Home Opini Perempuan Terus Berjuang

Perempuan Terus Berjuang

1,134
0
SHARE
Perempuan Terus Berjuang

Keterangan Gambar : Bernardus Tube Beding, Dosen PBSI Universitas Katolik Santo Paulus Ruteng.

Kaum perempuan, sepanjang berminat dan memiliki kemampuan untuk menduduki sebuah posisi struktural tertentu serta dapat menunjukkan kejujuran dan akhlak yang baik, sepatutnya dia berjuang dan mendapat dukungan untuk merengkuhnya.

Mungkin kita tahu aktivis dan pejuang perempuan, Dewi Sartika. Pada masa hidupnya beliau sangat gigih memperjuangkan harkat, martabat, dan hak perempuan sejak tahun 1912. Ia mengharapkan adanya perubahan bagi kehidupan kaum perempuan yakni tampilnya perempuan pada semua sektor kehidupan, baik pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan hukum maupun hak asasi.

Dalam era globalisasi sekarang ini, kita membutuhkan banyak Dewi Sartika lain. Sebab ada banyak perempuan yang belum merasakan atau memiliki peluang seperti kaum laki-laki.

Kaum perempuan, sepanjang berminat dan memiliki kemampuan untuk menduduki sebuah posisi struktural tertentu serta dapat menunjukkan kejujuran dan akhlak yang baik, sepatutnya dia berjuang dan mendapat dukungan untuk merengkuhnya. Namun apabila dukungan itu diberikan kepadanya karena keperempuanannya dan bukan kemampuannya, maka itu hanyalah kompensasi rasa rendah diri perempuan di tengah persaingan menggapai posisi sosial pemerintahan atau perusahaan. Sebaliknya, apabila ada yang menentang karena keperempuanannya, tanpa melihat kemampuannya, itu adalah sebuah diskriminasi dan ekspresi dari pikiran picik.

Baca juga: Demokrasi Lokal dan Logika Neoliberal

Tidak ada yang salah apabila perempuan hanya memilih menjadi ibu rumah tangga atau perempuan memilih untuk berkarier di luar rumah. Walaupun sudah diberikan dukungan, hanya sedikit perempuan yang berminat menjadi pejabat struktural, misalnya, kenapa harus dipermasalahkan? Sebaliknya, jika banyak perempuan berminat dan mampu mengatasi semua masalah untuk bekerja di anjungan lepas pantai, kenapa harus dipermasalahkan juga? Semua tergantung pada minat dan kemampuan setiap orang.

***

Perempuan dapat mengembangkan minat dan kemampuannya hanya bila ditunjang oleh ayah yang tidak berkata, “Untuk apa kamu sekolah tinggi-tinggi dan aneh-aneh, nanti juga kamu menjadi istrinya orang. Biar abang dan atau adikmu saja yang sekolah tinggi.” Terdengar kuno tetapi masih sering kita dengarkan pernyataan ini.

Atau perempuan juga dapat mengembangkan minat dan kemampuannya hanya bila suami  tidak seenaknya berkata, “Kamu hanya boleh bekerja kalau rumah tangga sudah beres” (Yang dimaksud dengan rumah tangga adalah ego suami).

Yang lebih parah lagi, “Saya setuju emansipasi tetapi tidak bagi istri saya.” Akhirnya yang terparah adalah suami berkata, “Saya tidak setuju dengan emansipasi dan segala omong kosong itu. Titik!”

Baca juga: Masalah Human Trafficking dan Implementasi UU Nomor 18 Tahun 2017

Perempuan dapat mengembangkan kepribadiannya apabila ditunjang perkataan, “Sebenarnya saya sebagai suami wajib mencari nafkah dan mengangkat derajat keluarga. Akan tetapi, saya pun melihat kamu memiliki minat dan kemampuan. Mari kita atur rumah tangga kita agar pekerjaan saya beres, kamu dapat mengembangkan minat dan kemampuan kamu, hubungan kita selaras, anak-anak mendapat cukup cinta dan perhatian serta dapat berkembang menjadi anak yang cerdas dan berbudi luhur.”

