Home Manggarai Wabah Antraks, Ratusan Ternak di Pulau Mules Mati

Wabah Antraks, Ratusan Ternak di Pulau Mules Mati

1,686
0
SHARE
Wabah Antraks, Ratusan Ternak di Pulau Mules Mati

Keterangan Gambar : Ternak sapi yang mati diduga terserang virus antraks di Pulau Mules, Kabupaten Manggarai, akibat kekeringan dalam tujuh bulan terakhir.

Hewan piaraan dan hewan liar kesulitan mendapat makanan karena rerumputan kering. Data sementara, ada 202 hewan mati seperti sapi, kambing, dan kera. Diduga, ini wabah antraks.

Ruteng, Flores Pos — Pulau Mules, Desa Nuca Molas, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai,  didera kemarau panjang. Warga kesulitan mendapatkan air.

Hewan piaraan dan hewan liar kesulitan mendapat makanan karena rerumputan kering. Data sementara, ada 202 hewan mati seperti sapi, kambing, dan kera. Diduga, ini wabah antraks.

Pelbagai informasi yang didapat wartawan dari Polsek Satarmese setelah mendapat telepon dari Kades Nuca Molas, Burhima, Rabu (16/10), kemarau terjadi sejak tujuh bulan lalu di pulau itu.

Kemarau panjang tersebut memanggang apa saja di pulau satu-satunya di Manggarai itu mengakibatkan sumber air mati dan rerumputan mati, serta hewan. Warga sangat kesulitan mendapatkan air. Ternak piaraan kesulitan mendapatkan makanan dan air. Banyak ternak terutama sapi mati akibat kekeringan tersebut.

Baca juga: Berpotensi Antraks, Kelurahan Tangge dan Desa Ngancar di Manggarai Barat Diisolasi

Camat Satarmese Barat, Venan Gantas, yang dihubungi wartawan per telepon dari Ruteng mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Kades Nuca Molas, Burhima, guna mengikuti setiap perkembangan di lapangan.

Hewan piaraan dan liar, katanya, mati karena kehausan dan tidak mendapatkan makanan karena air kering dan rerumputan mati.

"Data sementara yang ada pada kami total hewan mati 202 ekor. Perinciannya, sapi 108 ekor, kambing 86 ekor, dan kera 8 ekor. Untuk hewan liar mungkin jumlahnya lebih banyak karena yang ada itu berdasarkan temuan warga setempat," katanya.

Sumur Mengering

Dikatakannya juga bahwa kekeringan panjang itu juga berakibat buruk bagi sumber air masyarakat, yakni sumur dan air jaringan pipa Wae Lambo. Data sementara, ada tujuh sumur mengering dan debit air Wae Lambo turun drastis.

Akibatnya, warga kesulitan mendapatkan air dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masalah air perlu intervensi segera dari Pemkab Manggarai.

Baca juga: Dua Tahun Dinkes Mabar Gagal, Pembangunan RSUD Komodo Akhirnya Ditangani Dinas Perumahan Rakyat

Menurutnya, kejadian tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah kabupaten baik melalui jalur pemerintah desa maupun pemerintah kecamatan. Tetapi, juga lewat komunikasi langsung dari desa ke Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai, guna segera mendapat pertolongan dan perhatian atas masalah tersebut.

“Kebutuhan yang mesti segera diisi adalah air untuk warga satu desa tersebut,” katanya.

Camat Venan Gantas mengatakan, pihaknya juga telah mendapat informasi bahwa tim dari Ruteng akan segera datang ke Pulau Mules guna menyikapi apa yang terjadi.

Kedatangan tim dari kabupaten itu ditunggu oleh warga guna segera berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa untuk mencari jalan keluar terutama terkait kesulitan air.

Sudah Ada Laporan

Bupati Manggarai, Deno Kamelus, yang ditemui wartawan di Ruteng mengatakan, pihaknya telah mengetahui adanya masalah kekeringan di Pulau Mules dua hari lalu.

Dikatakannya juga bahwa kekeringan telah menyebabkan banyak persoalan pada masyarakat dan hewan milik masyarakat. Yang paling parah adalah kesulitan air baik untuk manusia maupun hewan.

"Betul sudah ada laporan masuk. Apa yang ada harus segera kita sikapi. Masalah air dan kesehatan masyarakat Pulau Mules. Kita harus segera atasi soal itu sesegera mungkin," katanya.

Penulis: Christo Lawudin
Editor: Avent Saur