit ini, khususnya umat Amazon yang sedang berjuang mempertahankan tanah, identitas, dan hidupnya melawan cekikan penguasa jahil dengan politik uang tanpa moral. Sinode ini akan diselenggarakan di Roma. Roma dipilih menjadi tempat penyelenggaraan dan bukan salah satu tempat di Amarika Latin, karena kalau diselenggarakan di Amarika Latin, efeknya pasti akan kecil. Gaung Sinode ini harus mendunia, karena situasi Amazon tidak bisa lagi dianggap aman dan remai, tetapi sangat kritis.

Beberapa tahun terakhir, terjadi begitu banyak pembunuhan atau ancaman mati buat beberapa uskup, pastor, suster atau awam yang memperjuangkan Amazon bebas eksploitasi.  Tanggal 12 Februari 2005, seorang suster dari Ordo Nossa Senhora de Namur (SND), Sr. Dorothy Stang (berkebangsaan Amerika Serikat),  dibunuh dan mayatnya ditinggalkan  di hutan oleh orang-orang yang tidak menghendaki kehadiran suara kenabian. Dan suara Tuhan seperti Suster Dorothy Stang. Peluru menembusi tiga tempat; perut (supaya Sang Sabda tidak boleh lagi dikandung), di jantung (supaya Sabda Allah tidak lagi didenyutkan, dirasa, dan memproduksi kehidupan) dan kepala (supaya Sabda Allah tidak lagi diterima, dicerna, dimeditasikan). Seorang pastor (P. Amaro de Sousa-imam keuskupan di tempatku bekerja, keuskupan Altamira-Brasil) dipenjarakan karena misinya di tengah umat yang sedang memperjuangkan  hak untuk mendapat sesuap nasi, secuil tanah tetapi dikebiri oleh mereka yang mempunyai kuasa dan uang. Saat ini dia sudah tidak lagi di balik terali besi, tapi tetap memperoleh larangan berada di tempat publik, tidak boleh keluar rumah – istilahnya penjara domisiliar. (Sebuah ironi buat yang bekerja di ladang Tuhan; pastor ditahbiskan untuk berada di tempat umum, bersama umat, tetapi dilarang untuk tujuan mulia ini). Mgr. Erwin Krautler Uskup emeritus di keuskupan kami berkebangsaan Austria, ke mana pun dia berjalan, selalu dikawal dua tentara yang ditugaskan khusus untuk itu.

Sampai hari ini, suara kenabian seperti  uskup, pastor, selalu menerima ancaman mati dari orang-orang tersebut dan sejumlah kaum awam yang telah dipenjarakan sampai meninggal atau dibunuh karena cinta mereka atas tanah Amazon. Misi terberat saat ini di Amazon adalah bagaimana menyadarkan orang untuk mencintai tanahnya, alam Amazon sekaligus membuatnya menjadi lebih makmur, tetap hijau dan kaya dengan hasil hutan dan sungai bagi anak cucu. Bagaimana bisa menjadi suara Allah di tengah hedonisme dan nafsu “kaya secepatnya”. Bagaimana bisa mempunyai harga diri sebagai manusia selaras dengan pesan-pesan Injil, sejalan dengan nafas hidup Allah di tengah  tata dunia yang modern ini. Dan ini adalah tugas sekaligus  misi para  misionaris dan kaum awam dunia dan kesadaran menggereja dari semua. Gereja harus berpihak dan berada di antara umatnya. Semua pihak menyadari berbgai persoalan yang sedang dihadapi umat manusia di seluruh dunia, seperti yang dialami umat di Amazon.

Ajaran sosial Gereja seperti tertulis dalam dokumen Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan) dari Konsili Vatikan II (1962-1965), menyatakan bahwa setiap pembaruan hidup gerejani menyiratkan dua karakter, yaitu menggembirakan dan memberi harapan. Kegembiraan dan harapan Gereja adalah karya Roh Kudus. Dokumen ini ditujukan kepada semua orang, siapa pun. Kalimat pertama sebagai pendahuluan dari dokumen ini berbunyi: “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia-manusia zaman ini, khususnya mereka yang miskin dan menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus.” Gereja mendeklerasikan diri sebagai Gereja yang solider, berempati, sehati, setia kawan dengan mereka yang menderita dan tertindas. Gaudium et Spes mengukir perkara-perkara keluhuran martabat manusia, relasi individu dengan masyarakat, perkara ekonomi, kemiskinan, keadilan sosial. Selain itu, Gereja Katolik melalui dokumen ini mengekspresikan nilai-nilai spiritual dalam karya pembebasan. Nilai-nilai spiritual seperti iman, cinta kasih, solider, sehati, pengabdian yang total, kejujuran, keadilan dan kesejahteraan mesti diwujudkan dalam praktik pembebasan.

Benih dan misi Serikat Sabda Allah yang tertanam 39 tahun yang lalu ternyata sangat bernilai. Bernilai karena, ditabur dengan iman dan ragi cinta yang baru dan bermutu. Dari awal selalu ditekankan bagaimana menjadi gereja dengan model baru di zaman ini. Gereja yang tidak hanya terbatas antara empat dinding (gereja dari batu), tapi gereja yang selalu hadir di tengah umat, sebagai sakramen yang hidup atau tanda dari Allah yang mencintai manusia. Misi model inilah yang selalu diusahakan oleh SVD dan Gereja di Amazon. Dalam usaha menjawab permintaan dan provokasi Paus Fransiskus yang tahun ini menggenapi 6 tahun sebagai paus ke-266 dalam gereja kita, - bagaimana gereja bisa hadir di tengah umat dengan wajah Amazon, Gereja yang betul-betul mengumat, Gereja yang tidak menunggu umat datang ke pastoran, tetapi keluar mewartakan Yesus yang hidup, Gereja yang terus bersinar dan menampilkan nilai-nilai injili. Dalam kunjungan pertamanya ke luar Vatikan setelah terpilih sebagai paus di Roma, dalam kesempatan berbicara dengan kaum muda dari seluruh dunia di Rio de Janeiro, September 2013, dia mengatakan dengan tegas, ‘’Saya memilih Gereja yang dianiaya, yang dikritik, yang terluka daripada Gereja yang terpaku, pasif yang  selalu menunggu di pastoran. Saya menginginkan gereja missioner seperti Yesus. Dengan kata lain, Gereja harus keluar dari sekat-sekat kamar pengakuan dan sakristi’’.

Kata Yosef Freinademetz, missionaries pertama SVD yang diutus ke China, tempat di mana kita berada adalah tempat kudus untuk kita berada sebagai manusia milik Tuhan, sebagai instrumen-Nya, sebagai manusia milik semesta, milik Gereja kudus Allah, dan juga sebagai saudara dari sesama kita. Tempat di mana kita berada adalah tempat misi kita. Tidak penting, sudah sampai di mana kita berada, tapi ke mana kita sedang melangkah, tetapi kalau kita sedang bingung atau tidak tahu ke mana sedang melangkah, kita manfaatkan semaksimal mungkin tempat di mana kita sedang berada untuk menjadi Gereja. Seorang awam dari salah satu paroki SVD di Amazon (paroki St Antonius-Aluenquer-Brasil), pernah mengungkapkan kesannya buat misionaris SVD di Amazon, “misionaris Serikat Sabda Allah mirip sekali dengan Yesus, karena selalu ada bersama dan membaur dengan umat dalam budaya dan tradisi setempat. Mereka tahu dan kenal baik sekali hidup dan penderitaan kami”. Sejak awal, prioritas misi adalah membentuk dan mendidik misionaris awam, karena misi tidak tergantung dari pastor, suster atau bruder. Ini sudah menjadi prioritas kerja misionaris SVD yang bekerja di Amazon.

Dokumen SVD di Régio kami, ‘calce as sandálias” (kenakan sandalmu) mengatakan, “Kita harus menjadi di Amazon, sebuah tanda kehadiran Gereja yang berbobot Sabda Allah dalam ruang dan tempat Amazon, yang melihat pelayanan misi, sebagai hamba Sabda Allah, saudara dari ciptaan, dan sekaligus merupakan tanda Kristus, yang hadir lebih jauh, daripada sekadar pelayanan sakramen-sakramen, melayani demi  hidup dan berusaha menjadi ragi di tengah jeritan-jeritan umat. Singkatnya, harus bisa menjadi gereja yang bernafas bersama umat. Saya ingat, penyanyi katolik di Brasil, Zé Vicente, pernah mengatakan dalam lagunya, bermimpi sendiri adalah tanda yang mustahil, satu khayalan belaka, tetapi bersama-sama bermimpi adalah tanda yang baik untuk meretas sebuah permasalahan.

Akhir kata, saat ini, SVD Regio Amazon hadir di 11 paroki dan beberapa pastoral kategorial; pastoral kesehatan, pastoral indigenista, bekerja dengan orang-orang Indian, umat asli Amerika Latin (di mana saya mengabdikan diri), pastoral transmigran. Ada 13 misionaris SVD dari Indonesia dari jumlah total 40 pastor dan bruder. Warna khas yang nampak dari misionaris Indonesia yang berkarya di Amazon adalah kesederhanaan, keikhlasan, kerendahan hati, kesiapan, kerohanian, espiritualitas yang mengumat, dan tekun. Kehadiran misionaris Indonesia sangat memperkaya karya misi di Amazon. Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, khsususnya dalam berbahasa, tetapi semangatnya tak pernah lekang dan kendur. Ini sangat membanggakan.

Kami semua membutuhkan Anda. Misi Amazon selalu garang, tetapi kekuatan kami adalah doa-doamu. Kami tidak hanya diutus oleh SVD atau serikat di mana kami mengabdi, tetapi juga Gereja Indonesia, dengan membawa bendera dan warna tanah air kita yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kita saling mendoakan dan bersama mewujudkan cinta kasih dan tatapan Yesus dalam karya nyata dalam Gereja Allah. Meneladani Maria, wanita terpilih Allah juga  santu-santu entah dalam SVD maupun Gereja sejagat, kita bersama melangkah, menaburkan benih kerajaan Allah. Mereka adalah teladan dalam bermisi saat ini.

Menggarisbawahi sekali lagi kharisma Serikat SVD, bahwa, kita adalah misionaris religius, yang dipanggil oleh Allah Tritunggal Maha Kudus, yang diutus untuk menyaksikan nilai-nilai Kerajaan Allah, di tengah-tengah orang miskin, yang diinjak-injak hak hidupnya, harus berjuang demi hidup bersemangat solider dan yang membebaskan,  memperkuat nilai-nilai budaya di tempat kita bermisi, demi martabat kemanusiaan dan keutuhan ciptaan yang menghadirkan hidup kekal bagi semua (Yoh. 10.10).

Oleh Agust Keraf

Misionaris SVD, Tinggal di Brazil Amazon