Hanya tiga kalimat tetapi penerapannya terkadang sukar sekali. Hanya suami-istri yang matang secara intelektual dan emosional serta yang percaya diri akan mampu mengatur rumah tangga dengan efisien serta rela berkorban, atau yang mampu mewujudkan tiga kalimat tersebut. Semua syarat tersebut tidak akan datang dengan sendirinya, sebaliknya harus diperjuangkan. Tidak jarang perjuangan sangat berat, tidak kalah dengan perjuangan para perempuan di lembaga swadaya masyarakat, organisasi-organisasi perempuan, bidang eksekutif dan legislatif, dan lain sebagainya.

***

Akhir-akhir ini di negara kita, pembicaraan mengenai keterlibatan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya bidang politik terasa cukup ramai. Ada banyak pihak yang mendukung supaya perempuan terus berpolitik. Dukungan itu muncul dari kelompok-kelompok aktivis perempuan atau orang-orang yang peduli terhadap kepentingan perempuan. Dengan berbagai cara, mereka berusaha supaya kaum perempuan benar-benar terus diberdayakan dalam bidang politik. Juga hal yang sama telah dilakukan oleh pemerhati kaum perempuan. Itulah yang sekarang mereka lakukan, meneruskan perjuangan Dewi Sartika.

Namun, ada juga yang melihat bahwa perempuan belum saatnya untuk aktif dan diberdayakan dalam bidang politik. Pandangan kelompok ini menjadi pertanyaan kita bahwa kalau bukan sekarang, kapan lagi perempuan mulai bangkit? Ingat! Kita sekarang sudah masuk pada era industri 4.0. Jika dalam era ini perempuan menyatakan diri belum siap, lalu kapan lagi?

Baca juga: Pertobatan Ekologis

Kalau kita melihat sejarah aktivis perempuan masa lalu, seharusnya kaum perempuan siap untuk diberdayakan dalam berbagai aspek. Hal ini sejalan dengan perjuangan gender yang sudah dilakukan sejak tahun 1980-an sehingga kaum perempuan masa kini tinggal mengisi perjuangan gender tersebut. Karena itu, perempuan harus bersama-sama saling mendukung dalam perjuangan, bergandengan tangan dengan semua organisasi dan forum yang ada agar tidak merasa sendirian.

Sebenarnya, apabila kita berbicara tentang perempuan, sama saja kita berbicara tentang kemajuan laki-laki. Keduanya bukanlah makhluk untuk diperdayakan, untuk dibandingkan, untuk dikategorikan, dan untuk diklasifikasikan. Keduanya hadir di dunia ini sebagai manusia yang saling melengkapi, saling memberi, dan saling menerima.

Kemajuan suatu bangsa dan negara adalah kemajuan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Karena itu, perjuangan ke depan bukanlah perjuangan hanya untuk kepentingan laki-laki atau hanya untuk kepentingan perempuan, melainkan perjuangan manusia seutuhnya.

***

Masih banyak perjuangan kaum perempuan dari dulu hingga sekarang yang masih belum menunjukkan hasil yang optimal. Masih banyak bidang atau peluang yang belum diberikan kepada kaum perempuan. Ini menjadi suatu refleksi atau renungan bagi kita. Apakah benar, kaum perempuan tidak sanggup dan tidak siap? Hal ini harus menjadi bahan refleksi bagi kaum perempuan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa keanggupan dan kesiapan ada dalam diri mereka, kemudian ditunjukkan ke ruang publik.

Untuk meyakinkan masyarakat bahwa kaum perempuan tidak hanya sebatas berteriak, maka kaum perempuan sudah seharusnya menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, kemudian meningkatkan kualitas diri, menunjukkan etika dan moralitas yang baik. Dan kalau sudah siap, maka tidak ada masalah lagi bagi perempuan untuk maju dan bersaing dalam hidup bermasyarakat di Indonesia.

Satu sisi, kaum perempuan harus berbangga dengan tampilnya para aktivis perempuan yang memperjuangkan nasib kaumnya tanpa pamrih. Karena itu, kaum perempuan sendiri harus mendukung perjuangan tersebut karena perjuangan tidak diawali oleh orang lain tetapi oleh kaum perempuan itu sendiri. Jangan menyia-nyiakan perjuangan kaum perempuan masa lalu seperti Dewi Sartika, tetapi harus meneruskannya dengan bersatu saling mendukung perjuangan perempuan kini dan seterusnya.

Oleh Bernardus Tube Beding, Dosen PBSI Universitas Katolik Santo Paulus Ruteng.