Home Opini Teringat Candu Politik pada Baliho-baliho

Teringat Candu Politik pada Baliho-baliho

224
0
SHARE
Teringat Candu Politik pada Baliho-baliho

Keterangan Gambar : Gabriel Adur, Rohaniwan Bekerja di Keuskupan Agung Muenchen, Freising, Jerman

Orang-orang di kampung memang menggemaskan. Jangan pernah Anda remehkan. Merekalah yang menghidupkan dapur-dapur Republik dengan kesederhanaan mereka.

Teringat lagi situasi siap pilih memiliki tantangan tersendiri untuk rakyat. Meski bukan baru. Namun selalu ada yang lain. Bagi saya, ini menggemaskan. Mereka sering kali dikelabui, ditipu, dikhianati, juga ditelantarkan. Bahkan dilupakan. Namun mereka tetap saja mau memilih. Salut!

Kembali ke Kampung

Meminang hati rakyat menjadi penanda khusus masa pra pemilihan. Berbagai cara dan bentuk, kandidat-kandidat pemimpin daerah atau calon peminang kursi membuat pendekatan. Kembali ke kampung dan pendekatan kultural menjadi sebuah tren politik.

Kampung adalah rumah. Di sana ada kekuatan. Awal yang baik untuk maju ke panggung politik. Orang-orang kampungku berharap mendukung secara politis. Ini sebuah langkah konkret, riil, dan strategis.

Baca juga: Memerangi Kemiskinan

Orang-orang kampung dan desa yang miskin kedatangan tamu istimewa. Sebuah kehormatan. Atau? Penyambutan juga yang istimewa. Jalan-jalan yang jarang diperhatikan oleh Pemda biasanya ditumbuhi rumput-rumput liar dibersihkan agar mobil-mobil mereka tidak rusak. Diratakan agar tidak macet. Kemudian dihiasi dengan berbagai bendera plus baliho sang tamu.

Di sana pada baliho-baliho ada senyum dan tawa. Indah, menawan, dan mudah-mudahan tidak genit. Moto, visi, dan misi politik ditulis dengan gaya artistik membangkitkan rasa dan asa untuk membaca.

Nilai estetis dalam membuat baliho-baliho merupakan perpaduan ide-ide artistik politis sang tamu dan seniman membuatnya menjadi opium tersendiri untuk rakyat.

Candu, menenangkan hati dan membangkitkan gairah menyambut kedatangan mereka. Di sana rakyat pada umumnya hanya melihat keindahan dan seni di permukaan. Bersifat sementara dan sesaat. Mereka belum mampu menyelami sisi terdalam dari mereka (Sigmund Freud).

Terbuai olehnya, tuan-tuan rumah menampilkan berbagai atraksi. Dari tarian penyambutan sampai pada penyembelihan hewan-hewan korban. Darahnya diperuntukkan bagi leluhur.

Baca juga: Desa dan Aroma Kekeluargaan

Dari arwah leluhur sampai meminta restu dan berkat kepala-kepala kampung. Dari mengorbankan hewan-hewan sampai pada pengorbanan finansial dalam memandikan hati tua-tua adat. Dari kebiasaan memakai mobil dinas dengan kaca tertutup takut debu dan angin, mereka kembali berjalan kaki untuk jarak yang pendek di pintu masuk kampung. Dari tidak terbiasa makan sirih pinang seperti mama-mama dan bapak-bapak di kampung, mereka dibiasakan (secara terpaksa) biar terkesan merakyat. Ritus politik pragmatis!

Kampung-kampung menjadi tungku harapan untuk sukses. Sesuatu yang positif. Nilai-nilai budaya lokal dibaca, diapresiasikan, dan dihidupkan kembali pada saat kampanye. Mudah-mudahan selanjutnya dihidupkan dalam praksis politik.

Hadiah Sang Tamu

Hadiah sang tamu juga bukan main-main. Segudang janji. Kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan untuk rakyat. Klasik.

Afirmasi diri bersifat konjuktif pula: kalau ase ka’e, weta, nara ( bahasa Manggarai: kalau saudara-saudari) memilih saya, saya akan mengusahakan kebaikan bagi kabupaten atau provinsi. Kalau saya jadi Bupati atau Gubernur, rakyat akan terjamin. Luar biasa.

Di situlah rakyat dihipnosis jika kritik rasional dikibuli propaganda kesukuan (anak kampung saya dan kami). Rakyat tergiring ke politik kesukuan. Bukan karena kemauan sendiri, namun mungkin kurang menyadari rasionalitas politik.

Bukan kehendak mereka. Keterpesonaan akan senyum dan tawa sang tamu menggoda. Mereka semacam diberikan guna-guna bukan dengan dukun melainkan terkesima dan kagum dengan retorika yang memainkan bahasa-bahasa indah.

Punya bobot? Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab saat berkampanye. Urgensi politiknya jelas. Bisa menawar hati rakyat sesaat. Merayu-rayu sampai layu. Membujuk-bujuk sampai galau. Lalu pada saatnya memberikan suara untuk sang tamu.

Di sinilah rakyat terperangkap dalam ego politik sang tamu. Secara tidak langsung, itu menggiring rakyat pada dua sisi egoisme berbahaya.

Pertama membangkitkan insting mempertahankan “orang kami” (politik kesukuan) dan memperkuat politik identitas.  Ini persoalan. Politik terus-menerus menjadi taktik adu domba masyarakat. Proses mencerdaskan rakyat dan mengedepankan rasionalitas pada ranah politik mati.

Elan dan semangat untuk kecerdasan politik kosong seperti asap-asap dapur rakyat miskin yang tidak lagi mengepul. Sebuah proses penumpulan rakyat untuk berpikir positif ke arah perbaikan kehidupan politik. Di sisi lain, itu mempertajam proses pembodohan rakyat.

Kedua, rakyat digiring mendukung konjuktivisme politik sang tamu. Mendukung politik “jikalau dan seandainya…, maka….”. Padahal kenyataannya selalu berbeda. Tdak sesuai dengan janji-janji manis seperti pada masa kampanye.

Kata-kata indah dan puitis jika tidak dikonkretkan dalam perbuatan, itu menjadi hampa. Dalam arti, kepercayaan rakyat dijual-belikan dengan retorika politik palsu.

Orang-orang kampung dari mana setiap kita berasal memang menggemaskan. Selalu punya penghargaan tinggi atas niat baik setiap kandidat. Mereka mempersiapkan tempat terbaik untuk sang tamu: makanan enak, disuguhi minuman adat (dalam budaya kita, moke (minuman beralkohol) berkelas atau sekarang bir menjadi tren).

Setelah kampanye sang tamu dengan mobil-mobil mewahnya pergi. Kembali ke kota atau ke kampung tetangga dengan modal retorika sejenis.

Seusai Pemilihan

Kampung-kampung mulai sepi ditemani baliho-baliho. Senyum dan tawa yang mematung dan bahkan mati rasa menyapa siang dan malam, di kala sepi, bahagia, dan duka. Doa dan harapan pun menyertai mereka.

Hadiah sang tamu serasa abstrak. Perpaduan berbagai kata dan frasa yang sulit dipegang. Juga sulit dirangkaikan secara logis untuk membentuk sebuah pemahaman politik merakyat.

Namun hadiah ini mesti dipegang. Mungkin setelah pemilihan, orang-orang kampung sudah bisa mulai berpikir untuk membuat tagihan yang jelas. Kontrak sosial! Sederhana saja: janji adalah utang. Setiap hutang pasti akan dibayar. Kalau tak mau ada utang, jangan membuat janji. Apalagi janji dengan rakyat, itu memiliki konsekuensi sosial.

Ingat bahwa orang-orang kampung dan sederhana memilih. Pilihan untuk memilih adalah sesuatu yang tepat. Alternatif konstruktif. Dengan memilih, rakyat mempunyai hak untuk mengontrol jalan dan dinamika politik.

Orang-orang di kampung memang menggemaskan. Jangan pernah Anda remehkan. Merekalah yang menghidupkan dapur-dapur Republik dengan kesederhanaan mereka. Jangan salah kaprah menjadikan mereka sebagai alat politik. Berpolitiklah untuk kesejahteraan mereka.

Oleh Gabriel AdurRohaniwan Bekerja di Keuskupan Agung Muenchen, Freising, Jerman