Home Sikka Kematian Babi Meningkat, Distan Terapkan Protokol Kesehatan Pemotongan Babi di RPH Sikka

Kematian Babi Meningkat, Distan Terapkan Protokol Kesehatan Pemotongan Babi di RPH Sikka

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

1,226
0
SHARE
Kematian Babi Meningkat, Distan Terapkan Protokol Kesehatan Pemotongan Babi di RPH Sikka

Keterangan Gambar : Dinas Pertanian Sikka menerapkan protokol kesehatan pemotongan babi bagi pejagal yang hendak menyembelih babi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Distan Kabupaten Sikka. Tampak dalam foto beberapa pejagal yang menerapkan protokol pemotongan babi di RPH Distan Sikka, baru-baru ini.


Maumere, Flores Pos — Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) pada Dinas Pertanian (Distan) Sikka menerapkan protokol kesehatan pemotongan babi dan protokol kesehatan covid-19 di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Distan Sikka dalam tiga pekan terakhir.

Pemberlakukan penerapan protokol kesehatan pemotongan babi dilakukan untuk mencegah kematian babi yang disebabkan oleh Hog Cholera dan Demam Babi Afrika atay African Swine Fever (ASF) yang cenderung meningkat di wilayah itu dalam beberapa pekan terakhir.

Demikian dikemukakan Kepala Bidang (Kabid) Keswan pada Dinas Pertanian Sikka Dokter Hewan Maria Margaretha Siko atau yang biasa disapa Dokter Metha kepada Flores Pos, Minggu (24/8/2020).

Dokter Metha mengakui bahwa untuk menghindari terjadinya penjualan daging babi yang terpapar Hog Cholera atau Deman Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) maka Keswan Distan menerapkan protokol kesehatan untuk pemotongan babi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di mana RPH dilengkapi fasilitas pagar, air dan perlengkapan di dalamnya.

“Fasilitas kami siapkan darurat. Pagar menggunakan seng bekas. Perlengkapan di dalam dikerjakan sendiri karena biaya yang tersedia tidak cukup. Jadi tukangnya teman-teman sendiri yang kami mobilisasi untuk kerja,” kata Dokter Metha.

Baca juga: Kematian Babi di Kabupaten Sikka Meningkat Lima Kali Lipat

Untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan daging, lanjut Dokter Metha, maka Keswan Sikka telah membuat/menerapkan protokol untuk pemotongan di mana sebelum dibawa ke RPH, pejagal harus melaporkan pada Distan Sikka babi yang hendak dipotong dan mesti jelas asalnya dari mana.

“Petugas kesehatan hewan kecamatan memeriksa babi tersebut di daerah asal. Kalau sehat boleh dibawa ke RPH. Sampai di RPH babi diistirahatkan minimal 12 jam sebelum dipotong. Pemeriksaan dilakukan sekali lagi untuk dapat rekomendasi apakah layak dipotong, ditunda pemotongannya atau ditolak untuk dipotong. Setelah disembelih, dilakukan pemeriksaan kesehatan daging dari organ dalamnya apakah layak dikonsumsi, atau ada bagian yang harus diafkir. Pengawasan dilakukan sampai di pasar untuk memastikan dagingnya tidak dicampur dengan daging lain,” katanya.

Pejagal Mesti Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19

Selain penerapan protokol kesehatan pemotongan babi, lanjut Dokter Metha, Distan Sikka cq Keswan menerapkan protokol kesehatan covid-19 bagi pejagal yang bertugas.

“Hanya pejagal yang sehat yang boleh melakukan pemotongan. Ada thermogun untuk mengukur suhu. Wajib cuci tangan dan menggunakan masker. Untuk kebersihan daging pejagal wajib menggunakan apron/celemek. Kurang lebih demikian. Memang masih banyak yang kurang tapi kami berusaha untuk melakukan yang bisa dilakukan. Yang dilaporkan selama ini sehat semuanya. Kalau yang di masyarakat pernah ditemukan larva cacing pita. Cacing pita ini dapat menular ke manusia kalau tidak diafkir.

Sebelumnya, media ini memberitakan bahwa kasus kematian babi yang disebabkan oleh Hog Cholera dan ASF di Kabupaten Sikka meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir di jumlahnya dengan jumlah kematian mencapai ribuan ekor babi. Untuk mencegah peningkatan kasus, Distan Sikka sejak pekan lalu memperketat pemeriksaan kesehatan babi di RPH di Kota Maumere sebelum daging peliharaan itu dipasarkan ke konsumen di Kabupaten Sikka.

Baca juga: Kadis Mauritz Sesalkan Ulah Warga yang Membuang Bangkai Babi di Kantor Distan Sikka

Kepala Distan Sikka Mauritz da Cunha melalui Kabid Kesehatan Hewan Dokter Metha yang dihubungi media ini mengemukakan bahwa pengetatan pemeriksaan kesehatan babi sebelum dipotong dan sesudah dipotong untuk memastikan bahwa selain bertujuan agar daging yang akan dipasarkan itu nyaman untuk dikonsumsi oleh warga, juga memberikan advokasi kepada warga agar hasil pengolahannya/limbahan dagingnya tidak berisiko bagi peliharaan babi lainnya.

“RPH sudah mulai beroperasi sejak tanggal 4 Agustus 2020. Untuk penjualan daging di pasar sekarang dagingnya dari RPH Babi. Jadi kami lakukan pemeriksaan kesehatan babi sebelum dipotong dan setelah dipotong,” kata Dokter Metha.

Jangan Khawatir Beli Daging Babi di Pasar

Dokter Metha pada kesempatan itu mengimbau masyarakat agar jangan khawatir untuk mengonsumsi daging babi yang dagingnya dibeli di pasar, meskipun harus mematuhi beberapa protokol kesehatan babi di tengah mewabahnya Hog Cholera dan ASF.

“Masyarakat tidak perlu khawatir untuk beli daging babi di pasar. Tapi karena Kabupaten Sikka sudah tertular ASF maka sudah saatnya masyarakat harus dibiasakan untuk memasak daging babi sampai mendidih, dan sisa makanan yang mengandung daging babi, air cuciannya tidak boleh diberikan kepada babi yang masih hidup,” pinta Dokter Metha.

Lima Penegasan Bupati Sikka

Sementara Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo menyikapi secara serius kasus mewabahnya kematian babi akibat diserang virus ASF di Kabupaten Sikka dalam beberapa bulan terakhir dengan mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada para pihak yang intinya meminta elemen warga untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit ASF pada ternak babi secara terus menerus.

Dalam surat bernomor: Distan 524.3/217/VII/2020 yang ditujukan kepada Kapolres Sikka, Dandim 1603 Sikka, Kepala Badan/Dinas/Kantor Lingkup Pemerintah Kabupaten Sikka; para camat, lurah, dan kepala desa se-Kabupaten Sikka; pimpinan Lembaga Swasta/Koperasi; pengusaha ternak, peternak, dan seluruh masyarakat Kabupaten Sikka ini, yang diterima Media ini, baru-baru ini, Bupati Sikka menggarisbawahi 5 langkah Pencegahan dan Pengendalian Penyebaran Penyakit ASF.

Pertama, untuk sementara waktu dilarang membawa, memindahkan dan mengedarkan ternak babi/daging babi/produk olahan babi baik antardesa maupun antarkecamatan. Untuk hal-hal yang bersifat mendesak seperti adanya kebutuhan babi untuk acara kedukaan harus dengan seizin Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

Kedua, menutup sementara semua pasar ternak babi. Ketiga, setiap orang atau peternak babi wajib membersihkan kandang, peralatan pakan, dan peralatan kerja yang berhubungan dengan ternak babi dengan cara dicuci menggunakan deterjen; melakukan pemotongan/penyembelihan babi harus dalam pengawasan petugas; melaporkan adanya kematian babi kepada petugas untuk dikubur atau dimusnahkan dalam pengawasan petugas; dan melaporkan kepada petugas jika mengetahui adanya pemotongan ternak babi.

Keempat, aparat keamanan, Polisi Pamong Praja, para camat/kepala desa/lurah dan aparat Pemerintah Desa/Kelurahan agar membantu melaksanakan pengawasan perpindahan babi, peredaran daging babi, pengawasan pemotongan dan pemusnahan bangkai di wilayahnya masing-masing.

Kelima, setiap laporan dan informasi dapat disampaikan kepada Distan Sikka atau dapat menghubungi Keswan call center pada nomor handphone: 081238180160, 085238990551, dan 081238848666.

Tembusan Surat Edaran Bupati Sikka ini ditujukan kepada Ketua DPRD Kabupaten Sikka di Maumere, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang; dan Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang.