Home Sikka PAPHA Tingkatkan Kapasitas Karang Taruna dan OMK dalam Upaya Mencegah Dampak Perubahan Iklim

PAPHA Tingkatkan Kapasitas Karang Taruna dan OMK dalam Upaya Mencegah Dampak Perubahan Iklim

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

715
0
SHARE
PAPHA Tingkatkan Kapasitas Karang Taruna dan OMK dalam Upaya Mencegah Dampak Perubahan Iklim

Keterangan Gambar : Lurah Waioti Fabian Ronald Edward Woen (yang mengenakan baju motif Sikka) didampingi Direktur PAPHA Maumere Bernardus Lewonama Hayon (masker hijau) didampingi karang taruna dan OMK Stasi Waioti mengepalkan tangan untuk menyatakan kesiapan mereka mencegah dampak perubahan iklim di Kantor Aula Kelurahan Waioti, Selasa (25/8/2020).


Maumere, Flores Pos — Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) Maumere menggandeng Karang Taruna Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur dan Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St. Gabriel Waioti dalam upaya meningkatkan kapasitas generasi muda untuk mencegah pelbagai dampak perubahan iklim, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD) dan pelbagai penyakit yang disebabkan perubahan iklim lainnya melalui program strategis pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Untuk menyukseskan hal tersebut, PAPHA bertempat di Aula Kelurahan Waioti Maumere, Selasa (25/8/2020) menggelar “Sosialisasi Adaptasi Perubahan Iklim dan Peluncuran Program Peningkatan Kapasitas Kaum Muda Tentang Adaptasi Perubahan Iklim Untuk Masa Depan yang Lebih Baik” yang diikuti 35 anggota Karang Taruna Kelurahan Waioti, dan OMK Stasi Santo Gabriel Waioti.

Kegiatan ini dibuka oleh Lurah Waioti Fabian Ronald Edward Woen, didampingi Direktur PAPHA Maumere Bernardus Lewonama Hayon. Narasumber/pemateri dalam kegiatan ini antara lain Aleksius Suki, Direktur PAPHA Maumere Bernardus Lewonama Hayon, dan Koordinator Program PAPHA Titon Nau, dan Atty Bella.

Latar Belakang

Direktur PAPHA Bernardus Lewonama Hayon atau biasa disapa Narto dalam sambutannya pada kesempatan ini menjelaskan secara detail latar belakang terkait alasan lembaga yang dipimpinya berkomitmen memberdayakan kapasitas kaum muda dalam upaya mengatasi dampak perubahan iklim. Dilaksanakannya kegiatan ini, katanya, karena Kabupaten Sikka merupakan kabupaten dengan indeks resiko bencana tertinggi di NTT dan menempati peringkat 59 dari 479 kabupaten/kota di Indonesia.

Narto mengakui bahwa pengaruh fenomena monsoon menjadikan wilayah Kabupaten Sikka dan sebagian besar kabupaten di NTT mengalami kekeringan. Di sisi lain penggunaan air tanah secara berlebihan mengakibatkan cadangan air menipis dan cenderung habis.

Pada 27 September 2017, lanjut Narto, Bupati Sikka mengeluarkan pernyataan rawan pangan akibat bencana kekeringan dan badai di 33 Desa di Kabupaten Sikka yang kemudian menjadi 50 desa yang tersebar di 11 kecamatan pada akhir 2017.

Pada 2019, lanjut Narto, BMKG Stasiun Klimatologi Kupang melaporkan bahwa terdapat 9 kabupaten mengalami kekeringan ekstrem termasuk Kabupaten Sikka, bahkan kecamatan Magepanda merupakan wilayah yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori kekeringan ekstrim (>60 hari).

Baca juga: Dana BLT Wolodhesa Rp161 Juta Dicuri: Polisi Gencar Melacak Keberadaan Maling

Kabupaten Sikka pada awal 2020 ini, katanya melanjutkan, mengalami kejadian luar biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Per 16 Maret 2020 data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan setidaknya 1.292 kasus DBD atau 38% untuk seluruh NTT dan 5% pada tingkat nasional. Bahkan kabupaten terbanyak kedua yakni Kabupaten Pringsewu Lampung tidak mencapai angka 1.000 kasus.

