Home Sikka Warga Magepanda Konsumsi Ubi Hutan, Direktur WTM Serahkan Bantuan untuk 27 KK

Warga Magepanda Konsumsi Ubi Hutan, Direktur WTM Serahkan Bantuan untuk 27 KK

Penulis: Wall Abulat / Editor: Elton Wada

179
0
SHARE
Warga Magepanda Konsumsi Ubi Hutan, Direktur WTM Serahkan Bantuan untuk 27 KK

Keterangan Gambar : Direktur WTM Sikka Carolus Winfridus Keupung menyerahkan bantuan kepada Mama Lusia Sela di Desa Done, Kamis (10/9/2020).


Maumere, Flores Pos — Direktus Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka Carolus Winfridus Keupung atau yang biasa disapa Win Keupung menyerahkan bantuan beras kepada 27 kepala keluarga (KK) yang mengonsumsi ubi hutan atau ondo di Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kamis (10/9/2020).

Win yang dihubungi Flores Pos, Jumat (11/9/2020) mengemukakan bahwa bantuan yang diberikan merupakan intervensi awal yang dilakukan WTM sebagai bentuk kepedulian terhadap 27 KK yang dalam dua bulan terakhir mengonsumi ubi hutan pasca kegagalan panen di wilayah itu.

“Bantuan yang kami berikan ini merupakan bentuk kepedulian WTM untuk penguatan kapasitas masyatakat setempat yang terkena dampak perubahan iklim di wilayah itu dan gagal panen,” kata Win.

Win berjanji bahwa lembaga yang dipimpinnya siap mendukung pengembangan ekonomi warga yang terkena dampak perubahan iklim dan gagal panen di wilayah itu melalui upaya pengembangan ternak ayam.

”Untuk tahap pertama, WTM serahkan bantuan beras. WTM juga akan mendukung pengembangan ternak ayam bagi 27 warga yang terkena dampak perubahan iklim ini dengan usaha ternak dalam waktu dekat,” kata Win.

Terima Kasih

Penerima bantuan di antaranya Mama Lusia Sela menyampaikan terima kasih kepada Direktur WTM dan jajarannya yang telah menunjukkan kepedulian dengan memberikan bantuan beras dan yang sedang mengupayakan ternak ayam bagi warga yang mengalami dampak gagal panen di Desa Reroroja.

“Saya menyampaikan terima kasih atas bantuan dan atas perhatian WTM terhadap kami,” kata Mama Lusia Sela.

27 KK Mengonsumsi Ubi Hutan

Sebelumnya, Win mengemukakan bahwa dari penelitian yang dilakukan lembaganya di Desa Done belum lama ini ditemukan adanya fakta bahwa ada 27 KK di Desa itu terpaksa mengonsumsi ubi hutan atau yang dalam bahasa setempat disebut ondo akibat gagal panen dan anomali iklim.

“Dari penelitian yang kami lakukan ditemukan adanya fakta di mana ada 27 KK di Desa Done, Kecamatan Magapenda sudah mulai mengonsumsi ubi hutan dalam dua bulan terakhir,” kata Win yang dihubungi Flores Pos, Rabu (9/9/2020).

Win menjelaskan bahwa 27 KK yang kehabisan pangan dan terpaksa harus mengkonsumsi ondo atau ubi hutan menetap di dua dusun dengan rincian 25 KK berada di dusun Ladubewa, dan 2 KK di dusun Watuwa.

Baca juga: Anomali Iklim, 27 KK di Magepanda Mengonsumsi Ubi Hutan

“27 KK tersebut pada umumnya adalah petani lahan kering dengan jenis tanaman yang dikembangkan adalah padi dan jagung. Sayangnya sudah hampir 2 tahun ini dengan perubahan cuaca yang tidak menentu, para petani mengalami gagal panen. Akibatnya di tahun ini para petani tersebut kehabisan ketersediaan pangan,” kata Win dengan pernyataan yang sama diposting dalam website WTM Sikka.

Penelitian Dampak Perubahan Iklim

Sementara dalam laman website resmi WTM, diterangkan bahwa perubahan iklim merupakan fenomena anomali iklim yang berdampak besar terutama terhadap sektor pertanian. Dalam pengembangan pertanian, iklim memang menjadi faktor pendukung utama dan penentu keberhasilan usaha pertanian.

Perubahan iklim ditandai dengan perubahan temperatur udara yang memengaruhi kondisi musim hujan dan kemarau yang berakibat pada perubahan pola musim tanam. Demikian anomali iklim menimbulkan kejadian ekstrem seperti ketidaktentuan musim, kekeringan, dan serangan hama penyakit yang merugikan sektor pertanian.

Dampak kekeringan panjang pun makin terasa oleh masyarakat saat ini baik kebutuhan akan air bersih maupun gagal panen. Di desa Done, Kecamatan Magepanda, Sikka, NTT, terdapat 27 KK yang kehabisan pangan dan terpaksa harus mengkonsumsi ondo atau ubi hutan yang beracun. Dari 27 KK tersebut, 25 KK berada di dusun Ladubewa dan 2 KK lainnya di dusun Watuwa.

27 KK tersebut pada umumnya adalah petani lahan kering dengan jenis tanaman yang dikembangkan adalah padi dan jagung. Sayangnya, sudah hampir 2 tahun ini dengan perubahan cuaca yang tidak menentu, para petani mengalami gagal panen. Akibatnya di tahun ini para petani tersebut kehabisan ketersediaan pangan.

“Kondisi yang terjadi di tengah pandemi covid-19 ini dijumpai, saat Wahana Tani Mandiri (WTM) melakukan kegiatan penelitian dalam kerjasamanya dengan Inobu. Kegiatan penelitian yang dilakukan yaitu penelitian ‘Dampak dan Adaptasi Perubahan Iklim’ serta penelitian ‘Perlindungan Sumber Daya Air’. Kegiatan ini dilakukan di beberapa desa dan kelurahan di Kabupaten Sikka dengan narasumber di antaranya kelompok tani dan petani,” kata Win.

Untuk diketahui, Ondo atau ubi hutan (Dioscorea hispida) termasuk suku gadung-gadungan atau Dioscoreaceae. Bentuknya bulat lonjong, mirip sirsak berwarna coklat muda, dengan bintik-bintik pada umbi. Untuk bisa mengkonsumsi ondo, butuh keahlian untuk mengolahnya secara baik.

Hal ini karena ubi ondo mengandung racun yang bisa membuat orang yang mengkonsumsinya sakit atau bahkan sampai meninggal dunia. Sejumlah penelitian menyebutkan, getah ubi ini mengandung zat toksik yang dapat terhidrolisis hingga terbentuk asam sianida (HCN).

Efek HCN yang dirasakan kala memakan ubi hutan tanpa pengolahan baik, yakni tidak nyaman di tenggorokan, pusing, muntah, mengantuk dan kelelahan. Ondo harus diolah dengan baik agar bisa dikonsumsi dengan aman dan tidak menimbulkan masalah bagi tubuh.