Home Cerpen Bendera yang Tak Lagi Berkibar

Bendera yang Tak Lagi Berkibar

1,738
1
SHARE
Bendera yang Tak Lagi Berkibar

Keterangan Gambar : Ilustrasi cerpen oleh Qikan, KAHE Maumere, Flores.

Cerpen Berrye Tukan

Tiang bendera dari bambu yang dicat putih di depan rumah sudah terpancang kuat. Talinya pun sudah diganti dengan tali nilon berwarna putih. Tiang bendera yang baru ini nampak lebih tinggi, melewati pohon mangga di depan rumah.

Masalahnya tinggal satu; bendera. Ya, bendera merah putih yang kami miliki telah lusuh dan kusam. Pada tepinya, sudah nampak benang yang terlepas dan terurai. Warna putihnya pun semakin tua, lebih mirip warna abu-abu karena sudah bertahun-tahun dipakai. Ukurannya sangat besar, hampir mirip dengan bendera yang dikibarkan di istana negara.

Aku dan istri sudah membeli sebuah bendera baru dari toko. Warnanya tentu lebih terang. Namun kami tak belum berani memasangnya lantaran ayah sepertinya belum mau. Bendera lama itu memiliki cerita nostalgia tersendiri untuk ayah. Bendera itu adalah hasil jahitan pertama mendiang istri terkasih, ibu saya.

Waktu pertama kali belajar menjahit, bendera itulah yang menjadi karya pertamanya. Bendera ini pernah dipakai oleh pihak kantor desa ketika pertama kali menggelar apel tujuh belasan di kampung kami. Waktu itu, bendera masih sangat mahal. Ditambah lagi transportasi ke kota memakan waktu lama dan sulit membuat ayah akhirnya meminjamkan bendera itu pada pihak pemerintah desa.

“Bapak sangat bangga waktu itu, Nak. Almarhuma ibumu yang menjahitnya dengan mesin jahit pertama yang ada di kampung. Waktu itu, tak ada yang berani memegang bendera itu, selain pengibarnya. Sebelum dikibarkan besoknya, warga menjaga bendera itu di kantor desa karena takut dicuri,” cerita ayah waktu itu.

Sepanjang bendera itu dikibarkan di depan kantor desa, warga kampung yang lewat di depannya selalu berhenti dan memberi hormat. Karena ukurannya yang besar, setiap kali diterpa angin, bendera itu selalu mengeluarkan bunyi kepakan yang terdengar begitu kuat dan hebat. Mungkin itulah yang membuat bendera itu seolah memiliki wibawa tersendiri dan dihormati warga kampung.

“Usai upacara apel, bendera itu dimasukkan ke dalam sebuah peti kayu dan diarak keliling kampung layaknya barang suci dan berharga sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan,” lanjutnya.

Ayah memang sangat mencintai ibu dengan segala kenangan yang ditinggalkannya, termasuk bendera itu. Dari bendera itulah, ibu mulai belajar menjahit dan kemudian menjadi penjahit pertama di kampung kami. Semua orang datang menjahitkan bajunya di rumah kami.

Waktu itu, ibu belum punya mesin obras, meski sudah memiliki mesin jahit sendiri. Mesin obras hanya ada di Mak Inna di kampung sebelah, sehingga setiap kali ada jahitan, kami selalu berebutan membawa baju setengah jadi itu ke Mak Inna untuk disempurnakan dengan mesin obras. Tentunya dengan imbalan uang jajan untuk membeli es manis.

“Jahitan ibumu rapi dan selalu tepat waktu habisnya, sehingga banyak warga yang datang menjahitkan bajunya di sini,” kenang ayah.

Kemampuan dan keahlian ibu menjahit sangat membantu perekonomian keluarga kami waktu itu. Gaji ayah sebagai guru sekolah dasar di kampung memang cukup, namun ayah juga harus membiayai beberapa adiknya yang masih sekolah waktu itu. Praktis urusan dapur terganggu. Dan ibu dengan mesin jahit serta kemampuannya itu sangat membantu keuangan keluarga kami.

Sejak kantor desa membeli benderanya sendiri, bendera itu pun dikembalikan pada kami. Setiap tahunnya, bendera itu berkibar di depan rumah kami hingga tahun ini. Bendera ini memang tak layak lagi dipajang di depan rumah, karena warnanya yang kusam dan juga kainnya yang mudah koyak. Aku khawatir bendera ini akan terlepas dari talinya karena kainnya robek diterpa angin.

“Ayah, bendera ini kita simpan saja sebagai kenangan. Saya takut nanti benderanya robek,” kataku suatu hari pada ayah.

“Nak, bendera itu tidak akan koyak dan robek. Ayah tidak mau kalian menggantinya dengan bendera yang baru. Itu peninggalan ibumu, dan setiap kali tujuh belasan, ayah selalu senang karena bisa melihat bendera hasil jahitan ibumu itu berkibar di depan rumah kita, seolah-olah ibumu ada di sini, melambai-lambaikan tangannya pada kita,” jawab ayah bernada sedih.

“Tapi kalau kita memaksa untuk tetap mengibarkan bendera itu dan ternyata akhirnya robek juga, maka akan sangat menyesalnya kita nanti.”

“Semua yang baru, tak bisa menggantikan yang lama,” sergahnya pelan sambil melangkah masuk ke kamarnya.

Finda, istriku, masuk dari pintu depan dan berhenti di sampingku.

“Pah, bagaimana? Kita ganti atau?” Tanyanya.

“Entahlah. Kita harus segera memutuskan karena akan ditegur ketua RT kalau sampai besok kita belum jua memasang bendera.”

Pagi itu, ayah belum bangun. Mungkin ayah lelah dan masih ngantuk karena semalam asyik menonton film perjuangan di televisi hingga larut. Di depan jalan, anak-anak sekolah sudah mendahului kami ke tempat upacara apel bendera tujuh belasan di kampung. Warga lainnya pun sudah beranjak ke sana.

Finda keluar dari kamar dengan membawa sebuah bendera baru. Ukurannya memang lebih kecil dari bendera kami yang lama, namun warnanya lebih terang. Bendera baru pun lebih ringan di tangan ketimbang bendera lama yang terasa lebih berat, mungkin karena jenis kainnya yang berbeda. Bendera yang lama kainnya lebih tebal dan keras, sementara bendera yang baru berkain tipis dan ringan, harganya pun murah.

“Ayo pasang benderanya, Nda. Keburu ditegur hansip dan ketua RT,” perintahku.

“Iya, Pah. Mumpung ayah lagi tidur.”

“Matanya sudah cukup kabur, dan saya yakin ayah tidak bisa membedakan bendera yang lama dan baru.”

Krreek kreeek! Bendera baru sudah ditarik Finda menuju pucuk tiang.

“Ayah tidak ikut apel bendera, Pah?”

“Ayah tak lagi kuat untuk berdiri lama. Tahun lalu juga dia hanya sebentar saja berdirinya.”

“Oh ya, Pah. Bendera yang lama disimpan di mana?”

“Di lemari di ruang tengah. Kenapa emangnya?”

“Saya khawatir ayah melihat bendera lama di sana. Ayah pasti marah karena kita sudah menggantinya dengan bendera baru.”

“Sudah kubilang, ayah pasti mengira ini adalah bendera baru. Jangankan bendera, wajah cucunya saja dia sudah tidak hafal kok!”

“Ha-ha-ha… Semoga saja begitu.”

Hingga aku dan istriku berangkat ke tempat apel bendera, ayah belum juga bangun. Aku ingin mengajaknya ke tempat upacara apel bendera, namun aku tak rela menganggu tidur nyenyak ayah.

Ketika pulang, suasana rumah masih sama. Dari jauh, bendera baru itu tampak berkibar penuh semangat. Finda menatapku.

“Bendera baru kita bagus dan keren ‘kan, Pah?” Ia tersenyum.

“Ya, begitulah,” balasku pendek.

Di dalam rumah, semua masih seperti ketika ditinggalkan. Hanya satu yang berubah, bendera lama itu tak ada lagi di lemari di ruang tengah. Aku menuju kamar ayah. Kupanggil namanya beberapa kali, namun ayah tak juga menjawab. Kuberanikan diri membuka pintunya.

Di sana, ayah sudah tertidur pulas. Napasnya sudah berhenti, namun senyum kecil terpancar di bibirnya. Tangannya terkatup erat di atas bendera merah putih lama yang membungkus tubuhnya, bendera merah putih yang selalu mengingatkannya pada istri tercinta.

Sejak saat itu, bendera lama itu tidak berkibar lagi.

Waibalun, 24/8/2019


Berrye Tukan, lahir di Waibalun, 22 Januari 1982. Kini, menetap di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, NTT.

 

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas.