Home Opini Tolak Tambang, Tutup Lubang Kebohongan

Tolak Tambang, Tutup Lubang Kebohongan

Oleh Steph Tupeng Witin / Perintis Oring Literasi Soverdi Bukit Waikomo, Pulau Lembata

1,970
0
SHARE
Tolak Tambang, Tutup Lubang Kebohongan

Keterangan Gambar : Steph Tupeng Witin

Komitmen rakyat ini tidak akan pernah dimabukkan oleh nyanyian kebohongan dari investor dan kaki tangan sampai ke ruang politik-birokrasi yang sudah mabuk kebohongan yang diproduksi dari lubang tambang.


DISKURSUS TENTANG tambang di Pulau Flores dan Pulau Lembata merupakan wacana “menakjubkan.” Flores-Lembata adalah pulau-pulau indah yang melayang-layang di atas hamparan laut biru. Keindahannya memantik sekian banyak orang untuk datang “bercinta” dengannya.

Para misionaris rela akhirnya memasukkan tubuhnya ke dalam perut pulau ini setelah sekian tahun melukis jejak pengabdiannya. Seperti biji gandum yang jatuh ke tanah nan subur, Flores dan Lembata tumbuh dalam kesahajaan hidup penghuni dengan basis iman Katolik.

Siapa pun yang pernah hidup di tanah Flores-Lembata tidak mungkin tidak akan mengakui jujur bahwa penduduk dua pulau ini hidup sederhana bersama para misionaris yang dalam “keterbatasan” menjadikan Gereja Katolik sebagai medium kreatif untuk mengadvokasi rakyat melalui jalur pendidikan, koperasi kredit, pertanian, infrastruktur jalan, rumah sakit, dan sebagainya.

Baca juga: Ujian Moratorium Tambang!

Kerja kemanusiaan Gereja Katolik ini bahkan menjadi inspirasi bagi pemerintah yang (maaf) memang selalu hadir terlambat persis petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi yang sudah terbakar ludes.

Keterbatasan alam menggerakkan misionaris untuk menjadikan Flores-Lembata sebagai basis pendidikan Katolik. Ruang intelektual inilah yang diikhtiarkan untuk melahirkan anak-anak Flores-Lembata yang cerdas membaca kenyataan alam yang terbatas dan bijaksana bersikap dengan berbasis komitmen menjaga keutuhan lingkungan.

Kecerdasan juga berarti tetap hadirnya kesadaran bahwa saya dulu hidup, sekolah, dan berjuang dengan berkeringat di bawah “kolong melarat” dan bukan sekadar nasib hidup baik saat ini karena berada di bawah belaian belalai konglomerat lalu berteriak kebelet mau menjadi malaikat penyelamat kesahajaan hidup rakyat Flores-Lembata menggali lubang menanam kebohongan tambang.

Pendidikan mestinya membantu anak-anak Flores-Lembata agar berpikir kreatif bagaimana menjaga keutuhan pulau-pulau eksotik ini tanpa pernah menggaruk badannya dengan alat-alat berat pertambangan.

Baca juga: Pabrik Semen dan Risiko Ekologis Jangka Panjang

Pendidikan sahaja di Flores-Lembata kemudian melahirkan anak-anaknya yang kebetulan bernasib baik di ibukota yang lagi dipenjara covid-19, lalu berteriak melawan konsistensi sikap Gereja Katolik tolak tambang bahkan menuduhnya sebagai sebuah ekspresi ketertinggalan. Ini sebuah ketersesatan yang kedahsyatan mudarat virusnya lebih mengerikan daripada covid-19.

Gereja Katolik tidak perlu menyewa ahli geologi untuk meneliti omong kosong atas nama uang: apakah Flores-Lembata layak untuk tambang atau tidak. Pengalaman advokasi tolak tambang yang dilakukan Gereja Katolik di Flores-Lembata bersama tarekat religius (penulis apresiasi Ordo Fratrum Minorum/OFM yang sangat peduli dan konsisten) membuktikan bahwa rakyat yang tamat sambut baru/komuni pertama pun akan tegas menolak tambang kalau memiliki amunisi pengetahuan dampak baik-buruk tambang.

Tentu beda, kalau bupati dan investor bersama kaki tangan yang dibelai belalai konglomerat yang tersebar di berbagai media. Kalau omong persis malaikat yang baru lahir dari lubang kesejahteraan tambang. Semua baik saja. Hidup akan berubah. Mau berubah bagaimana kalau jalan saja masih peninggalan masa kolonial? Berkembang bagaimana kalau tanam padi saja rakyat masih ikut yang diajarkan para misionaris dulu? Lalu apakah tambang akan menyulap semua pohon lontar menjadi penghasil emas atau mangan?

Gereja Katolik sejak dulu sesungguhnya menanamkan benih advokasi agar rakyat Flores-Lembata hidup selaras alam, ramah lingkungan, dan tidak menjadi pecundang kaki tangan perusak keutuhan dua pulau ini. Para misionaris tahu bahwa Flores-Lembata sangat kaya tambang.

Baca juga: Pabrik Semen, Janji Manis, dan Ironi Pembangunan

Di Kampung Lewolera, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, ada batangan emas tertanam di dalam tanah. Misionaris SVD tidak menganjurkan tambang tetapi malah membangun gereja dan pastoran di atasnya demi menjaga keutuhan lingkungan.

Lewolera dalam bahasa Lamaholot artinya kampung cahaya karena sinar emas di dalam tanah itu setia memancarkan cahaya hidup bagi warga sederhana tetapi oleh sesat pikir elite politik dikalkulasikan ke dalam angka kemiskinan. Orang kampung hidup sederhana dan biasa saja dari dulu.

Penerbit Ledalero pada 2009 telah menerbitkan buku Pertambangan di Flores-Lembata: Berkat atau Kutuk? Kesimpulan tegas: tambang hanya membawa kutuk dan mudarat bagi rakyat Flores-Lembata. Gereja tidak perlu ahli geologi untuk tiba pada komitmen tolak tambang. Gereja juga tidak terlalu perlu “nyanyian hasil mimpi” dari anak-anak Flores-Lembata yang dulu merayap di bawah “kolong melarat” lalu kini hidup bergelimang di bawah belaian belalai konglomerat ibukota karena itu hanya habiskan energi.

Bagi Gereja Katolik, Flores-Lembata tidak boleh jadi lubang kebohongan tambang. Saat bertemu Gubernur Viktor Laiskodat di Ruteng, Mgr. Sipri Hormat dalam pemaparannya tidak berbicara tentang pertambangan. Uskup Sipri berbicara soal pembangunan ekonomi di wilayah Pantai Utara Manggarai Raya. Menurut Uskup Sipri, pembangunan di Pantai Utara Manggarai Raya harus dilakukan secara integral berbasis ekologi, geografi, kultural, dan rohani. Titik beratnya adalah pembangunan pertanian, perikanan, kelautan, dan pariwisata (florespos.co.id, 25/6/2020).

Substansi yang disampaikan Uskup Sipri Hormat inilah yang semestinya dikerjakan oleh pemerintah karena memang mereka hadir di ruang politik-birokrasi untuk tanggung jawab ini. Pertanian, peternakan, kelautan, perikanan dan pariwisata adalah pembangunan selaras keutuhan alam.

Komitmen Gereja Katolik ini adalah bahasa lain dari tolak tambang. Orang yang pernah sekolah terendah pun akan mengerti dan memahami itu. Rakyat Flores-Lembata sudah cerdas dengan kasus tambang selama ini. Komitmen rakyat ini tidak akan pernah dimabukkan oleh nyanyian kebohongan dari investor dan kaki tangan sampai ke ruang politik-birokrasi yang sudah mabuk kebohongan yang diproduksi dari lubang tambang.

Bangun Berbasis Ekologi

Gubernur Viktor Laiskodat mengatakan bahwa di tengah polemik tambang di Manggarai Timur, beliau akan mengambil opsi yang menguntungkan NTT. Pernyataan ini sesungguhnya menyiratkan tambang membawa kehancuran bagi NTT. Apalagi saat kampanye Pilgub, beliau tolak tambang.

Gubernur Viktor pun sangat giat kembangkan pertanian dan peternakan di NTT. Saya juga heran bercampur bingung: kenapa Bupati Matim Andreas Agas mau tambang dan bangun pabrik semen di atas wilayah yang mestinya ia bangun berbasis ekologi dengan jalur pertanian, perikanan, perkebunan, dan pariwisata. Apakah uang masih kurang sehingga perlu gali uang tambah lagi dari lubang kebohongan tambang?

Memang, cara paling instan untuk mendapatkan uang adalah tambang. Tetapi risiko kehancuran jauh lebih dahsyat dan sadis. Belum lagi konflik sosial yang akan muncul di tengah masyarakat.

Sejarah penolakan tambang di Flores-Lembata mesti dipahami oleh elite-elite kita. Mungkin kurang baca dan minim diskusi juga, maka otak tidak berkembang jadi kreatif bagaimana membaca kenyataan dan mencari solusi membangun daerah. Boleh jadi juga rakyat memilih pemimpin yang sudah usia pensiun sehingga kehilangan energi kreativitas untuk berpikir bagaimana membangun daerah. Namanya pensiun ya mesti beristirahat dalam damai tetapi di daerah kita ini, ada jenis lain orang tua yang mau berarak ke senja hidup pun masih bernafsu jadi bupati.

Baca juga: Orang-orang Kampung di Antara Pertarungan Kelompok Pro vs Kontra Tambang

Banyak pemimpin di negeri ini yang sukses membangun daerah tanpa tambang. Orang-orang ini sangat cerdas menata ruang politik-birokrasi agar lebih efektif bekerja dan menutup celah korupsi. Kita dukung pemerintah bekerja dengan baik dan benar untuk menjaga keutuhan lingkungan di NTT khususnya Flores-Lembata. Gereja Katolik mendukung pemerintah bekerja dengan prosedur yang benar tanpa menghabiskan banyak waktu dan tenaga hanya untuk menuai antipati dan penolakan dari rakyat.

Orang Flores-Lembata sangat respek dengan elite dan pejabat. Tetapi ketika nuraninya dilukai oleh rencana pembangunan yang berdaya merusak, rasa hormat bisa sirna dan bandang perlawanan akan menerjang.

Tanah adalah aset keberlanjutan hidup semua generasi. Merusak tanah melalui lubang tambang identik dengan memutuskan jejaring ruang hidup generasi masa depan. Elite politik-birokrasi yang dipercaya rakyat mesti bekerja membangun daerah dengan komitmen berbasis ekologi. Pembangunan berbasis ekologi adalah investasi masa depan generasi. Mengampanyekan tambang pada saat usia pensiun itu sama dengan menggali lubang (tambang) untuk “rumah masa depan.”*