Home Cerpen Perempuan yang Menanti Hujan

Perempuan yang Menanti Hujan

2,201
0
SHARE
Perempuan yang Menanti Hujan

Keterangan Gambar : ilustrasi cerpen, sl/flores pos

 

Cerpen Riko Raden

 

Maria yang sepuh tercenung di pondok ladangnya. Mata tuanya memandang hamparan padi yang ia tanam sebulan lalu. Padi-padi itu mengering lantaran hujan belum tiba pada musimnya.

Kerap ia duduk berlama-lama menanti hujan. Merapalkan doa-doa dari hati yang sedih dan melantunkan nyanyian-nyanyian kerinduan dari mulut yang letih memohon.

Ami tegi tapi toe manga teing, apa sot tegi dami. Neho nia keta mesen sala dami sampe toe teing usang latang ami?  (Kami meminta, tapi tak jua diberi. Begitu besarkah salah kami sampai-sampai tak kau turunkan hujan?).

Doa-doa dari mulutnya selalu disirami air mata, tapi tak jua kunjung tumbuh.

Lain hari, dengan langkah berat, ia berjalan dalam pematangan sawah. Padi-padi itu seperti seorang kekasih yang telah lama terbaring sakit. Menunggu hidup dari setetes air. Tapi tak kunjung datang. Dan Maria yang ringkih bagai pemohon yang gagal. Padi-padi kian mengering di bawah matahari dan di bawah bola matanya.

“Bertahanlah. Dua tiga hari lagi hujan akan turun dan kamu tetap bertumbuh, berbulir, dan memberi kehidupan.” Ia membisik serupa sepasang kekasih yang saling menguatkan. Padi-padi itu berdiri mengering dihantam angin.

Di langit, tiada harapan berjatuhan sebagai hujan. Tapi doa-doa dan nyanyian dari mulutnya membumbung naik tak sudah-sudah.

Ami tegi tapi toe manga teing, apa sot tegi dami. Neho nia keta mesen sala dami sampe toe teing usang latang ami?”

Sesudah itu, dengan langkah gontai, ia seret kakinya kembali ke pondok dan tercenung di sana. Berkali-kali, berulang-ulang. Entah sampai kapan. Tuhan seakan tidur. Sampai-sampai ia tak mendengar doa-doa Maria.

Hampir dua bulan. Maria masih menanti hujan. Sesekali ia mengatup mata dan membayang hujan sekonyong-konyong datang memenuhi pematangan sawahnya. Dan ia duduk sumringah memandangi padi-padinya bergembira bermandikan hujan.

Ia membanyang hujan itu membasahi lahan-lahan kering, memenuhi sungai-sungai yang tak lagi berair, menentramkan jiwa dengan kesejukannya, dan mengeluarkan bau tanah yang sangat dirindukan.

Namun, begitu ia buka mata, yang ia temukan hanyalah padi-padi mengering dihajar sinar matahari.

“Tuhan belum mengabulkan doa-doaku.” Begitu ia menguatkan diri. Setelah itu, ia berjalan terbungkuk-bungkuk ke pematangan dan berbisik-bisik bagai sepasang kekasih yang saling menguatkan, “Bertahanlah. Dua tiga hari lagi hujan akan turun dan kamu tetap bertumbuh, berbulir dan memberi kehidupan.”

Bisa kau bayangkan seorang anak manusia berubah setelah sekian lama menunggu dan merasa doa-doanya tidak dikabulkan? Tengoklah Maria.  

Malam itu, di rumahnya, untuk pertama kali ia menyalahkan Tuhan. Ia menuduh Tuhan tidak mendengarkan doa-doanya, menyalahkan Tuhan telah mengambil nyawa suaminya.

“Kalau saja Kau turunkan hujan, maka aku tak sesusah ini. Suamiku telah Kau ambil dan kini Kau biarkan aku meratap dalam kesusahan seorang diri. Memohon-mohon pun tak sudi Kau dengarkan.” Ia berteriak-teriak seorang diri tengah malam. Hatinya kering seperti padi-padinya. Ia tak sanggup lagi berkata-kata. Dan tiba-tiba ia menangis. Begitu sedih.

Di luar malam jatuh makin gelap, segelap hatinya saat itu. Tuhan sungguh menutup telinga. Ataukah ia belum mengabulkan doa-doaku?     

***

Setelah malam itu, Maria menghabiskan hari-harinya di ladang menemani sawah yagn gersang dan padi-padi yang kering. Ia tidak pernah pulang ke rumah.

Hari-harinya adalah penantian untuk hujan. Ia berharap hujan tiba-tiba datang seperti kesedihan yang ia alami malam itu. Tapi tak pernah sama sekali. Hujan seperti manusia yang tak kenal sedih, tak kenal air mata. Dan ia lelah meratap, memohon-mohon.

Entah apa yang merasukinya, sore hari, setelah dua minggu lamanya di ladang, Maria menyeret kakinya pulang ke rumahnya di kampung. Tubuhnya kian ringkih, kian sepuh. Rambutnya kering tak terurus. Pakaiannya kumal, kotor.

Tingkah Maria mulai aneh. Mondar-mandir tak tentu di halaman rumahnya, menenteng sampah-sampah plastik di jalanan, komat-kamit disusul senyum-senyum dan gelak tawa.

Lebih parah, ketika melihat pepohonan mengering, ia meratap tak sudah-sudah sambil berteriak-teriak tapi kata-katanya tak jelas.  

Orang-orang kampung bingung. Anak-anak takut dan berhamburan. Beberapa di antaranya memilih mengganggu dan melemparinya dengan botol plastik. 

Maria akan menunjuk-nunjuk dengan tangan, mengumpat-umpat, dan anak-anak berhamburan saling tabrak. Mereka tergelak-gelak sambil berlari ke mana saja untuk menghindar kalau-kalau Maria membalas lemparan dengan batu atau apa saja.

Maria bertingkah makin aneh dari hari ke hari. Suatu sore, ia memegang sebilah parang karat yang ia dapat dari gundukan sampah di tepi kali kering.

Beberapa orang kampung yang hendak membuang sampah di tepi kali itu berhamburan ketika Maria datang dari arah berlawanan sambil mengacungkan parang ke udara. 

Maria mengancam-ancam dengan kata-kata tak jelas. Bila ditafsir bisa jadi begini, ”Jangan buang sampah sembarangan. Pergi. Manusia-manusia keparat. Perusak lingkungan. Gara-gara ulahmu, hujan tak pernah kunjung datang. Pergi!!!”  

Orang-orang kampung resah. Anak-anak lebih takut. Bapak-bapak geram. Pertemuan singkat digelar sore itu. Darmanto, Tua Golo1 beruban, memimpin pertemuan itu. 

Orang-orang kampung tumpah ruah memenuhi rumah adat. Anak-anak tak ingin menjauhi orang tuanya. Ibu-ibu duduk di halaman, di atas bebatuan dan tak habis-habis menggerutu tingkah Maria. Di dalam sana, bapak-bapak geram dan begitu serius.

Pertemuan itu memutuskan, Maria harus ditangkap dan dipasung. Orang-orang kampung yang pernah dikejar Maria karena membuang sampah bergegas usai Tua Golo Darmanto menutup pertemuan itu. Di ufuk barat, matahari belum sepenuhnya rubuh.

Hari itu, November hampir usai. Di dalam rumahnya, Maria menyumpah-nyumpah tabiat orang-orang kampung yang merusak lingkungan.

Sementara di luar, orang-orang kampung bergerak pelan-pelan. Tua Golo Darmanto berada di depan, memimpin kelompok itu. Mereka merangsek dan mengepung rumah Maria.

Setelah memperbaiki songke di kepalanya, Tua Golo Darmanto menunjuk beberapa orang untuk mendobrak pintu dan menangkap Maria.

Majulah dua bapak berbadan kekar. Pintu ditendang dengan keras dan orang-orang kampung menyerbu masuk. Maria kaget tetapi tak mampu menampik banyak tangan yang mengerubunginya. 

Ia berteriak-teriak, tapi orang kampung lebih kuat. Orang-orang kampung memegang kaki dan tangannya seperti memegang seekor babi yang hendak dibantai. 

Peralatan pasung yang telah mereka siapkan diatur dan kaki Maria dipasung hari itu juga. Maria berteriak-teriak menyumpah-nyumpah, tapi sia-sia. Suaranya melemah dan air matanya jatuh. 

Saat itu, ia ingat air mata yang sama yang pernah jatuh pada malam ia menyalahkan Tuhan.

Orang-orang kampung meninggalkannya satu demi satu. Anak-anak berlarian tanpa lagi takut.

Maria tak lagi berteriak-teriak. Ia menunduk seperti menyembah pasung itu. Air matanya telah kering. Suaranya lebih parau. “Tuhan menutup telinga untuk doa-doaku.” Ia menangis, tapi mata itu kehabisan air.

Di luar malam jatuh, begitu gelap disusul rintik-rintik hujan, semakin menggemuruh, membesar, menderu-deru mengahajar atap-atap rumah. Dan Maria masih tunduk menyembah pasung.  

 

1Tua golo: kepala suku (dalam budaya Manggarai).


Riko Raden, mahasiswa STFK Ledalero. Riko tinggal di Wisma Rafael, Ledalero, Maumere.

 

Redaksi menerima puisi dan cerpen bertema bebas. Panjang naskah cerpen 800-1.200 kata dan 3-5 puisi. Kirim ke email:sastraflorespos@gmail.com dengan subjek: PUISI dan CERPEN. Sertakan dengan biodata diri secara singkat dan jelas