Home Cerpen Puing-puing yang Datang dari Tuhan

Puing-puing yang Datang dari Tuhan

1,341
0
SHARE
Puing-puing yang Datang dari Tuhan

Keterangan Gambar : ilustrasi cerpen, flores pos

 

Cerpen Rian Tap

Jarum waktu tampak gegas. Yolanda, gadis kecil kelas IV sekolah dasar, memandangi ibunya menutup bilik tenda dengan sepotong kain lusuh. Sebab rumah mereka telah menjadi serpihan puing-puing. Gerak tangan ibunya begitu cekat, tetapi ia sempat melihat kenyataan di luar tenda itu.

“Itu sedang shooting film kaya di televisi itu ya, Bun?” Ia bertanya kepada ibunya. Namun ibunya tidak menjawab. Malah ibunya membayangkan puing-puing bangunan yang berserakan itu bukanlah kenyataan dan pohon-pohon yang berjatuhan itu hanyalah imajinasi.

Perempuan paruh baya itu seperti terhenyak dari lamunannya ketika disadarinya langit terlampau kelabu mengiris pilunya suara tangisan lautan manusia. Maklum kedua perempuan itu belum pernah melihat serakan puing-puing bangunan secara langsung, kecuali dari film-film aksi yang sering mereka tonton di televisi.

“Itu puing-puing Tuhan,” balas ibunya tiba-tiba, setelah beberapa lama.

“Puing-puing Tuhan?”

“Iya, puing-puing Tuhan.”

“Bunda bohong, katanya puing-puing itu hanya ada di film-film.”

“Kalau begitu mengapa kau bertanya: apakah itu sedang shooting film kaya di televisi?”

“Soalnya itu memang seperti film yang ada di televisi, Bun.

“Tetap saja itu puing-puing asli, bukan seperti di televisi.”

“Apakah itu benar puing-puing Tuhan?”

“Iya, itu puing-puing Tuhan.”

“Mengapa Tuhan membuat kita menangis dengan puing-puing yang Dia berikan, Bun?”

“Tuhan mau kita belajar dan selalu mengingat-Nya, Nak?”

Keduanya terdiam. Di luar, hujan jatuh tidak tergesa-gesa. Sudah beberapa hari orang-orang tinggal di tenda-tenda pengungsian yang dibangun dadakan oleh para relawan berbagai daerah. Mereka tinggal di satu tenda yang sama, sempit dan berdesak-desakkan seperti di tempat pelelangan ikan.

Orang-orang itu begitu riuh dengan percakapan-percakapan, juga keluhan-keluhan. Sementara, bayi-bayi begitu gaduh dengan rengekan-rengekan. Berbeda dengan perempuan paruh baya itu. Ia menunggu kedatangan suaminya, dan sesekali menanggapi putrinya yang suka bertanya bagai mesin penanya.

***

“Mengapa kita memakai ini?” Yolanda bertanya lagi.

“Itu masker,” jawab ibunya datar.

“Masker?”

“Iya, supaya kita tidak sesak napas karena debu dari puing-puing itu,” timpal ibunya.

Gadis kecil itu terdiam sejenak dan melanjutkan, “Tetapi, itu kan puing-puing Tuhan. Kata Bunda, Tuhan menyayangi kita. Lalu mengapa debu dari puing-puing Tuhan bisa membuat kita sesak napas?”

Perempuan paruh baya itu menoleh kepada putrinya. Mata mereka bertumbukan. Ia menemukan mata anaknya memohon jawaban. Diam-diam ia membatin, mengapa anak-anak kecil selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit lagi mencemaskan? Ia berpaling dari mata putrinya dan kembali menatap langit yang terlampau kelabu. Kepalanya yang tengah dipenuhi kecemasan berusaha menemukan jawaban.

“Tuhan menyayangi kita, karena itu Dia menurunkan debu dari puing-puing-Nya yang bisa membuat kita sesak napas,” ujarnya begitu saja.

“Padahal, kata bu guru, Tuhan suka kebersihan. Kenapa Ia turunkan puing-puing? Ini benar-benar aneh,” timpal Yolanda.

Perempuan paruh baya itu tak percaya dengan jawaban yang baru saja didengarnya. Mengapa pula bocah-bocah kecil zaman sekarang pandai sekali berkomentar layaknya orang dewasa? Apa ia terlalu sering menonton Doraemon dan Mr. Bean?

“Ya, itu tadi, karena Tuhan menyayangi kita.” Ia diam sejenak, melihat anaknya, lalu menambahkan, “Menyayangi tak berarti memanjakan atau selalu membuatmu senang. Kamu ingat waktu Bunda menghukummu tinggal di rumah sendirian karena kamu tak mau pergi ke sekolah?”

Gadis kecil itu mengangguk.

“Itu artinya Bunda ingin kamu belajar menjadi lebih baik. Jika Bunda terus membiarkanmu malas pergi ke sekolah, maka kamu akan ketinggalan pelajaran. Kalau kamu ketinggalan pelajaran, maka kamu akan rugi, dan kamu tidak akan naik kelas. Bunda tak mau kamu rugi, apalagi tidak naik kelas. Makanya Bunda melakukan itu, dan itu karena Bunda menyangimu.”

Yolanda menatap bundanya sebentar dan kembali menekuni langit kelabu di kejauhan.

“Jadi, Tuhan menghukum kita, Bun?” tanyanya kemudian.

“Tuhan hanya ingin kita belajar,” jawab ibunya singkat.

Mereka terdiam cukup lama.

“Mengapa kita harus tidur di sini beramai-ramai dengan orang lain, Bun?” Yolanda bertanya lagi.

“Kampung kita tidak aman. Rumah kita sudah tidak ada. Makanya, untuk sementara waktu kita harus tinggal di sini,” jelas ibunya.

“Tetapi, mengapa sekarang Ayah masih di sana? Bukankah itu tidak aman?”

“Ayahmu sedang mencari Kakakmu agar bisa berkumpul bersama kita di sini.

“Apa Ayah akan kembali ke sini bersama kita?”

Ayah pasti kembali.”

“Kapan?”

“Segera. Kalau semuanya sudah aman dan Kakakmu telah bersama Ayah.”

“Kalau Ayah tidak datang juga bagaimana, Bun?”

“Mmm… mungkin Bunda harus menjemputnya.”

Yolanda terdiam dan mendadak murung.

Sejatinya, perempuan paruh baya itu begitu cemas menunggu suaminya kembali. Sudah sejak awal kejadian, suami dan anak sulungnya tidak ditemukan. Sampai detik itu, ia begitu mencemaskan suami dan anak sulungnya.

“Apa engkau janji tidak akan nakal kalau nanti Bunda tinggalkanmu sebentar untuk balik ke rumah menjemput Ayah dan Kakakmu?” Ibunya bertanya pelan.

“Mengapa aku tidak boleh ikut, Bunda?” Nada suara Yolanda terdengar murung.

“Bukankah sudah Bunda bilang, di sana tidak aman. Kalau tidak untuk menjemput Ayahmu, Bunda juga tidak akan balik ke rumah.”

Gadis kecil itu tertunduk.

“Bunda hanya sebentar. Bunda janji, sebelum langit gelap, Bunda sudah kembali ke sini bersama Ayah dan Kakakmu.”

Yolanda mengangkat mukanya dan mengangguk berat. Perempuan paruh baya itu beranjak dari duduknya dan bergerak kepada salah seorang tetangganya. Mereka berbisik-bisik, lalu ia kembali dan mengecup kening putrinya. Sesudahnya, perempuan paruh baya itu berjalan menjauh dari tenda pengungsian dengan payung hitam yang dimekarkan di atas kepala. Yolanda memandangi ibunya hingga hilang ditelan remang di kejauhan.

***

Selama ibunya pergi, gadis kecil itu hanya terduduk di tenda paling tepi. Ia merindukan ibu, ayah, dan kakaknya. Ia membayangkan mereka harus berjalan melewati debu-debu yang terus mengucur seperti tak ada habisnya itu. Ia membayangkan tubuh ibu, ayah, dan kakaknya tertimpa puing-puing Tuhan, atau terguyur debu dari puing-puing itu.

Semakin ia membayangkan sosok-sosok yang ia cintai, kecemasannya kian menumpuk. Sosok-sosok itu tak kunjung datang. Diam-diam ia menangis dengan kesedihan paling dalam. Matanya menatap jauh ke luar, tetapi tiada sosok-sosok itu mendatanginya. Beberapa tetangga dan relawan menenangkannya dan meminta ia menunggu sambil bermain atau tidur-tiduran. Tetapi semua cara tak menenteramkan kesedihan di lubuk hatinya. Ia masih berdiri di tenda paling tepi dan berharap kedatangan sosok-sosok yang ia sayangi.

***

Di bawah lampu jalan yang pucat, puing-puing bekas bangunan masih tampak berserakan penuh kesedihan. Beberapa pohon terlihat merunduk seperti merajuk. Mendadak, gadis kecil itu membayangkan ibu, ayah, dan kakaknya sangat kelelahan karena debu dari puing-puing itu terus menerus mengguyur mereka, mengguyur rumah-rumah, mengguyur jalan-jalan, dan pepohonan.

Ia membayangkan ibu, ayah, dan kakaknya tengah tertidur pulas berselimutkan puing-puing Tuhan dan meninggalkannya sendirian. Saat itu juga ia menjadi semakin cemas dan ingin menyusul mereka.

Bukankah Tuhan selalu baik pada siapa pun? Apakah puing-puing Tuhan ini mau mengantarku bertemu Bunda, Ayah, dan Kakakku?” batinnya.

Yolanda memandangi sekelilingnya. Orang-orang telah lelap. Beberapa yang lain bermain catur. Sisanya berbincang-bincang di bawah keremangan lampu. Tiada yang benar-benar memedulikannya.

Diam-diam, dengan isakan lirih, gadis kecil itu melangkahkan kakinya keluar, berjalan dan terus berjalan menembusi puing-puing Tuhan.

 


Rian Tap, berasal dari Lembor-Manggarai Barat. Kini, Rian menetap di Ledalero-Maumere.

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas