Home Flores Timur Pasar Tradisional Enatukan dan Ritaebang di Flotim Kembali Dibuka

Pasar Tradisional Enatukan dan Ritaebang di Flotim Kembali Dibuka

Penulis: Frans Kolong Muda / Editor: Avent Saur

798
0
SHARE
Pasar Tradisional Enatukan dan Ritaebang di Flotim Kembali Dibuka

Keterangan Gambar : Geliat pasar tradisional Enatukan di Desa Nusadani, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, beberapa waktu lalu sebelum pandemi covid-19.


Larantuka, Flores Pos — Menghidupkan kembali geliat perekonomian rakyat pedesaan di tengah pandemi covid-19, Pemerintah Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, dalam gelar rapat bersama dengan para kepala desa baru-baru ini memutuskan untuk membuka kembali pasar tradisional Enatukan di Desa Nusadani dan Pasar Ritaebang di Kelurahan Ritaebang.

Menindaklanjuti keputusan rapat koordinasi antara Pemerintah Kecamatan Solor Barat dengan para kades tersebut, dua pasar tradisional yakni Pasar Enatukan dioperasikan kembali pada Rabu (1/7/2020) dan Pasar Ritaebang pada Selasa (30/6/2020).

Penjabat Kepala Desa Balaweling II, Marelius Madoopun "Mace" Tukan kepada media ini, Selasa (30/6/2020), mengatakan, Pemdes Balaweling II pada Senin telah mengumumkan informasi mengenai operasi kembalinya Pasar Enatukan yang berlaku mulai Rabu.

Dalam pengumuman via mimbar desa itu, Pemdes Balaweling II menyampaikan bahwa Pasar Enatukan dibuka kembali pada Rabu (1/7/2020). Pengelola pasar berlakukan protokol kesehatan.

Setiap pelaku pasar baik penjual maupun pembeli yang melakukan transaksi jual-beli di dua pasar itu wajib mengenakan masker, cuci tangan gunakan air mengalir, dan penyemprotan disinfektan serta menjaga jarak aman 1-1,5 meter.

"Penjual dan pembeli yang tidak kenakan masker dilarang masuki arena pasar," demikian bunyi pengumuman resmi yang disampaikan Pemdes Balaweling II kepada masyarakat setempat.

Hidupkan Kembali Ekonomi

Secara terpisah, warga Kelurahan Ritaebang, Matias Hayon, kepada media ini, Selasa (30/6/2020), mengatakan, berdasarkan rapat bersama Pemerintah Kecamatan (Pemcat) Solor Barat dengan para kades, juga diputuskan, operasi Pasar Ritaebang kembali digelar mulai Selasa.

"Pasar Ritaebang Selasa hari ini kembali beroperasi. Pembukaan kembali semua pasar di Solor untuk menghidupkan kembali perekonomian masyarakat yang mati sejak pasar tradisonal di Solor ditutup mulai akhir Maret 2020,” katanya.

Para petani di desa-desa di wiayah Solor Barat dan Solor Selatan dalam kurun waktu 3 bulan terakhir tidak bisa menjual hasil pertanian karena pasar ditutup demi menghindari penularan virus corona.

“Jika pasar sudah operasi kembali, setiap warga wajib taati ketentuan protokol kesehatan," kata Hayon.

Tokoh masyarakat Desa Karawatung, Kecamatan Solor Barat, Matias Kroon, Selasa (30/6/2020), menginformasikan bahwa operasi pasar tradisional sebagai pasar milik Desa Lewohedo, Kecamatan Solor Timur, sudah dibuka kembali pada, Senin (22/6/2020).

Menurut Kroon, berdasarkan pengamatannya pada hari pertama pagelaran pasar, para pengunjung Pasar Podor tampak mengikuti protokol kesehatan sebagaimana diatur agak ketat oleh Pemdes Lewohedo.

"Para pelaku dan pengunjung Pasar Podor wajib kenakan masker, cuci tangan menggunakan air mengalir, dan sabun, penyemprotan disinfektan, pengukuran suhu tubuh menggunakan thermogun, dan selama berada di lokasi pasar wajib menjaga jarak fisik.”

“Pemdes Lewohedo terapkan aturan yang cukup ketat dan melarang keras, anak balita dan lanjut usia (lansia) di atas umur 65 tahun masuk pasar," umgkapnya.

New Normal di Flotim

Pantauan Flores Pos, Selasa (30/6) pagi di lokasi Pelabuhan Larantuka, selain operasi pasar tradisional, dinamika transportasi armada angkutan penumpang laut antarpulau di Flores Timur dan dari Kabupaten Lembata ke Larantuka sudah lancar kembali sebagaimana aktivitas sebelum pandemi covid-19.

Pelaksanaan new normal di tengah pandemi covid-19 di wilayah Flotim sudah ramai kembali. Mobilisasi orang dan sarana angkutan laut dan darat sudah dibuka kembali seperti biasa dan mulai ramai sejak Senin (29/6/2020).

Dalam pengamatan media ini, tampak masih lemahnya kesadaran warga masyarakat dalam menaati protokol seperti menggunakan masker untuk menutup mulut, hidung, dan mata pada saat dalam perjalanan yang melibatkan banyak orang.

Begitu pun perkumpulan dan dan kerumuman massa di lokasi-kokasi umum di pelabuhan laut, terminal, dan pasar sulit dihindari.*