”Korban meninggal kasus DBD di Sikka mencapai 14 orang. Oleh Kementerian Kesehatan RI dijelaskan bahwa kejadian ini dipicu oleh permasalahan pengelolaan sampah yang tidak baik, ditemukannya botol-botol, gelas dan tempat - tempat bekas minuman dibuang begitu saja oleh masyarakat, drainase yang buruk dan lingkungan yang tidak bersih,” kata Narto.

Berbagai fakta yang tersaji di atas, lanjut Narto, dapat ditarik akar persoalan yang dihadapi antara lain kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang dampak perubahan iklim dan drainase serta lingkungan yang tidak bersih bahkan hal-hal praktis tentang bagaimana mengurangi persoalan air bersih dan sampah plastik.

Di sisi lain, lanjutnya, rencana pembangunan yang belum mengarusutamakan adaptasi perubahan iklim turut mempengaruhi persoalan kekeringan dan banjir sampah yang mengakibatkan KLB DBD dan rawan pangan.

”Perkumpulan Aktivis Peduli Hak Anak (PAPHA) melalui salah satu program strategisnya yakni pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, memandang perlu untuk dilakukan penyadaran dan peningkatan kapasitas kepada masyarakat tentang pentingnya adaptasi perubahan iklim dan upaya konkret berkontribusi pada adaptasi perubahan iklim tersebut," katanya.

"Sesuai visi PAPHA, kaum muda – sesuai dengan definisi WHO, adalah seseorang yang berusia antara 15 hingga 24 tahun sehingga seorang anak termasuk di dalamnya – menjadi sasaran yang strategis dari upaya – upaya tersebut. Anak dan perempuan khususnya kaum muda perempuan menjadi pihak yang paling rentan mengalami dampak dari perubahan iklim sehingga perlu menjadi perhatian untuk diutamakan dalam kegiatan ini,” katanya melanjutkan.

Baca juga: Kematian Babi Meningkat, Distan Terapkan Protokol Kesehatan Pemotongan Babi di RPH Sikka

Narto pada kesempatan itu juga menyebut Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Tmur, dan Desa Kolisia B, kecamatan Magepanda dipilih menjadi sasaran kegiatan dengan beberapa pertimbangan di antaranya Desa Kolisia B merupakan perwakilan wilayah rawan pangan akibat kekeringan, dan Kelurahan Waioti merupakan kelurahan rawan banjir dan sampah plastik, di mana kuam muda dan karang taruna dari kelurahan dan desa yang terpilih aktif berkegiatan dalam upaya nengatasi dampak lingkungan.

Tujuan

Narto menyebut beberapa tujuan kegiatan tersebut di antaranya agar peserta mengidentifikasi dan melakukan analisis tentang kerentanan mereka terhadap perubahan iklim yang terjadi di wilayah mereka; peserta mengidentifikasi dan melakukan analisis tentang kapasitas yang dimiliki untuk melakukan mitigasi dan adaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi diwilayah mereka; dan peserta merancang rencana aksi untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi diwilayah mereka.

Dukungan Beberapa Pihak

Lurah Waioti Fabian Ronald Edward Woen dalam sambutannya mendukung langkah PAPHA yang memberdayakan Karang Taruna Kelurahan Waioti, dan OMK Stasi St. Gabriel Waioti dalam upaya mengatasi dampak perubahan iklim, khususnya terkait pembersihan lingkungan tempat tinggal, mengatasi masalah sampah, dan melakukan pelbagai upaya untuk mencegah terjadinya DBD di Kabupaten Sikka.

“Saya sebagai Lurah Waioti dan elemen warga kelurahan sangat mendukung langkah PAPHA yang memberdayakan kaum muda dalam upaya mengatasi pelbagai persoalan yang disebabkan oleh perubahan iklim,” kata Lurah Ronald.

Dukungan serupa disampaikan Ketua Karang Taruna Kelurahan Waioti Yohan Gustav Romeo, Ketua OMK Stasi St. Gabriel Waioti Jeny Verawati, dan Pembina OMK Petrus Senodeus.

“Kami sangat mendukung langkah PAPHA yang memberdayakan kaum muda dalam upaya mengatasi dampak perubahan iklim di Kabupaten Sikka, khususnya di Kelurahan Waioti,” kata Ketua Karang Taruna Kelurahan Waioti Yohan Gustav Romeo.

“OMK Santo Gabriel Waioti juga sangat mendukung langkap PAPHA ini,” kata Ketua OMK Stasi St. Gabriel Waioti Jeny Verawati yang diamini Pembina OMK Petrus Senodeus.