Home Opini Jalan Pulang

Jalan Pulang

Oleh Steph Tupeng Witin  / Perintis Oring Literasi Soverdi Bukit Waikomo, Lembata

1,389
0
SHARE
Jalan Pulang

Keterangan Gambar : Steph Tupeng Witin

Informasi melalui media jurnalistik mencerdaskan sehingga kita memiliki amunisi rasional untuk memenangkan peperangan melawan pandemi covid-19.


LOS ANGELES TIMES edisi Kamis, 9 April 2020 menurunkan berita “No Easy Return to Normality.” Covid-19 telah memorak-porandakan hidup manusia yang normal. Pandemi ini telah menjadi “kekuatan baru” yang mengubah alur hidup manusia. Ia meneror hidup manusia dengan ancaman kematian setiap saat melalui proses penyebaran yang masif, tanpa diskriminasi.

Eksistensi manusia sebagai makhluk sosial yang terungkap dalam hidup bersama orang lain terputus. Justru “ada bersama” orang lain saat ini menjadi mudarat karena memperluas jejaring penyebaran virus. Kita harus menjaga jarak (physical distancing) dan pembatasan sosial (social distancing).

Baca juga: New Normal Life

Dua jalan rasional ini menjadi ikhtiar kemanusiaan untuk kembali ke situasi normal. Memang tidak mudah, tetapi selalu tersedia peluang di hadapan kenyataan hidup yang seolah tanpa harapan.

Menurut Yuval Noah Harari, benteng pertahanan terbaik manusia terhadap patogen dan pandemi global adalah informasi. Kemanusiaan telah memenangkan perang melawan patogen dan pademi karena dalam perlombaan senjata antara patogen dengan dokter, patogen bergantung pada proses mutasi-mutasi membuta, sementara dokter mengandalkan analisis informasi ilmiah (Time, 15/3/2020).

Inilah kekuatan bagi kita untuk meretas “jalan pulang” ke situasi hidup normal walau tidak persis semula. Informasi melalui media jurnalistik mencerdaskan sehingga kita memiliki amunisi rasional untuk memenangkan peperangan melawan pandemi covid-19. Informasi yang benar akan mendisiplinkan kita membatasi ruang penyebaran virus, menghentikan laju angka korban sekaligus menolong para dokter dan perawat yang bertaruh nyawa ketika berhadapan dengan pasien.

“Jalan pulang” ke hidup normal ini kita rajut dengan basis informasi benar yang makin memperkaya pengetahuan kita dalam berperilaku di ruang-ruang publik. Informasi yang memadai akan memandu kita menjaga garis demarkasi dengan ketat antara dunia manusia dengan dunia virus.

Ingat Pandemi Flu Spanyol 1918

Media berperan penting mencerdaskan publik melalui informasi terverifiksi agar “menjaga jarak” rasional-kritis dengan pandemi sebagai jalan pulang ke hidup normal.

Peran media ini penting dikemukakan karena sejarah mencatat eksistensi media yang kelam saat dunia dilanda pandemi flu Spanyol 1918. Wabah ini menelan nyawa jutaan penduduk dunia.

Salah satu alasan wabah ini meluas adalah negara-negara yang ikut berperang dalam Perang Dunia I melakukan sensor terhadap segala pemberitaan yang dianggap dapat meruntuhkan moral prajurit dan rakyat. Banyak warga tidak mengetahui keberadaan wabah ini dan pencegahan. Bahkan, tentara-tentara Amerika yang tertular oleh teman-teman mereka yang sakit tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi.

Baca juga: Noda Merah di Zona Hijau (Kekerasan Pol PP terhadap Pedagang Lembata)

Spanyol menjadi negara pertama yang memublikasikan wabah ini melalui pers tanpa sensor negara (Priyanto Wibowo dkk. Yang Terlupakan Pandemi Influensa 1918 di Hindia Belanda, Departemen Sejarah FIB UI-Unicef Jakarta-Komnas FBPI, 2009: 53).

Peran Media pada Pandemi

Di tengah sebaran wabah covid-19 yang makin merajalela ini, media memiliki peran signifikan untuk mengadvokasi pemerintah, DPR, dan civil society sebagai salah satu jalan pulang ke hidup normal.

Peran media mainstream ini sangat urgen berhadapan dengan media sosial (medsos) yang membandang dengan sebaran informasi tanpa verifikasi jurnalistik sehingga mudah menebar hoaks dan membingungkan nalar publik.

Pertama, media mengingatkan pemerintah agar menyampaikan informasi dengan terbuka, jujur, dan benar. Pers mesti berani mengkritik para “petualang politik” yang kadang memanfaatkan momen tragis penderitaan rakyat untuk pencitraan pragmatis sebagai tameng dukungan momental.

Situasi ini menuntut pemerintah mengambil kebijakan secara tegas, tepat, dan strategis dengan memperhitungkan segala kemungkinan yang bisa menjadi bumerang bagi masa depan bangsa. Pers mesti memberikan masukan melalui berita dan opini kritis.

Kedua, pers mesti mengingatkan para wakil rakyat agar menanggalkan baju safari politik kepentingan dan bersinergi bersama semua komponen menyelamatkan rakyat yang terpapar wabah ini maupun yang menjadi korban dampak lanjutan dari kebijakan pemerintah.

Gelombang solidaritas mesti muncul dari lembaga yang menjadi representasi rakyat melalui aksi konkret seperti menghentikan proses pengambilan keputusan yang hanya menegaskan keterasingan wakil dari derita rakyat dan aksi nyata lain, misalnya pemotongan gaji dan tunjangan. Aksi ini mesti muncul dari institusi yang menjadi representasi rakyat, di luar solidaritas pribadi.

Ketiga, media mendorong civil society menggalang solidaritas kemanusiaan melalui aksi nyata: mendonasi kekayaan, betapa pun kecil, untuk menolong para korban, membantu para dokter dan perawat serta semua relawan yang mendonasi diri dan hidup, bahkan melupakan keluarga, untuk menyelamatkan nyawa anak bangsa ini.

Altruisme para dokter, perawat, dan relawan covid-19 harus didukung segenap elemen warga dengan menaati perintah negara.

Keempat, media mesti terus mengingatkan pemerintah dan DPR agar menyiapkan bangsa ini menghadapi “situasi baru” pasca-berlalunya covid-19. Media-media memopulerkan “situasi baru” itu dengan “new normal”. Covid-19 akan berlalu tetapi tidak mudah memulai kembali hidup yang normal. Sebab virus kecil itu telah mengobrak-abrik tatanan hidup sosial.

Meski berjarak fisik, kita tetap bersatu. Pancasila tetap menjadi zat perekat semua elemen. Rakyat mesti diingatkan bahwa jarak sosial (saat ini) urgen menyelamatkan hidup tetapi pembatasan-pembatasan (masa depan) mungkin tetap ada melalui regulasi dan kebijakan di berbagai sektor agar bangsa ini tetap “terjaga” dalam alur ziarah peradaban.

Akhirnya, salah satu advokasi jangka panjang yang meniscayakan peran media adalah membangun kekuatan rakyat mulai dari desa. Peluang ini didukung guliran dana desa dengan angka fantastis. Sebagian besar dana desa itu dimanfaatkan untuk membangun fisik.

Covid-19 mesti membuka perspektif baru dalam pemanfaatan dana desa yaitu dari bangunan fisik menuju pembangunan manusia. Saatnya desa menjadi kekuatan masa depan bangsa dengan akselerasi pembangunan selaras alam dan ramah lingkungan.

Kita bangun pertanian organik didukung aspek lain sebagai lumbung pertahanan ekonomi bangsa. Gerakan ini merupakan investasi masa depan. Inilah salah satu lockdown lokal untuk melawan sebaran wabah global yang menghadirkan kepanikan periodik dalam sejarah peradaban semesta.*