Home Lembata Penganiayaan Muhamad Rizal, Proses Pidana Tetap Dilanjutkan

Penganiayaan Muhamad Rizal, Proses Pidana Tetap Dilanjutkan

1,318
0
SHARE
Penganiayaan Muhamad Rizal, Proses Pidana Tetap Dilanjutkan

Keterangan Gambar : ilustrasi

Lewoleba, Flores Pos — Proses pidana terhadap kekerasan yang dilakukan oleh Kasubag Protokol Setda Lembata, Syukur Wulakada, bersama istrinya dan Ali Betan terhadap Muhamad Rizal (17), Siswa Kelas X SMAN 2 Nubatukan, tidak bisa dihentikan walaupun ada upaya untuk berdamai dari pihak pelaku.

Ibu korban juga menolak untuk berdamai dan meminta Polres Lembata memproses kasus ini sesuai dengan hukum yang berlaku.

Pengacara dari pihak korban, Akhmad Bumi, kepada media ini, Minggu (1/12/2019) mengatakan, semua pihak wajib memberikan perlindungan terhadap anak dari tindak kekerasan dan penganiayaan.

Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 dijelaskan bahwa setiap anak berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan dan penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan tindak kekerasan lainnya.

Akhmad mnejelaskan, penganiayaan dalam hukum dirumuskan sebagai perbuatan yang menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka.

Pasal yang mengatur penganiayaan anak, yakni pasal 76 c UU 35/2014, di mana setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.

Lebih lanjut Akhmad menjelaskan, sanksi yang diberikan terhadap pelaku kekarasan terhadap anak diatur dalam pasal 80, di mana pelaku diancam dengan hukuman 3 sampai 5 tahun penjara.

“Jika ada upaya untuk berdamai antara pelaku dan korban, proses pidana tetap dilanjutkan. Hal itu akan menjadi bahan pertimbangan hakim untuk menjatuhkan putusan,” katanya.

Sudah Ditangani Polres Lembata

Kabag Ops Polres Lembata, AKP Marthin Arjon mengatakan, kasus ini sudah ditangani oleh Polres Lembata. Saat ini, ada upaya dari pihak pelaku untuk berdamai dengan pihak korban.

Namun, upaya untuk berdamai ini tidak akan membatalkan proses hukum yang sedang berjalan.

Sementara itu, ibu korban, Wiwik Astuti Lubis, mengaku bahwa akibat penganiayaan itu, anaknya mengalami sakit, sulit tidur, dan sulit makan.

Ia juga mengaku tidak mau berdamai dengan para pelaku. Ia meminta Polres Lembata untuk melanjutkan proses hukum ini.

Penulis: Maxi Gantung
Editor: Arkian Biaf