Home Bentara Bukan Sekadar Sebungkus Nasi dan Segelas Air

Bukan Sekadar Sebungkus Nasi dan Segelas Air

1,157
0
SHARE
Bukan Sekadar Sebungkus Nasi dan Segelas Air

Keterangan Gambar : Artis Ananda Omesh mendengar shering pengalaman Ansel Wara, korban pasung, dalam dialog tentang masalah gangguan jiwa di Ende, Selasa (1/10).

Dialog sosial kemanusiaan antara para kru KKI dengan para artis itu kurang lebih memiliki dasarnya pada kekosongan akan rasa tersebut. Bukan sekadar sebungkus dan segelar air yang mereka berikan, melainkan sebuah daya ubah bagi sesama.

“Ternyata orang yang memberi, jumlahnya lebih banyak daripada orang yang mengambil. Ternyata orang baik lebih banyak daripada koruptor.”

Sentilan ini diutarakan dalam dialog antara sukarelawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) dengan belasan artis di Ende pada 1 Oktober 2019.

Baca berita terkait: Belasan Artis Berdialog dengan Pater Avent Saur tentang Masalah Gangguan Jiwa di Ende

Mendengar sentilan ini, para peserta dialog spontan tertawa, antara prihatin atau bangga. Bahwa sesungguhnya benar, ada banyak orang baik di antara kita, dan jumlahnya justru lebih banyak daripada para koruptor. Bahwa orang yang dari kepunyaannya, diambil untuk memenuhi kebutuhan sesama yang berkekurangan, jumlahnya lebih banyak.

Sebaliknya, orang yang dari bukan kepunyaannya, diambil untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, jumlahnya sedikit.

Sentilan ini bukan terutama untuk membuat perbandingan tentang orang karitatif dan orang korup. Bukan!

Sebetulnya, ini sekadar mengingatkan bahwa di antara peserta dialog itu harus saling mendukung satu sama lain dalam melakukan aksi kepedulian nyata terhadap sesama manusia yang berkekurangan, atau sesama manusia yang hidupnya dililiti derita, apalagi gangguan jiwa yang tentu problemnya cukup kompleks.

Baca berita terkait: Untuk Belasan Artis, Pater Avent Berikan Buku Belum Kalah

Dalam dialog tersebut, belasan artis itu mengakui bahwa mereka memiliki sesuatu. Mereka juga menginformasikan bahwa ada banyak yang kurang lebih sama seperti mereka, memiliki sesuatu. Tetapi bagaimana membagikan kepunyaan mereka kepada sesama, dan siapakah sesama yang kepadanya patut diberikan sesuatu, mereka ingin mencari tahu.

Karena itu, melalui sukarelawan KKI, dan dengan demikian, melalui wadah sosial kemanusiaan yang bernama KKI, mereka mengetahui cara membagikan secuil kepunyaan mereka, dan mereka juga mengenal siapa yang layak menerima pemberian kepunyaan itu.

Ini bukan perihal kegiatan biasa, kebiasaan memberi sehari-sehari, seperti yang dikenal masyarakat pada umumnya. Bukan seperti ketika ada seorang yang haus, kepadanya diberikan segelas air supaya lekas lega. Bukan seperti ketika ada seorang yang lapar, kepadanya dikasih sebungkus nasi supaya lekas kenyang.

Pemberian mereka terbilang luar biasa. Bukan hanya memberi segelas air yang bisa habis beberapa detik kemudian dan yang beberapa menit atau beberapa jam kemudian akan haus lagi, melainkan juga terutama memberi segelas air sekaligus memberi sebuah daya agar seseorang mampu mencari sendiri air untuk hidupnya, bahkan agar seseorang mampu menjadi sumber air bagi orang-orang lain yang mencari air.

Pemberian mereka tergolong luar biasa. Bukan hanya memberi sebungkus nasi yang tentu akan habis dalam beberapa menit kemudian dan yang beberapa jam kemudian akan lapar lagi, melainkan juga terutama memberi sebungkus nasi sekaligus memberi sebuah kekuatan agar seseorang bisa mencari sendiri makanan untuk kelangsungan hidupnya, bahkan agar seseorang bisa menjadi tempat di mana orang-orang lain mendapatkan makanan.

Kenapa ini bisa terjadi? Hanya orang yang memiliki rasa kosong di dalam dirinya mampu mengisi kekosongan itu dengan cara memberi diri kepada sesamanya dan memberdayakan sesamanya.

Rasa kosong itu apa? Rasa itu adalah sebuah rasa solidaritas yang sebenarnya merupakan sikap hakiki yang terberi dan melekat dalam kemanusiaan seorang manusia.

Mereka mungkin memiliki segalanya untuk kebutuhan ekonomi dan relasi mereka, tetapi mereka merasa tidak memiliki sebuah “cinta berbagi” yang artinya sama dengan solidaritas itu. Di antara semua kepunyaan mereka, mereka merasa perlu melekatkan cinta solidaritas pada semuanya itu.

Dialog sosial kemanusiaan antara para kru KKI dengan para artis itu kurang lebih memiliki dasarnya pada kekosongan akan rasa tersebut. Bukan sekadar sebungkus dan segelar air yang mereka berikan, melainkan sebuah daya ubah bagi sesama.

Oleh Avent Saur