Home Opini Tuhan dan Solidaritas Melawan Covid-19

Tuhan dan Solidaritas Melawan Covid-19

Oleh Ivan Sampe Buntu / Pendeta Gereja Toraja, Dosen Filsafat di IAKN Toraja

2,143
0
SHARE
Tuhan dan Solidaritas Melawan Covid-19

Keterangan Gambar : Ilustrasi solidaritas.

Ketika mereka menyalibkan Yesus,
mereka membagi-bagikan pakaian-Nya di antara mereka
dengan membuang undi (Mat 27:35)

PADA ABAD ke-19, konsep solidaritas menjadi sangat radikal di bawah pengaruh Karl Marx yang ingin mewujudkan solidaritas tanpa kelas, sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme.

Dalam sejarah kekristenan awal, ini bukan sesuatu yang baru. Gereja perdana telah mempraktikkan solidaritas yang tidak mengenal tuan dan hamba, bahkan milik pribadi menjadi milik bersama (Kis 2:44-45).

Jauh sebelumnya, Platon (abad ke-5 SM) merumuskan bahwa seorang pemimpin tidak boleh ada milik pribadi. Pemimpin harus memiliki segalanya bersama. Paus Johanes Paulus II juga demikian, solidaritas dipandang sebagai tekad kuat dan terus-menerus melibatkan diri dalam kebaikan bersama (bonum commune).

Solidaritas Tidak Biasa

Tuhan Yesus mempraktikkan solidaritas yang tidak biasa. Solidaritas itu berpuncak pada kisah sengsara, kisah Yesus yang tak berbusana di salib. Yesus secara simbolik memperlihatkan manusia yang tak berbusana di Taman Eden. Manusia di Taman Eden dinarasikan kembali oleh Yesus dalam kisah sengsara. Keadaan ini yang mengundang tangisan putri-putri Yerusalem, simbol ketidakberdayaan di hadapan Allah.

Baca juga: Salib Tuhan: Masih Terselubungkah di Pintu Rumah Hatimu?

Kepada mereka, Yesus menasihati, “Hai putri-putri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk 23:28).

Tangisilah dirimu dan anak-anakmu! Kita seharusnya yang malu dengan dosa kita. Kita seharusnya yang menangisi diri karena peristiwa kejatuhan dalam dosa di Taman Eden yang menyingkap kedosaan manusia. Tubuh polos tidak hanya soal tidak adanya pakaian untuk menutup tubuh, tetapi juga menyibak keegoisan manusia yang menolak untuk berpartisipasi dalam solidaritas ilahi.

Keadaan di Taman Eden diekspresikan kembali oleh Yesus di salib. Ini menunjukkan solidaritas ilahi atas hidup kita. Solidaritas Yesus dilakonkan oleh para prajurit, membagi-bagikan pakaian-Nya dengan cara mengundi.

Dengan keadaan Yesus di salib, kita telah membagi-bagikan pakaian-Nya untuk menutupi tubuh hina kita yang penuh dosa. Armada Riyanto menyebut, “tubuh Tuhan adalah pemberian diri dan cinta-Nya secara tuntas kepada karya penebusan umat manusia. Kemurnian cinta Kristus kepada manusia telah ditampilkan dalam “tiada tersisa-nya” apa pun yang melekat pada tubuh-Nya.”

Inilah puncak solidaritas Tuhan kepada manusia. Yesus membiarkan pakaia-Nnya dibagi-bagikan kepada kita dengan cara undi. Tetapi keadaan Yesus di salib bisa memaksa kepala pasukan menyatakan pengakuannya, “sungguh, orang ini adalah orang benar!” (Luk 23:47).

Baca juga: Tuhan, Kini Kuulangi Janji Imamatku

Keadaan Yesus itu adalah solidaritas personalistik, bukan solidaritas organik dan mekanistik (bdk. Max Scheler, tiga jenis solidaritas). Solidaritas personalistik karena didasarkan pada penghargaan tertinggi pada pribadi (persona) manusia sebagai nilai tertinggi. Solidaritas Yesus bukan hanya pada keluarga atau kerabat (solidaritas organik), dan bukan juga pada kelompok tertentu (solidaritas mekanistik). Solidaritas Yesus pada nilai kemanusiaan, justru terlihat secara sempurna pada keadaanya-Nya di salib.

Mengapa? Keadaan itu mengubah hidup manusia, dari manusia dosa menjadi manusia yang telah memakai pakaian. Dari manusia yang rusak secara kodrati (pandangan Martin Luther) menjadi manusia yang telah dipulihkan karena auratnya telah ditutup oleh Yesus dengan pakaian-Nya sendiri.

Covid-19 dan Solidaritas Tuhan

Solidaritas Yesus dengan demikian sesungguhnya menjadi pesan bagi kita, betapa pentingnya membangun solidaritas bersama (solidaritas global, kata Harari). Solidaritas personalistik menjadi keniscayaan dalam menanggulangi covid-19.

Harari dalam sebuah artikel berjudul The World After Coronavirus menyebut bahwa solidaritas global adalah hal penting untuk bersama membasmi covid-19. Palestina dan Israel bisa bersama melawan covid-19, Cina terlibat membantu beberapa negara seperti Italia, Indonesia, bahkan Amerika yang selama ini berada dalam perang dagang.

Bagaimana dengan kita? Solidaritas itu bukanlah hal sulit karena kita mempunyai ideologi Pancasila, di dalamnya ada semangat gotong royong.

Baca juga: Angkuhnya Orang Beriman

Negara hari ini membutuhkan solidaritas bersama dalam melawan covid-19. Kita mestinya bergotong royong, bukan membiarkan pemerintah bekerja sendirian. Ini adalah pandemi, yang mungkin tidak satu pulau pun di Indonesia bisa menghindarinya. Gotong royong itu tidak berat jika kita mempunyai solidaritas yang sama terhadap kemanusiaan.

Soekarno pernah menyebut, “saya seorang nasionalis, tetapi nasionalisme saya adalah kemanusiaan (nasionalism is humanity).” Tinggalkan perbedaan,egosentrisme mesti dijauhkan. Solidaritas personalistik lebih memudahkan bangsa ini bergotong royong melawan covid-19. Ingat, kita adalah anak-anak merah putih yang berada dalam rumah yang sama, Indonesia.

Ikuti protokol pemerintah, stay at home, physical distancing. Hargai hidup orang lain dengan tidak menumpuk kebutuhan dapur sebab menghargai hidup orang lain sama dengan menghargai hidup kita sendiri.

Tanggung jawab terhadap orang lain adalah prinsip moral dasar, kata Levinas. Itu bukan pilihan, melainkan sebuah keniscayaan untuk dikerjakan bersama.

Mari membangun solidaritas global. Karena covid-19 bisa menyerang kita semua, baik beragama maupun tidak beragama. Menyerang mereka yang menyebut dirinya paling beriman, pun yang tidak punya iman. Dunia membutuhkan solidaritas personalistik, solidaritas ilahi yang tentu dimiliki oleh setiap orang yang beragama.*