Home Internasional Doktor Otto Gusti Berikan Kuliah Umum di The University of Melbourne, Australia

Doktor Otto Gusti Berikan Kuliah Umum di The University of Melbourne, Australia

4,505
0
SHARE
Doktor Otto Gusti Berikan Kuliah Umum di The University of Melbourne, Australia

Keterangan Gambar : Doktor Otto Gusti, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Pulau Flores, berpose bersama Doktor Edwin Jurriens, Ketua Program Kajian Indonesia, The University of Melbourne, Australia, usai kuliah umum di Gedung Old Arts, The University of Melbourne, Australia, pada Kamis (28/11).

 

Melbourne, Flores Pos — Bertempat di sebuah ruang Gedung Old Arts, The University of Melbourne, Australia, pada Kamis (28/11), Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Pulau Flores, Doktor Otto Gusti memberikan kuliah umum dalam Bahasa Inggris berjudul Populism and Democracy in Indonesia (Populisme dan Demokrasi di Indonesia).

Kuliah tersebut terbuka untuk umum, dihadiri berbagai kalangan. Ada akademisi, mahasiswa-mahasiswi, guru, aktivis, dan rohaniwan. Bahkan ada mahasiswa pascasarjana dari Adelaide, Ibukota Negara Bagian South Australia, ikut hadir.

Baca juga: Mengapa Populisme Cenderung Melayani Oligarki?

“I am one of Otto Gusti’s fans. I always follow his online discussions in Facebook. I am very interested in his thoughts on various issues. I want to learn more from him.” (Saya seorang penggemar Otto Gusti. Saya selalu ikuti diskusi-diskusi dunia maya di Facebook. Saya tertarik sekali pada pikiran-pikirannya tentang beragam isu. Saya mau belajar lebih banyak lagi darinya).

Demikian tutur seorang peserta pada akhir sesi kuliah menjelaskan alasan mengapa dia tak enggan melangkah jauh ke Melbourne.

Ia menambahkan, “I’ve come to learn. And learning knows no distance, far or near.” (Saya datang untuk belajar. Dan belajar tak kenal jarak, jauh atau dekat).

Mengawali pertanyaannya dalam sesi tanya jawab (Q&A), seorang mahasiswi PhD dari Monash University menambahkan, “I don’t know much about the topic of populism. And that’s the reason why I am here. I want to know about it particularly concerning its local relevance.” (Saya tak tahu banyak tentang topik populisme. Dan itulah alasan mengapa saya di sini. Saya ingin tahu tentang itu khususnya mengenai relevansi lokalnya).

Diskusi yang dipandu Dr. Justin L Wejak, Dosen Kajian Indonesia di The University of Melbourne, diawali dengan perkenalan singkat dan interaktif oleh para hadirin dan pemateri. Perkenalan awal yang baik penting untuk mendorong partisipasi aktif para peserta. Ini terlihat dari kekusukan mengikuti pemaparan topik dan pertanyaan-pertanyaan para hadirin.

Waktu Q&A memang terasa singkat. Banyak pertanyaan lain terpaksa batal diajukan lantaran batas waktu yang tak boleh dilampaui. Kuliah Otto Gusti mampu merangsang gairah dan minat untuk mencari tahu lebih jauh tentang aspek-aspek penting terkait populisme.

Konteks Teoretis dan Empiris

Ketua Program Kajian Indonesia, Dr. Edwin Jurriens, mengapresiasi kuliah itu. Menurutnya, Otto Gusti mampu menjelaskan konteks teoretis dan empiris dari topik populisme dengan sangat baik.

Edwin bahkan sempat bertanya tentang esensi populisme kanan dan kiri dalam kaitan dengan civil society atau masyarakat madani dalam konteks kasus tertentu di Indonesia.

Tentu banyak kasus mutakhir yang bisa dijadikan case study, misalnya dalam kasus penunjukan Ma’ruf Amin oleh Jokowi menjadi “pasutri” dalam Pilpres.

Kuliah itu terstruktur logis dalam empat bagian. Diawali dengan sedikit penjelasan tentang reaksi khalayak terhadap penunjukan Ma’ruf Amin oleh Jokowi sebagai cawapresnya pra-Pilpres April 2019, khususnya reaksi dari NTT.

Kemudian Otto Gusti menjelaskan pengertian populisme, disusul dengan analisis tentang populisme kiri sebagai jawaban radikal terhadap krisis demokrasi. Pada bagian akhir, Otto Gusti menjelaskan hubungan dialektis antara konsep populisme kiri dan konteks demokratisasi Indonesia.

Kuliah Otto Gusti didasarkan pada topik penelitiannya tentang populisme dan demokrasi. Topik itu didalaminya selama dua bulan di Asia Institute, The University of Melbourne, 1 Oktober hingga 1 Desember 2019.

Universitas Melbourne didirikan pada tahun 1853. Sejak berdirinya lembaga itu telah memberikan banyak kontribusi khas kepada masyarakat dalam bidang penelitian, pembelajaran, dan perkuliahan, serta pengabdian masyarakat.

Ia konsisten mendapatkan rangking 1 sebagai universitas terbaik di Australia, dan berada di nomor urut ke-32 di dunia (Times Higher Education World University Rankings 2017-2018).

Mewakili lembaga, Dr. Edwin Jurriens mengucapkan terima kasih kepada Otto Gusti atas masa penelitian dua bulan di Universitas Melbourne.

Dosen Produktif

Sementara itu, Dr. Justin L Wejak menambahkan, “Otto Gusti has been a diligent and productive scholar during his time with us. He delivered two public lectures, facilitated a Q&A workshop, participated in several discussions with students and staff, attended an international conference, and completed a draft paper on his research topic for publication in a referee journal. All these demonstrated Otto’s diligence and discipline.”

(Selama dengan kami, Otto Gusti rajin dan produktif. Ia berikan dua kuliah umum, memfasilitasi satu lokakarya tanya jawab, berpartisipasi dalam diskusi-diskusi dengan mahasiswa dan staf, menghadiri satu konferensi internasional, dan menyelesaikan satu tulisan tentang topik penelitiannya untuk dipublikasikan dalam jurnal akademis berbahasa Inggris. Semua ini memperlihatkan kerajinan dan disiplin Otto).

Dua bulan kunjungan Otto Gusti di Melbourne, justru membuka pintu untuk kemungkinan kolaborasi yang lebih banyak ke depannya. Banyak hal bisa dilakukan bersama antara dua lembaga termasuk di antaranya dalam bidang penelitian (research), pembelajaran (learning) dan perkuliahan (teaching). Otto Gusti, congratuliations and hope to see you again in the near future.

Penulis: Justin L. Wejak
Editor: Avent Saur