Home Cerpen Warisan Janda Tua

Warisan Janda Tua

803
0
SHARE
Warisan Janda Tua

Keterangan Gambar : ilustrasi cerpen, SL/flores pos

 

Cerpen Ricko W

 

Setelah dua orang anaknya meninggal dunia, kali ini, Mama Ance harus kehilangan suaminya lantaran komplikasi sakit yang diderita. Duka tak bertepi itu mendatanginya tatkala kesedihan kehilangan sang anak belum juga purna.

Usai rangkaian upacara pemakaman sang suami, Mama Ance merasakan kesepian yang kian menikam. Satu persatu pelayat meninggalkannya hingga ia merasa benar-benar sendiri.

Yang mendatangi hidupnya kini hanyalah serentetan permasalahan. Semuanya begitu menggebu-gebu seolah-olah hidup menjanda adalah berkat.

Dua orang laki-laki bertubuh kekar datang ke rumah beberapa hari kemudian. Mereka mengaku sebagai kakak dan adik dari suami Mama Ance. Kedua lelaki itu menuntut hak milik mereka atas rumah dan tanah.

“Mama sudah tak punya suami, sudah tak punya anak kandung. Semua peninggalan yang ada ini adalah hak milik kami sebagai segenap sanak keluarga dari garis bapak. Semua adalah milik kami. Jangan coba-coba untuk menjualnya.” Yang lebih tua mengancam. Dan Mama Ance diam mendengarkan.

Mereka tahu Mama Ance telah menjual mobil kijang keluaran tahun delapan puluhan demi bertahan hidup.

Beberapa barang peninggalan juga pasti akan dijual lagi kalau-kalau ia ingin terus bertahan hidup. Gaji dan tabungan sebagai guru bertahun-tahun telah ludes untuk pengobatan dan terapi sang suami.

Mama Ance tak lagi miliki apa-apa. Yang ada hanyalah harga diri sebagai seorang janda tua yang masih bisa mengajar di beberapa sekolah dengan gaji yang tak seberapa.

“Pulanglah ke rumah kalian. Saya sudah tak punya apa-apa. Semua barang yang ada di sini adalah hasil keringat saya dan suami saya. Kalian tak tahu malu menuntut semua ini. Kemalasan yang merasukimu kalian untuk dapatkan semua ini.” Mama Ance membalas setelah cukup lama menampung kemarahan.

Kedua laki-laki tegap itu gusar, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Mereka pulang dengan amarah terpendam.

Nalar mereka yang picik akibat kurang pendidikan mulai licik. Keduanya mencari-cari cara mengusir Mama Ance dari rumah.

Bila tiba malam hari, mereka melempari rumah dan mencuri beberapa ekor ayam peliharaan Mama Ance. Mereka kerap mengulangi perbuatan tolol itu.

Merasa diteror, Mama Ance melapor polisi. Dengan bukti yang cukup kuat, kedua pria tadi akhirnya ditangkap dan mendekam di penjara untuk beberapa minggu.

Namun, kedua lelaki itu tak henti-hentinya bertobat. Mereka merasa perlu menuntaskan dendamnya kepada Mama Ance.

“Dendam harus dituntaskan,” geram yang tua sembari meneguk segelas moke dengan raut masam. “Ini akan jadi pembalasan yang membuat janda tua itu keluar dari rumahnya kini dan selama-lamanya. Dan tanah itu adalah milik kita sebagai pewaris yang sah.” Ia meletakkan gelas itu dengan kasar.

Usai meneguk moke, antara sadar dan tidak sadar, dua lelaki itu melompati pagar rumah yang telah digembok rapat. Suasana sekitar tampak begitu sepi. Hari masih terlalu dini. Pukul dua pagi.

Di langit, bulan yang menyembul menyinari kulit hitam legam berminyak kedua lelaki itu. Dua jeriken bensin dijinjing masuk ke halaman rumah yang sunyi.

Di beranda rumah itu, ada beberapa kursi bambu dan meja plastik yang tidak tertata rapi. Berhamburan begitu saja ke segala arah. Lampu di teras rumah suram-suram, seperti pelita kehabisan minyak tanah.

Tanpa banyak bersuara, kedua lelaki itu mengendap, menyiramkan dua jeriken bensin hingga membasahi hampir seluruh teras rumah. Jendela-jendela rumah bagian depan juga disiram. Semuanya dilakukan dalam diam dan berhati-hati.

Usai memastikan semuanya, kedua pemuda itu menyulutkan api dan membakar bagian-bagian yang disiram bensin. Api membumbung dan merambat ke dalam ruang tamu dan kamar tidur. Api itu bernyala-nyala dan menelan segalanya tanpa ampun.

Pemilik rumah tersadar dan berteriak histeris. Nyala api terus berkobar-kobar. Beberapa orang tetangga juga tersadar dan turut menjerit-jerit.

Dengan sigap, beberapa pemuda memadamkan api itu. Segala pertolongan itu hanya menyelamatkan seorang anak perempuan berusia lima tahun. Di dalam sana, sepasang suami istri tewas mengenaskan terbakar api.

Kedua lelaki yang membakar rumah itu menepuk dada merasa puas. Mereka tidur begitu pulas malam itu.

Keesokan harinya, lelaki yang lebih muda melihat Mama Ance di pasar. Ia sedang membeli ikan dan beberapa ikat sayur. Lelaki itu terheran-heran.

"Bukankah rumah si janda itu sudah ludes terbakar? Dan kalau memang demikian untuk apa dia berada di pasar seolah tak terjadi apa-apa?"

Tak puas, ia kembali dan menceritakan kejanggalan yang berkelabat di kepalanya kepada lelaki yang lebih tua.

“Ada yang aneh. Kemungkinan kita salah target,” katanya ketakutan. “Saya tidak mau masuk penjara lagi karena tindakan konyol ini.” Suaranya bergetar, seperti orang menangis.

Tanpa jawaban dan dengan raut wajah kecut, lelaki yang lebih tua mengajaknya ke lokasi kebakaran semalam. Mereka terkejut bukan main.

Rumah yang mereka bakar bukan rumah Mama Ance. Rumah itu adalah rumah sebuah keluarga kecil yang baru pindah dari Jawa.

Si pemilik rumah adalah seorang perwira polisi yang bertugas di Polres Maumere. Rumahnya persis berada di depan rumah Mama Ance.

Dari pemberitaan koran lokal, penyebab kebakaran sudah diketahui dan pelakunya sedang diburu polisi.

Berselang tiga hari kemudian, ditemukan dua orang lelaki tewas bunuh diri di dua tempat yang berbeda. Seorang menenggak racun tikus dan seorang yang lain tewas gantung diri di dapur rumah.

Mendengar berita kematian kedua lelaki itu, Mama Ance membatin sedih, “Kasihan, mereka masih muda dan tak tahu apa-apa tentang warisan.”

 


Ricko W, pencari siput di Lewoleba.

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas