Home Sikka Tinggi, Kasus KDRT dan Kekerasan Seksual Selama Pendemi Covid-19

Tinggi, Kasus KDRT dan Kekerasan Seksual Selama Pendemi Covid-19

Penulis: Wall Abulat / Editor: Avent Saur

1,275
0
SHARE
Tinggi, Kasus KDRT dan Kekerasan Seksual Selama Pendemi Covid-19

Keterangan Gambar : Suster Eustochia Monika Nata SSpS dan Frater Hendriawan Darmanto SVD (kanan) serta seorang pegawai Truk Maumere Heny Hungan (baju merah) mendampingi beberapa penghuni Shelter Santa Monika milik Truk Maumere pada Rabu (8/7/2020).


Maumere, Flores Pos — Koordinator Divisi Perempuan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRUK) Maumere, Suster Eustochia SSpS mengemukakan kasus kekarasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual di Kabupaten Sikka selama masa pandemi covid-19 (Maret hingga 30 Juni 2020) sangat tinggi bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Jumlah kekerasan selama masa pandemi mencapai 55 kasus, sementara jumlah kasus tahun sebelumnya di bawah 30 kasus,” kata Suster Eustochia, didampingi seorang pegawai Truk Maumere, Heny Hungan kepada Flores Pos, di Maumere, Rabu (8/7/2020).

Suster Eustochia mengakui, dari hasil penelusuran dan pendalaman keterangan korban kekerasan yang mengadu ke Truk Maumere, ada beberapa penyebab terjadinya kasus kekerasan, antara lain masalah ekonomi, hilangnya pekerjaan suami selama masa pandemi, tinggal terlalu lama di dalam rumah, dan beberapa masalah pribadi lainnya.

“Ini beberapa pemicu yang menyebabkan tingginya kasus kekerasan selama masa pandemi covid-19 ini,” kata Suster Eustochia.

Advokasi dan Bantuan Sembako

Suster Eustochia pada kesempatan ini juga mengatakan, Truk Maumere telah melakukan intervensi terhadap para korban kekerasan dengan beberapa cara. Truk melakukan advokasi dan pendampingan, serta memberikan bantuan sembilan bahan pokok (sembako) kepada korban kekerasan yang mengalami masalah ekonomi.

“Sebagian besar para korban kekerasan yang terjadi selama masa pandemi covid-19 ini, kami tangani. Ada yang kami tampung di Shelter (Rumah Aman) Santa Monika Milik Truk Maumere. Ada pula yang kami berikan bantuan sembako,” katanya.

Menurut Suster Eustochia, masalah kekerasan selama masa pandemi covid-19 kiranya menjadi perhatian semua pihak, terutama pemerintah. Sebab akar masalahnya adalah ekonomi dan tidak adanya pekerjaan para suami yang dalam hal ini menjadi pelaku kekerasan.

“Kondisi para korban kekerasan sangat memprihatinkan. Ada seorang ibu korban kekerasan menemui saya di Kantor Truk Maumere. Korban ini membawa serta dua anaknya.”

“Si ibu ini mengaku tak berdaya setelah tinggalkan oleh suaminya dalam kondisi tidak ada makanan.”

“Saya dan Truk Maumere merasa tersentuh dan memberikan bantuan sembako.”

“Saya harus bantu ibu korban kekerasan ini karena ia sangat miskin. Bagi saya, dalam diri orang miskin hadir wajah Kristus yang mesti saya bantu,” kata Suster Eustochia.*