Home Puisi Puisi-puisi Dede Beo

Puisi-puisi Dede Beo

2,865
0
SHARE
Puisi-puisi Dede Beo

Keterangan Gambar : ilustrasi puisi oleh qikan, kahe-maumere/flores pos

 
Tak Perlu Membenci Musim
 
Kami mendewakan surya
Tanpa membenci kabut
Merayakan detik cahaya
Selepas mendung paling kalut
 
Segala musim lalu lalang
Menyisakan dingin di ujung pagi
Cerita nenek menyibak kenang
Gema rintik terendap ampas kopi
 
Di luar angin risau menderu
Daun-daun hijau terlepas
Batang jagung tetap tumbuh
Meski melengkung hampir terhempas
 
Di balik dinding rumah
Ada mata dan harapan
Yang sama-sama basah
Oleh hujan pun kerinduan
 
Detukeli, 05/02/2019
 
Penenun Puisi
 
Di beranda rumah, ibu menenun puisi.
 
Dalam diam tangannya lusuh menarik larik,
menyelip diksi.
Dengan sabar teduh matanya melukis baris,
mengait bait.
 
Kakinya telentang memangku remah kata yang tumpah.
Luruh detik berdetak melahirkan warna-warni sajaknya perlahan.
Lalu, di malam hari, anak-anak membaca puisi itu sebelum tidur.
 
Di puisi ibu, penuh cinta dan peluk.
Hangat sepanjang mimpi hingga pagi menjelang lagi.
 
Detukeli, 09/05/2019
 
Nggua Rindu
 
Rengkuhlah bumi
dan ciumlah awan,
wahai ata tedo.
 
Katakan cintamu pada wula,
tulislah puisi di relung tana.
 
Biar Du’a Ngga’e tahu
kau bersungguh-sungguh
menderita dalam rindu.
 
Langit biru akan bergembira dalam mendung,
dadanya akan bergetar melalui gemuruh guntur.
 
Dan harapan akan mengalir dalam hujan.
Air mata paling kudus
akan mengaliri pematang yang haus.
 
“Besok, kalian akan menikah di pelataran tubu kanga,
disaksikan ana kalo fai walu dan nitu pa’I,” kata mosalaki.
 
“Beranak cuculah dan bertambah banyaklah,
seperti jagung-jagung di ladang dan bulir-bulir padi di sawah.”
 
Ledalero, 13/11/2019
 
 
Keterangan:
Nggua: ritual atau upacara adat
Ata tedo: orang yang menanam (petani/peladang)
Wula: bulan
Tana: tanah/bumi
Du’a Ngga’e: Tuhan (wujud tertinggi orang Lio-Ende)
Tubu kanga: area sakral di tengah perkampungan orang Lio-Ende, tempat dilaksanakan ritual dan tarian tandak atau gawi
Ana kalo fai walu: masyarakat biasa
Nitu pa’i: arwah para leluhur
Mosalaki: tetua adat.
 

Dede Beo, menulis puisi. Tinggal di Ledalero, Maumere.

 

 
Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi.Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas.