Home Sikka Fasilitas Minim, 50 Persen Siswa PLK Wairbukan di Sikka Terpaksa Putus Sekolah

Fasilitas Minim, 50 Persen Siswa PLK Wairbukan di Sikka Terpaksa Putus Sekolah

Penulis: Wall Abulat / Editor: Anton Harus

163
0
SHARE
Fasilitas Minim, 50 Persen Siswa PLK Wairbukan di Sikka Terpaksa Putus Sekolah

Keterangan Gambar : Ketua Komite PLK Wairbukan Kasianus Sieng (kiri) dan Ketua RT 017 A Wairbukan Bernadus Brebo (kanan) berpose di halaman PLK Wairbukan pada Sabtu (27/6/2020).


Maumere, Flores Pos Pemangku Adat Wairbukan yang juga Ketua RT 017 A Wairbukan, Dusun Wodong, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Bernadus Brebo, mengemukakan, sekitar 50 persen siswa-siswi yang mengikuti Pendidikan Layanan Khusus (PLK) setingkat SD di Wairbukan dalam lima tahun terakhir putus sekolah.

Siswa-siswi tidak melanjutkan pendidikan karena minimnya fasilitas, juga masalah tenaga guru yang jarang masuk sekolah.

“Sekitar 50 persen siswa-siswi yang mengikuti pendidikan di PLK Wairbukan dalam lima tahun terakhir tidak mau melanjutkan pendidikan alias putus sekolah,” kata Brebo kepada wartawan di Waribukan pada Sabtu (27/6/2020).

Baca juga: Komunitas Jalan Kaki Sikka Gelar Aksi Sosial dan Edukasi Covid-19 di Kampung Wairbukan

Bernadus mengakui, kondisi ruang sekolah yang sangat semrawut dan tidak memiliki fasilitas KBM menyebabkan anak-anak dan orangtua apatis untuk meneruskan pendidikan anak-anaknya di PLK Wairbukan.

“Anak-anak juga malas ke sekolah karena 7 guru tinggal di Wodong, sekitar 2 kilometer dari Wairbukan. Guru sering tidak masuk sekolah karena akses jalan ke Wairbukan hanya berupa jalan setapak dengan totografi yang berisiko, tanjakan dengan kemiringan sekitar 50 hingga 60 derajat."

"Saat pulang kita harus melewati tebing terjal. Kondisi jalan ini sangat berisko bagi guru. Ini yang menyebabkan mereka jarang masuk sekolah,” katanya.

Bernadus juga mengatakan, karena guru jarang masuk sekolah, maka siapa pun bisa menebak hasil pendidikan anak-anak di PLK. Sebagian besar kesulitan untuk membaca dan menulis. Keterampilan kreatif juga sangat minim.

“Meskipun anak-anak tidak bisa membaca dan menulis atau keterampilan lainnya, anak-anak tetap naik kelas. Ini yang membuat orangtua kesal. Tak heran sekitar 50 persen anak-anak di sini tidak melanjutkan pendidikan atau putus sekolah,” kata Bernadus.

Bernadus juga membagikan pengalamannya terkait anaknya yang bungsu bernama Agnes Andia yang duduk di kelas IV.

"Tiba-tiba anak saya dinyatakan naik ke kelas V, sementara jam KBM hanya sedikit. Anak ini juga belum terampil dalam pelbagai bidang studi."

Melihat situasi ini, maka dirinya memindahkan anaknya ke SDK Watubala, berjarak sekitar 3 kilometer dari Wairbukan agar anaknya bisa mengikuti KBM dengan baik.

Baca juga: Empat Ibu Hamil asal Wairbukan di Sikka Melahirkan di Tebing Bebatuan

"Sekolah ada tatap muka dengan guru, banyak ilmu yang ia terima. Puji Tuhan, anak saya ini sudah lulus SD baru-baru ini, dan siap lanjutkan pendidikan di SMP,” katanya.

Butuhkan Dukungan

Ketua Komite PLK Wairbukan, Kasianus Sieng, kepada wartawan di lokasi sekolah di Wairbukan pada Sabtu (27/6/2020), menjelaskan bahwa lembaga pendidikan setingkat SD tersebut dibuka 11 tahun silam. Gedung sekolah perdana dibuka di RT 017 A dan gedung sekolah kedua di RT 017 B.

“Gedung sekolah ini selama 7 tahun dibuka di RT 017 A, dan dalam 4 tahun terakhir dibuka di RT 017 B. Gedung sekolah yang baru di RT 017 B dibangun di atas tanah saya. Saya relakan pohon mete ditebang untuk kepentingan pembangunan PLK,” kata Kasianus.

Kasianus mengakui bahwa gedung sekolah yang kondisinya sangat darurat saat ini dibangun oleh yayasan. “Kondisi gedung sangat darurat dan tidak layak. Gedung sekolah ini seperti kandang binatang saja,” kata Kasianus.

Kasianus juga menambahkan bahwa kondisi gedung yang tidak bagus plus fakta sebagian besar guru jarang masuk sekolah, serta belum adanya dukungan dari orangtua, maka sekitar 50-an persen anak-anak di PLK Wairbukan tidak melanjutkan pendidikan.

“Anak-anak putus sekolah, sekitar 50 persen lebih. Anak-anak tidak lanjutkan pendidikan setelah mereka sambut baru di kelas V,” katanya.

Kasianus meminta dukungan orangtua untuk terus memotivasi anak-anak agar menamatkan pendidikan setingkat SD dan mendukung anak-anak agar mereka melanjutkan pendidikan hingga SMP dan SLTA.

160 Siswa

Informasi yang diterima media ini menyebutkan bahwa jumlah siswa di PLK Wairbukan yang sedang mengenyam pendidikan di sana sebanyak 60 orang.

Media ini telah berupaya mengonfirmasi pihak sekolah/guru dan yayasan terkait sekolah ini. Namun informasi yang diterima media ini di Wairbukan akhir pekan lalu menyebutkan bahwa para guru dan pihak yayasan sudah tidak pernah ke Wairbukan lagi dalam beberapa bulan terakhir.*