Home Cerpen Tiga Puluh Satu Oktober

Tiga Puluh Satu Oktober

1,764
0
SHARE
Tiga Puluh Satu Oktober

Keterangan Gambar : ilustrasi cerpen oleh Qikan, KAHE-Maumere/Flores Pos

 

Cerpen Reinard L. Meo

 

Sejak awal tahun ini, relasi sosial antarwarga Desa Nusa sedikit terganggu. Bila bukan karena Pilkades, tentu Longginus akan tetap minum tuak tiap akhir pekan bersama Servasius dan kawan-kawannya yang lain.

Pilkades berhasil memecah warga Nusa yang terkenal dengan “Luka Padamu, Berdarah Juga Padaku” itu ke dalam dua kubu yang saling baku injak, di mana pun, kapan pun. 

Suasana di kios kecil milik Servasius tak lagi asyik seperti waktu-waktu yang lewat. Servasius hanya akan mengeluarkan secara gratis Surya 16 bagi kolega-koleganya yang punya kerbau atau pohon-pohon besar di kebun.

Padahal, sebelum gong Pilkades ditabuh, Servasius sangatlah altruis dan punya mata juga hati yang lebar pada siapa saja.

Namun kini, setiap yang berbaju biru, putih-hijau, dan merah-putih datang berbelanja, jawaban Servasius pasti satu dan sama.

“Barang habis. Saya belum belanja!”

Sebetulnya barang masih ada, hanya saja, baliho besar yang memuat wajah memelas milik Cakades dari Suku Mutu seolah meneror Servasius dengan ganas: “Jangan layani, mereka itu lawan!”

Baliho yang tertancap dari arah seberang jalan seperti sedang memata-matai setiap gerak-laku Servasius.

Mulut Servasius telah disumbat dengan dua ratus anakan kayu putih, yang artinya, hanya kepada Cakades Suku Mutu itulah Servasius dengan segenap hartanya mesti mengabdi. 

Servasius telah jadi corong untuk mewartakan sebaik-baiknya siapa itu Cakades Suku Muku. Tanpa paham visi-misi, tanpa mengerti program kerja.

Melihat ada yang berubah dalam persaudaraan yang telah mereka bangun di atas keringat bahkan darah dengan tuak putih dan ayam kampung sebagai tumbal, Longginus tak mau kalah.

Pasokan beras di rumahnya yang sebelum-sebelumnya diperuntukkan sebesar-besarnya bagi semua warga Nusa, kini menjadi sangat sempit ruang distribusinya.

Para pemilik kerbau juga pesuruh-pesuruh yang digaji untuk menjaga kebun dengan pohon-pohon besar di berbagai sudutnya, jelas tak dapat jatah. Mesin giling padi telah disumbang secara cuma-cuma oleh Cakades Suku Tale.

Gosip yang beredar, mesin itu sumbangan. Namun, bersama beberapa pengawalnya, kepada Servasius pada suatu malam, Cakades Suku Tale berkata halus serentak mengancam.

“Pergunakan mesin ini untuk memenangkan saya. Jika saya kalah, mesin ini saya tarik, beserta rumah dan tanahmu sekalian.”

Longginus mengangguk setuju. Dengan kepalan tangan kanan seperti yang biasa digunakan orang-orang dalam TV sambil berseru “Merdeka”, Longginus lantang menjawab: “Siap, Bos!”

Cakades Suku Tale langsung pulang, malam itu juga. Tawaran makan malam dari istri Longginus ditolak mentah-mentah. “Makanan di Kota Kabupaten lebih enak. Hehehe...”

Bukannya ditegur dan diluruskan, sikap angkuh dan bahasa arogan Cakades Suku Tale malah dianggap sebagai bagian dari karakter tegas dan baja oleh pengawal-pengawalnya. Cakades Suku Tale punya loyalis yang apa pun kesalahannya, dia akan selalu baik dan baik-baik saja.

Padahal, puluhan anjing yang oleh warga Nusa dianggap sebagai hewan yang taat dan banyak membantu, dibasmi secara sangat kejam oleh Cakades Suku Tale, kala ia menjabat sebagai Ketua Lembaga Keamanan Masyarakat Desa Nusa, belasan tahun silam.

Sampai kini, tuan-tuan anjing itu tak pernah menemukan bahkan sekadar jejak apalagi rahang milik anjing-anjing mereka.

Persaingan ketat menuju Pilkades membelah tidak hanya relasi persaudaraan Longginus dan Servasius. Tempat duduk di kapela pun kena dampak. Pendukung Cakades Suku Mutu sebelah kanan, Cakades Suku Tale di tengah, sedangkan segelintir anak muda di bagian paling kiri.

Anak-anak muda ini punya semacam koordinator yang bertugas memimpin rapat. Rapat itu mereka namai Rapat Otak Waras.

Agenda utama yang mereka usung ialah melawan propaganda seorang sarjana dari Desa tetangga yang datang jadi guru di Desa Nusa.

Kata sarjana itu, “Pilkades bukan untuk memilih yang kekayaannya paling banyak, tapi mencegah yang kekayaannya paling sedikit berkuasa!”

Anak-anak muda ini sesungguhnya punya niat yang sangat baik bagi warga Nusa. Berbekalkan kemampuan berselancar di dunia maya, mereka tahu bahwa di mana-mana, Pilkades memang selalu buruk.

Mereka mau mengatakan pada semua warga Nusa bahwa isu hilangnya Dana Desa, matinya sayur-sayur, juga propaganda si sarjana itu, tak berfaedah sama sekali.

Namun, bagi Longginus dan Servasius, usaha sekelompok kecil Generasi Otak Waras ini bagaikan melempar garam ke laut.

Warga Nusa lebih butuh sembilan bahan pokok di kios Servasius dan beras di rumah Longginus, daripada omong kosong Generasi Otak Waras yang tidak akan mampu buat perut kenyang itu.

Dari kedua pendukung fanatik masing-masing Cakades inilah, pikiran murni warga dicuci habis-habisan. Servasius getol memberitahukan bahwa Cakades Suku Mutu sudah sangat berhasil di periode pertama, meski janji menuntaskan kasus lenyapnya anjing-anjing warga tak pernah terlaksana.

Sedangkan Longginus, berapi-api meyakinkan bahwa Desa Nusa akan semakin gemilang, di bawah nahkoda Cakades Suku Tale, meski dalam beberapa kampanye, junjungannya itu sering meninju bibir pengawalnya bila lelet membagi nasi bungkus.

Demikianlah masa-masa penuh tekanan itu berlangsung. Pilkades akhirnya terselenggara tepat pada waktunya, meski pada saat yang sama, banyak petugas pungut suara kena demam dan diare. Cakades Suku Mutu menang. Kios Servasius mendadak berubah jadi toko berlantai dua.

Bukannya frustasi, Cakades yang keok malah girang bukan main. Dia diangkat jadi Ketua Perlindungan Batas Tanah Desa Nusa. Empat ratus kilo beras di rumah Longginus dipakai untuk syukuran.

Malam itu, pada tanggal tiga puluh satu Oktober, pada penutupan doa bergilir, Longginus dan Servasius untuk pertama kalinya tahun ini duduk dalam ruangan yang sama. Seorang pemuda yang tidak aktif pada Pilkades itu memimpin doa.

Dalam ujudnya, dia mohon pada Roh Kudus untuk mendamaikan kembali seluruh warga Nusa yang telah tertipu. Pilkades bukan memilih yang kekayaannya paling banyak, tapi memanggil yang sama-sama kaya untuk berkuasa.

Longginus dan Servasius pulang lebih cepat. Di kantor Desa, ada pertemuan penting. Sejak malam itu, pemuda itu menghilang dari Desa Nusa. Sampai cerita ini selesai ditulis, dia tak juga ditemukan. Mungkin tak akan pernah ditemukan. 

 


Reinard L Meo, guru di SMAS Katolik Regina Pacis Bajawa, yang kadang-kadang relawan sosial dan konsultan politik lokal.

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas